Zaman Praaksara di Indonesia Mengapa Manusia Purba Memilih Hidup Nomaden

Smallest Font
Largest Font

Memahami bagaimana kehidupan manusia purba bertahan hidup di tengah alam liar nusantara sering kali memunculkan banyak pertanyaan mendasar bagi kita yang hidup di era modern. Pertanyaan seperti "kenapa manusia purba hidup berpindah pindah" atau "bagaimana cara manusia purba mencari makan" menjadi gambaran awal untuk menguak misteri masa lalu.

Pada dasarnya, corak kehidupan zaman praaksara di indonesia sangat bergantung pada apa yang disediakan oleh alam sekitar mereka. Karakteristik utama dari pola hidup paling awal ini berpusat pada pemenuhan kebutuhan biologis yang paling mendasar, yaitu makanan.

Masa praaksara atau masa prasejarah sendiri merupakan sebuah periodisasi lini masa di mana manusia belum mengenal atau belum ditemukannya tulisan secara formal. Tulisan mengenai sejarah ini merujuk pada catatan tertulis yang ditinggalkan oleh peradaban manusia kuno.

Masyarakat purba yang hidup pada masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat awal memiliki ketergantungan yang mutlak terhadap lingkungan. Ketika pasokan makanan di satu wilayah habis, mereka tidak punya pilihan lain selain angkat kaki.

Dalam kasus yang sering saya temui saat mengkaji literatur sejarah, banyak orang keliru mengira manusia purba sudah mengenal teknik bercocok tanam sejak awal. Padahal, evolusi kemampuan agraris mereka berkembang secara bertahap mulai dari berkebun, berladang atau berhuma, hingga akhirnya memiliki kemampuan bertani atau bersawah di masa yang jauh lebih maju.

Berikut adalah ciri ciri masa berburu dan meramu tingkat awal yang membedakannya dengan masa-masa setelahnya:

  • Ketergantungan penuh pada ketersediaan makanan di alam (food gathering).
  • Belum memiliki tempat tinggal tetap karena terus berpindah mengikuti migrasi hewan buruan.
  • Kelompok sosial dalam jumlah kecil untuk memudahkan mobilisasi dan koordinasi saat berburu.
  • Alat-alat penunjang hidup yang masih sangat kasar, sederhana, dan belum diasah secara halus.

Pola hidup berpindah-pindah tempat inilah yang memunculkan istilah khusus dalam antropologi. Jadi, sebenarnya "apa itu nomaden" dalam konteks sejarah nusantara? Nomaden adalah pola perilaku berpindah tempat dari satu wilayah ke wilayah lain demi mendapatkan sumber makanan baru.

Faktor Penyebab Pola Hidup Berpindah Tempat

Sifat berpindah-pindah atau nomaden ini bukanlah tanpa alasan yang matang. Berdasarkan analisis arkeologis, pergerakan kelompok manusia purba dipengaruhi oleh pergerakan kawanan hewan peliharaan liar dan musiman alam.

Dari pengalaman saya menangani studi rekonstruksi sejarah, kesalahan umum yang saya lihat adalah anggapan bahwa manusia purba bermigrasi secara acak tanpa arah tujuan yang jelas. Kenyataannya, mereka bergerak mengikuti rute air, daerah subur, serta migrasi kawanan mamalia besar.

Widianto dalam buku Alat-alat Batu Pacitan: Mobilitas Budaya Prasejarah menjelaskan bahwa pada masa berburu, manusia mengandalkan binatang hasil buruan untuk bertahan hidup. Ketika hewan buruan di satu wilayah mulai menipis, insting pertahanan hidup memaksa mereka mencari wilayah baru yang lebih potensial.

Corak Kehidupan dan Hasil Kebudayaan Masa Pra Aksara | Historical Study

Alat Peninggalan Zaman Batu Tua di Indonesia

Untuk menunjang aktivitas berburu, manusia purba memproduksi berbagai perkakas dari batu, kayu, dan tulang hewan. Perkakas ini diklasifikasikan ke dalam kebudayaan zaman batu tua atau Paleolitikum.

Kebudayaan paleolitik ini diyakini berkembang pada Kala Pleistosen, yakni sekitar 12.000 tahun yang lalu, ketika manusia purba sudah tersebar di berbagai tempat di dunia. Di Indonesia, peninggalan ini banyak ditemukan di wilayah Pacitan dan Ngandong.

Berikut adalah beberapa jenis alat peninggalan zaman batu tua yang berhasil diidentifikasi oleh para arkeolog di Indonesia:

Kapak Perimbas (Chopper)

Alat batu ini tidak memiliki tangkai dan digunakan dengan cara digenggam langsung oleh tangan. Kapak perimbas berfungsi untuk merimbas kayu, memahat tulang, atau sebagai senjata proteksi diri saat berburu.

Kapak Genggam (Hand Axe)

Kapak genggam memiliki bentuk yang mirip dengan kapak perimbas namun sudah sedikit dipangkas pada kedua sisinya untuk mendapatkan tajaman. Alat ini sangat multifungsi, mulai dari menguliti binatang buruan hingga menggali umbi-umbian.

Alat Serpih (Flakes)

Flakes merupakan pecahan-pecahan batu kecil sisa pembuatan kapak genggam yang ternyata dimanfaatkan kembali. Bagian tajam dari serpihan batu ini digunakan sebagai pisau, gurdi, atau alat penusuk sederhana.

Klasifikasi Fosil Hewan Buruan Manusia Purba

Corak kehidupan dengan cara berburu ini tentu sangat berkaitan dengan jenis fauna yang hidup pada masa tersebut. Keberadaan fosil hewan menjadi petunjuk penting mengenai jenis buruan utama manusia purba.

Sebagian besar fosil hewan purba di Indonesia ditemukan di pulau Jawa. Berdasarkan data arkeologi resmi yang dihimpun dari laporan geografi purba, temuan ini digolongkan menjadi tiga kelompok fauna utama.

Pembagian Kelompok Fosil Fauna Kala Pleistosen di Pulau Jawa
Kelompok FaunaLokasi Temuan UtamaKarakteristik Lingkungan
Fauna JetisPegunungan Kendeng, Sangiran, MojokertoPleistosen Awal
Fauna TrinilTrinil (Ngawi), SangiranPleistosen Tengah
Fauna NgandongNgandong (Blora)Pleistosen Akhir

Hewan-hewan dari ketiga kelompok inilah yang menjadi target buruan utama manusia purba jenis Meganthropus, Pithecanthropus, hingga Homo Sapiens awal untuk bertahan hidup di pulau Jawa.

Sistem Kepercayaan Awal Masyarakat Praaksara

Meskipun hidup dalam kondisi yang serba terbatas dan berpindah-pindah, benih-benih spiritualitas sudah mulai tumbuh pada masyarakat praaksara. Hal ini muncul dari kesadaran mereka terhadap kekuatan besar di luar kendali manusia.

Sistem kepercayaan masa praaksara berkembang secara bertahap seiring berkembangnya pola pikir mereka. Di kalangan pelajar, sering kali muncul pertanyaan mengenai "beda animisme dan dinamisme" dalam fase awal perkembangan spiritual manusia.

Animisme merupakan sebuah bentuk kepercayaan memuja makhluk halus atau roh nenek moyang yang dianggap bersemayam di tempat-tempat tertentu. Sementara dinamisme adalah kepercayaan bahwa benda-benda tertentu memiliki kekuatan gaib yang dapat memengaruhi keberhasilan atau kegagalan hidup manusia, termasuk dalam urusan berburu.

Evolusi Pola Hunian Menuju Masa Depan

Perkembangan corak kehidupan masyarakat purba nusantara pada akhirnya terus mengalami dinamika perubahan yang signifikan dari masa ke masa. Proses transisi ini berjalan lambat selama ribuan tahun.

Pola hidup berlangsung dari yang paling sederhana, yaitu berpindah-pindah dan mengumpulkan makanan (food gathering), hingga tingkat maju seperti menetap di rumah, menghasilkan makanan sendiri (food producing), dan membuat alat dari logam. Perubahan ini menandai berakhirnya masa berburu murni.

Pola hunian gua (semi-sedenter) menjadi jembatan transisi sebelum akhirnya manusia purba benar-benar membangun perkampungan tetap. Penemuan api dan teknik mengasah batu menjadi pendorong utama yang mengubah peradaban berburu sederhana menjadi masyarakat agraris yang terorganisasi dengan baik.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow