Ciri Zaman Mesolitikum yang Mengubah Cara Hidup Manusia Purba

Smallest Font
Largest Font

Ciri zaman Mesolitikum menandai fase krusial dalam sejarah peradaban manusia ketika pola hidup berpindah total dari masa berburu liar ke arah yang lebih menetap. Sebagai seorang peninjau sejarah, saya melihat periode batu tengah ini sering kali dipandang sebelah mata dibandingkan masa Neolitikum yang revolusioner. Padahal, tanpa inovasi di masa transisi ini, lompatan budaya manusia tidak akan pernah terjadi.

Istilah Mesolitikum sendiri pertama kali diperkenalkan oleh John Lubbock pada tahun 1865 dalam makalahnya yang berjudul Zaman Prasejarah atau Pre-historic Times. Nama ini kemudian dipopulerkan lebih lanjut oleh V. Gordon Childe melalui bukunya The Dawn of Europe pada tahun 1947.

Merujuk pada catatan sejarah, masa ini berlangsung sekitar 10.000 tahun yang lalu. Menurut analisis saya, efisiensi bertahan hidup meningkat tajam pada periode ini karena didukung oleh perkembangan biologis manusia yang telah berevolusi.

Arfan Diansyah dkk selaku penulis buku Prasejarah Indonesia menyatakan bahwa zaman Mesolitikum disebut juga zaman batu tengah, di mana manusia purba telah berkembang ke arah yang lebih modern, yaitu Homo sapiens. Perkembangan berjalan lebih cepat karena manusia sudah lebih cerdas dan alam tidak seliar zaman Paleolitikum.

Corak Hunian Separuh Menetap yang Menjadi Ciri Zaman Mesolitikum

Berbeda dengan manusia purba zaman batu tua yang berpindah tempat setiap minggu, manusia Homo sapiens di zaman batu tengah mulai menunjukkan tanda-tanda menetap. Pola hunian ini dikenal dengan istilah semi-sedenter, di mana gua-gua alam menjadi rumah sementara mereka.

Fenomena Kebudayaan Abris Sous Roche

Ciri zaman Mesolitikum yang paling kentara dalam hal papan adalah pemanfaatan Abris Sous Roche. Ini adalah istilah untuk gua-gua alam yang dijadikan tempat tinggal oleh manusia purba sebagai tempat perlindungan dari cuaca dan serangan hewan buas.

Di Indonesia sendiri, jejak kebudayaan ini direkam dengan sangat baik oleh para peneliti terdahulu. Antara tahun 1928 hingga 1931, seorang peneliti bernama Von Stein Callenfels membawa kebudayaan Abris Sous Roche ini ke permukaan setelah melakukan penelitian mendalam di Goa Lawa dekat Sampung, Ponorogo.

Dari riset tersebut, ditemukan banyak peninggalan perkakas dari tulang yang kemudian dikenal luas sebagai Kebudayaan Tulang Sampung atau Sampung Bone Culture. Kelemahan dari model hunian gua ini tentu saja adalah ketergantungan pada formasi geologis alami, sehingga distribusi manusianya tidak merata dan hanya mengelompok di wilayah tertentu saja.

Masa Praaksara Masa Paleolitikum dan Mesolitikum | Omet Rasyidi (GURU SEJARAH)

Sisa Dapur Raksasa Kjokkenmoddinger di Pesisir Pantai

Selain tinggal di gua, ciri zaman Mesolitikum lainnya adalah ketergantungan masyarakatnya pada hasil laut. Hal ini dibuktikan dengan penemuan fenomena arkeologi luar biasa yang disebut kjokkenmoddinger, yang secara harfiah berarti sampah dapur.

Sampah dapur ini bukan sekadar tumpukan kecil, melainkan bukit kerang dan siput yang membatu selama ribuan tahun. Menurut data arkeologis, tumpukan sampah dapur berupa kulit siput dan kerang atau bekicot ini ditemukan di sepanjang pesisir pantai timur Pulau Sumatera dengan ukuran tinggi mencapai 7 meter.

Dr. P. V. van Stein Callenfels juga menjadi sosok penting yang meneliti peninggalan kjokkenmoddinger di sepanjang garis pantai timur Sumatera tersebut. Keberadaan fosil setinggi rumah dua lantai ini membuktikan bahwa manusia purba saat itu menetap dalam waktu yang sangat lama di satu lokasi pantai sebelum akhirnya berpindah ketika sumber daya mulai menipis.

Melihat perkakas dari zaman ini, saya harus bersikap kritis terhadap kualitas buatannya. Dibandingkan dengan zaman batu tua yang sangat kasar, alat batu Mesolitikum memang mengalami kemajuan, namun pengerjaannya masih setengah matang dan belum sehalus zaman Neolitikum.

Manusia purba pada masa ini menggunakan kapak genggam yang telah dipangkas salah satu sisinya agar lebih tajam. Salah satu temuan ikonik dari Dr. P. V. van Stein Callenfels di situs sampah dapur Sumatera adalah kapak pendek atau hache courte.

Untuk memberikan gambaran yang lebih terstruktur mengenai peninggalan dan sebaran wilayah kebudayaan batu tengah ini, berikut adalah tabel data yang berhasil dihimpun dari berbagai ekskavasi arkeologis di Indonesia.

Data Peneliti dan Persebaran Situs Peninggalan Mesolitikum di Indonesia
Nama Tokoh PenelitiTahun PenelitianJenis Peninggalan UtamaLokasi Persebaran di Indonesia
John Lubbock1865Istilah Mesolitikum pertama kali
Von Stein Callenfels1928–1931Kebudayaan Abris Sous RocheGoa Lawa, Sampung, Ponorogo
V. Gordon Childe1947Istilah Mesolitikum populer
Dr. P. V. van Stein CallenfelsKjokkenmoddinger & Kapak PendekPantai Timur Sumatera, Langsa, Medan
Lukisan Dinding Goa & Alat SerpihSulawesi Selatan, Lamancong, Goa Leang-Leang
Alat Tulang dan Batu MadyaFlores, Pulau Timor, Rote, Kalimantan Barat

Jika melihat data di atas, terlihat jelas bahwa kebudayaan ini tidak berpusat di satu pulau saja. Dari ujung barat Sumatera hingga wilayah Nusa Tenggara seperti Flores dan Timor, corak peninggalannya memiliki kemiripan yang kuat.

Sisi Kurang dari Peradaban Ciri Zaman Mesolitikum

Meskipun Vedra Octa Samira dkk selaku pengarang buku Sejarah Indonesia dan Dunia menyebutkan lima ciri-ciri kehidupan di zaman Mesolitikum yang menunjukkan kemajuan, kita tetap harus melihat sisi kekurangannya secara objektif. Kehidupan mereka belum sepenuhnya mandiri.

Kekurangan terbesar dari kebudayaan Mesolitikum adalah ketidakmampuan mereka dalam memproduksi makanan sendiri secara massal atau food producing. Mereka memang mulai bercocok tanam dalam skala yang sangat primitif di sekitar gua, tetapi roda ekonomi dan pemenuhan nutrisi harian mereka masih bergantung penuh pada teknik berburu hewan dan mengumpulkan kerang.

Sistem sosial mereka juga masih sangat rentan. Ketika kondisi alam berubah drastis atau terjadi bencana, pola semi-sedenter ini langsung hancur, memaksa mereka kembali menjadi nomaden sepenuhnya seperti manusia purba zaman Paleolitikum.

Meski begitu, kemampuan berpikir Homo sapiens yang lebih cerdas membuat mereka mampu melahirkan bentuk kesenian pertama di Nusantara. Corak ini terlihat dari penemuan lukisan tangan berwarna merah di dinding-dinding gua, seperti yang dapat ditemukan di Goa Pettae dan Goa Leang-Leang, Sulawesi Selatan.

Secara keseluruhan, ciri zaman Mesolitikum merepresentasikan sebuah lompatan teknologi dan budaya yang tanggung, namun menjadi fondasi utama bagi manusia purba untuk mengenal konsep rumah dan menetap. Tanpa adanya fase menetap di gua dan penumpukan sampah dapur di pantai Sumatera, manusia modern tidak akan pernah belajar cara mengolah tanah secara intensif pada zaman-zaman setelahnya.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed