Bukan Diakronik, Ini Ciri Cara Berpikir Sinkronik dalam Sejarah yang Sering Salah Dipahami

Smallest Font
Largest Font

Mengetahui hal berikut ini yang merupakan ciri cara berpikir sinkronik adalah langkah awal paling krusial bagi Anda yang ingin membedah peristiwa masa lalu secara mendalam dan berstruktur. Banyak orang keliru mencampuradukkan metode ini dengan diakronik, padahal keduanya memiliki arah pisau analisis yang sepenuhnya berbeda lho.

Saya sering melihat siswa atau peminat sejarah terjebak dalam urutan kronologi waktu yang panjang saat diminta menganalisis sebuah fenomena secara sinkronik. Padahal, esensi utama dari metode sinkronik justru bukan terletak pada rangkaian tahun yang berderet panjang, melainkan pada seberapa lebar kita mampu melihat suatu peristiwa pada satu titik waktu tetap.

Secara etimologi, istilah sinkronik ini sebenarnya lahir dari warisan bahasa Yunani purba, yaitu dari kata "syn" yang berarti dengan, serta "chronos" yang memiliki arti waktu. Ketika dua kata ini dilebur menjadi satu metode berpikir, fokus kita dipaksa untuk berhenti pada satu momentum, lalu meluaskan pandangan ke samping guna melihat segala hal yang memengaruhi momentum tersebut.

Perbedaan Antara Diakronik dan Sinkronik | Ruangguru Bimbel Terbesar No. 1 di Indonesia!

Meluas dalam Ruang Membedah Struktur Waktu Tertentu

Ciri paling menonjol yang menjadi pembeda utama dari cara berpikir sinkronik adalah sifatnya yang mementingkan penggambaran ruang secara lebih luas, namun tidak terlalu fokus pada dimensi waktu yang bergerak maju. Saya melihat pendekatan ini mirip seperti mengambil foto snapshot dari sebuah peristiwa, lalu kita memperbesar detail setiap sudut foto tersebut untuk memahami situasi yang terjadi.

Ketika menerapkan metode sinkronik, analisis dibedah secara runtut pada setiap aspek yang bisa berhubungan dengan kejadian masa lalu secara mendalam. Anda tidak sedang melacak bagaimana peristiwa A berubah menjadi peristiwa B dalam kurun waktu sepuluh tahun, melainkan melihat bagaimana ekonomi, politik, sosial, dan budaya saling berkelindan pada saat peristiwa A itu meletus.

Fokus pada Struktur dalam Suatu Masa yang Terbatas

Dalam tulisan yang dilansir dari Gramedia, metode berpikir yang menganalisis masa lalu ini didasarkan pada analisis runtut dan melebar dalam aspek yang berhubungan dengan kejadian masa lalu. Hal ini membuat cara berpikir sinkronik selalu berfokus pada struktur dalam suatu masa yang terbatas, sehingga pembahasan tidak meluber ke era-era setelahnya.

Pendekatan terstruktur ini membuat kita mampu melihat hubungan sebab-akibat yang sifatnya horizontal pada titik tetap di waktunya. Kita meneliti anatomi sebuah peristiwa secara utuh pada momen tersebut tanpa membuat kesimpulan tentang perkembangan yang berkontribusi pada kondisi saat ini.

Menekankan Analisis pada Saat Tertentu

Berdasarkan informasi yang dipublikasikan oleh CNN Indonesia, ciri sinkronik yang sangat khas adalah menekankan analisis sesuatu pada saat tertentu. Jadi, batasan waktu yang sempit justru menjadi kekuatan utama karena peneliti bisa mengalokasikan seluruh energinya untuk menggali data sedalam mungkin pada satu waktu tersebut. Bisa diartikan juga bahwa metode ini sebagai metode pengembangan kejadian yang terjadi pada masa lalu melalui eksplorasi sektoral.

Kita bisa membedah kondisi masyarakat, kebijakan pemerintah, hingga kondisi psikologis massa pada hari atau bulan terjadinya peristiwa tersebut secara mendetail. Meskipun metode sinkronik sangat kaya akan data struktural, menurut saya pendekatan ini tetap memiliki kekurangan yang cukup mengganggu jika tidak dikombinasikan dengan metode lain. Kekurangan utamanya adalah sifatnya yang ahistoris atau kehilangan dinamika gerak waktu, sehingga membuat peristiwa tampak seperti benda mati di dalam etalase kaca.

Karena tidak terlalu fokus pada dimensi waktu, Anda tidak akan mendapatkan gambaran mengenai proses evolusi atau perubahan dari waktu ke waktu. Pendekatan ini gagal menjelaskan mengapa suatu masyarakat bisa sampai pada titik tersebut, karena ia hanya merekam kondisi saat lampu kilat kamera dinyalakan.

Saya menilai bahwa mengagungkan cara berpikir sinkronik secara tunggal tanpa menyentuh aspek kronologis akan membuat pemahaman sejarah kita menjadi pincang dan kehilangan konteks perkembangannya.

Untuk membantu Anda memetakan perbedaan karakteristik berpikir dalam ilmu sejarah secara lebih mudah, saya sudah menyusun data perbandingan berdasarkan panduan dari CNN Indonesia dan Gramedia.

Perbandingan Karakteristik Berpikir Sinkronik dan Diakronik dalam Ilmu Sejarah
Parameter AnalisisCara Berpikir SinkronikCara Berpikir Diakronik
Dimensi UtamaMeluas dalam ruangMemanjang dalam waktu
Fokus BahasanStruktur dan sistemKronologi dan proses
Cakupan WaktuSangat terbatasSangat panjang
Sifat AnalisisMendalam dan horizontalTerus bergerak dan vertikal

Implementasi Nyata Berpikir Sinkronik dalam Peristiwa Besar

Untuk memahami bagaimana cara kerja sinkronik secara nyata, kita bisa mengambil contoh peristiwa besar yang pernah melanda dunia global secara masif. Kita tahu bersama bahwa pandemi Covid-19 berlangsung sekitar dua tahun dan mulai mereda di berbagai belahan dunia.

Jika kita menggunakan cara berpikir sinkronik untuk menganalisis era pandemi Covid-19 tersebut, maka kita tidak akan fokus pada grafik naik-turun kasus dari bulan ke bulan selama dua tahun penuh. Sebaliknya, kita akan mematok satu waktu tetap, misalnya pada puncak gelombang pertama pandemi.

Pada titik waktu yang terbatas itulah, analisis kita akan mulai melebar ke berbagai aspek secara runtut di dalam ruang yang luas, seperti:

  • Aspek ekonomi: melihat bagaimana kelangkaan masker memicu lonjakan harga dan penimbunan barang di pasar lokal.
  • Aspek sosial: menganalisis perubahan perilaku masyarakat yang mendadak harus menjaga jarak fisik dan bekerja dari rumah.
  • Aspek teknologi: membedah kesiapan infrastruktur digital dalam menopang sistem pendidikan yang berubah total menjadi daring.

Melalui cara ini, kita mendapatkan gambaran struktur sosial yang sangat kaya dan utuh pada masa pandemi tersebut. Menariknya, jika kita menengok catatan sejarah masa lalu, pandemi mematikan yang pernah terjadi menewaskan ratusan juta korban jiwa, dan durasinya bisa lebih lama dari Covid-19.

Dengan menerapkan cara berpikir sinkronik pada pandemi masa lalu tersebut, kita bisa membandingkan bagaimana struktur kesiapan medis dan mental masyarakat zaman dahulu ketika menghadapi krisis tanpa alat komunikasi modern. Pendekatan spasial atau peluasan ruang inilah yang membuat ilmu sejarah menjadi sangat multidimensional dan menarik untuk dipelajari.

Memilih pendekatan sinkronik berarti Anda siap mengorbankan narasi garis waktu yang panjang demi mendapatkan kedalaman analisis struktural yang tiada tandingannya. Penggunaan metode ini secara tepat akan menghasilkan rekonstruksi sejarah yang tidak hanya sekadar cerita pengantar tidur, melainkan sebuah analisis ilmiah yang tajam dan berbobot.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow