Benarkah Manusia Purba Dulu Hidup Nomaden? Ini Fakta Mengejutkan Masa Bercocok Tanam

Smallest Font
Largest Font

Bagaimana cara manusia purba bertahan hidup ketika pasokan alam mulai menipis? Pertanyaan seperti "como cara manusia purba bertahan hidup?" atau "like apa kehidupan manusia purba masa bercocok tanam?" sering kali muncul saat kita mempelajari sejarah prasejarah. Jawabannya terletak pada sebuah masa revolusi kebudayaan yang besar.

Masa bercocok tanam menjadi titik balik krusial dalam sejarah peradaban manusia. Pada periode ini, pola hidup berburu dan meramu yang bergantung penuh pada alam mulai ditinggalkan secara bertahap.

Artikel ini akan mengulas secara mendalam mengenai ciri ciri masa bercocok tanam. Mulai dari sistem sosial, pembagian kerja, teknologi alat yang digunakan, hingga transformasi kepercayaan yang berkembang pada zaman tersebut.

Masa bercocok tanam diperkirakan berlangsung sekitar 9.000 hingga 10.000 tahun yang lalu, tepatnya sejak zaman Neolitikum. Periode ini memicu perubahan yang sangat masif dalam kebudayaan manusia purba.

Berdasarkan Buku Sejarah oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pada zaman Neolitikum terjadi perubahan besar dalam pola kehidupan masyarakat purba, khususnya cara memenuhi kebutuhan hidup dari berburu atau meramu menjadi menghasilkan makanan (food producing).

Masa bercocok tanam sering disebut sebagai masa revolusi kebudayaan karena terjadi perubahan besar pada berbagai corak kehidupan masyarakat praaksara.

Pernyataan di atas disampaikan oleh Rina Kastori, seorang Guru SMP Negeri 7 Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Perubahan ini tidak hanya mencakup cara mencari makan, tetapi juga mengubah total sistem pemukiman mereka yang semula berpindah-pindah (nomaden) menjadi menetap (sedenter).

Ciri Ciri Masa Bercocok Tanam dari Berbagai Aspek Kehidupan

Menurut Irma Samrotul Fuadah, Penyusun Modul Sejarah Kelas X Tahun 2020, ciri-ciri masyarakat pada masa bercocok tanam terdiri dari sistem kepercayaan, kehidupan sosial, budaya yang dihasilkan, sistem ekonomi yang digunakan, dan teknologi yang tersedia.

Untuk memahami karakteristik tersebut secara runtut, kita bisa mempelajari rekam jejak yang ditinggalkan oleh masyarakat prasejarah tersebut. Berdasarkan Modul Rekam Jejak Peradaban Indonesia (2017), beberapa ciri yang dapat dipelajari dari masyarakat praaksara adalah fosil manusia, alat-alat kehidupan, fosil tumbuhan, dan fosil hewan.

Berikut adalah langkah demi langkah untuk mengenali corak kehidupan dan karakteristik utama dari masa bercocok tanam:

1. Jenis Manusia Pendukung dan Pola Hunian

Langkah pertama dalam memahami era ini adalah mengidentifikasi siapa yang hidup di masa tersebut. Jenis manusia pendukung atau ras pada masa ini adalah Proto Melayu.

Ras ini merupakan nenek moyang dari beberapa suku di Indonesia, di antaranya suku Dayak, Toraja, Nias, dan Sasak. Kehadiran asal usul suku proto melayu di indonesia ini membawa corak baru berupa hunian yang menetap secara berkelompok di dekat sumber air atau lahan pertanian.

2. Domestikasi Flora dan Fauna

Langkah berikutnya adalah melihat bagaimana mereka memproduksi makanan sendiri. Masyarakat mulai menanam berbagai jenis tanaman pangan untuk mencukupi kebutuhan komunal.

Tanaman pangan yang mulai diolah dan ditanam antara lain padi, jagung, ubi, dan singkong. Selain bercocok tanam, mereka juga mulai menjinakkan hewan liar untuk dipelihara.

Binatang yang diduga pertama kali diternakkan adalah anjing (sebagai teman berburu) dan babi (untuk dikonsumsi). Langkah domestikasi ini memastikan pasokan protein dan karbohidrat mereka tetap terjaga tanpa harus menjelajah hutan setiap hari.

Masa Bercocok Tanam dan Berternak - Kehidupan Manusia di Nusantara pada Masa Pra Sejarah | KKN UGM JABAR

3. Pola Pembagian Kerja yang Teratur

Dalam kasus yang sering saya temui dalam literatur sejarah, terbentuknya komunitas menetap pasti diiringi dengan aturan sosial. Hida Mujahida Basori, Penulis Jurnal Masyarakat Praaksara Indonesia, memaparkan ciri-ciri masyarakat bercocok tanam, termasuk kepemilikan pola pembagian kerja, kemampuan mengawetkan makanan, keterampilan menenun, sistem dagang barter, penggunaan perhiasan batu, dan penguasaan astronomi.

Sistem sosial ini melahirkan konsep pembagian kerja laki laki dan perempuan purba yang sangat fungsional. Berikut adalah rincian pembagian peran yang terjadi saat itu:

  • Peran Laki-laki: Bertanggung jawab penuh pada pekerjaan fisik yang berat, seperti membuka lahan hutan, membangun rumah tempat tinggal, menyiapkan lahan pertanian, dan sesekali berburu binatang besar.
  • Peran Perempuan: Fokus pada pengelolaan hasil panen, merawat tanaman, mengasuh anak, menenun pakaian, membuat gerabah, serta memelihara hewan ternak di sekitar hunian.

Kesalahan umum yang saya lihat adalah anggapan bahwa peran perempuan lebih rendah pada masa itu. Faktanya, pembagian kerja ini didasarkan pada efisiensi bertahan hidup, di mana peran perempuan sangat krusial dalam menjaga stabilitas pangan di dalam desa.

Sistem Kepercayaan Zaman Neolitikum

Seiring dengan pola hidup menetap, kesadaran spiritual masyarakat purba juga mengalami perkembangan yang sangat pesat. Mereka mulai memikirkan kekuatan di luar kendali manusia, terutama yang berkaitan dengan kesuburan tanaman dan keselamatan desa.

Masyarakat pada masa ini mulai menganut sistem kepercayaan animisme dan dinamisme. Jika ada yang meminta untuk "jelaskan kepercayaan animisme dan dinamisme zaman dulu", maka esensinya terletak pada penghormatan terhadap roh dan benda.

Animisme adalah kepercayaan bahwa setiap benda di alam—seperti pohon, batu, dan sungai—memiliki roh atau jiwa yang harus dihormati. Sementara dinamisme adalah keyakinan bahwa benda-benda tertentu memiliki kekuatan gaib yang dapat memberikan pengaruh baik atau buruk bagi manusia.

Kepercayaan purba ini bukanlah sesuatu yang hilang sepenuhnya ditelan zaman. Suku Dayak di Kalimantan hingga saat ini masih mempraktikkan ritual keagamaan secara animisme dan dinamisme yang merujuk pada kepercayaan terhadap roh nenek moyang, sebagaimana dicatat dalam literatur sejarah nasional.

Teknologi dan Alat Kebudayaan yang Dihasilkan

Peralihan kebiasaan hidup tentu menuntut adaptasi peralatan kerja. Alat yang digunakan pada masa bercocok tanam apa saja? Peralatan pada ciri ciri zaman neolitikum ini umumnya sudah diasah hingga halus dan memiliki fungsi yang spesifik untuk bertani.

Berikut adalah tabel ringsan mengenai aspek-aspek utama kebudayaan dan teknologi yang berkembang selama masa bercocok tanam untuk memberikan gambaran yang terstruktur:

Karakteristik Kebudayaan dan Sistem Masyarakat Masa Bercocok Tanam
Aspek KehidupanKarakteristik UtamaDetail Tambahan
Sistem EkonomiBarterPerdagangan tukar menukar barang antardesa
Jenis TanamanPadi, jagung, ubi, singkongTanaman pangan pokok yang diolah mandiri
Hewan TernakAnjing dan babiHewan pertama yang didomestikasi
Sistem KepercayaanAnimisme dan DinamismePemujaan roh nenek moyang dan benda sakral
Teknologi AlatBeliung persegi dan kapak lonjongAlat batu yang sudah dihaluskan secara rapi
Keterampilan PraktisMenenun dan pembuatan gerabahKemampuan membuat pakaian dan wadah makanan

Penggunaan alat batu yang halus seperti beliung persegi dan kapak lonjong membuktikan bahwa penguasaan teknologi mereka telah meningkat tajam dibandingkan zaman batu tua. Alat-alat tersebut sangat membantu dalam proses pembukaan lahan pertanian baru.

Kemampuan menguasai astronomi juga menjadi ciri khas penting lainnya. Pengetahuan tentang rasi bintang digunakan secara praktis sebagai kalender alam untuk menentukan kapan waktu yang tepat untuk mulai menanam benih dan kapan waktu yang tepat untuk memanen hasil bumi.

Melalui seluruh perkembangan ini, kita dapat melihat bahwa masa bercocok tanam bukan sekadar perihal menanam padi di tanah. Periode ini merupakan fondasi awal terbentuknya tatanan sosial, pembagian kerja yang adil, sistem barter, teknologi perkakas, hingga sistem religi terstruktur yang sebagian nilai-nilainya masih dipertahankan oleh suku-suku pedalaman di Indonesia hingga era modern saat ini.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow