Kisah Hanifa Lathfi, Mahasiswa FK Unair Stase Bedah Saraf di Slovakia

Smallest Font
Largest Font

Pengalaman unik dilalui mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair), Hanifa Lathfi Amali. Lathfi, panggilan akrabnya, berkesempatan mengikuti program pertukaran pelajar ke Slovakia.

Sesuai dengan program studinya, Lathfi berkesempatan mengikuti stase—belajar langsung menangani pasien di bawah bimbingan dokter spesialis—bedah saraf di Kramáre Hospital, Bratislava, Slovakia, lewat wadah SCOPE IFMSA. Tak sendiri, program ini diketahui diikuti lima delegasi dari Indonesia.

Menyaksikan Teknologi Medis Mutakhir di Ruang Operasi

Lathfi membagikan berbagai kegiatannya saat menjalani stase di Kramáre Hospital. Ia menjelaskan bahwa setiap pagi, kegiatan akan dimulai dengan morning round.

Morning round merupakan sesi diskusi bersama dokter spesialis bedah saraf sebelum bersiap masuk ke ruang operasi. Setiap kegiatan di ruang operasi dilakukan berdasarkan protokol sterilisasi terstandar World Health Organization (WHO).

"Di morning round, kami berdiskusi mengenai hasil operasi sebelumnya dan merencanakan tindakan yang akan dilakukan hari itu, termasuk teknik pembedahan yang akan digunakan," jelas Lathfi dikutip dari laman resmi Unair, Jumat (7/8/2026).

Di ruang operasi, Lathfi bisa melihat langsung wujud anatomis yang selama ini hanya dilihatnya di buku saja. Kesempatan ini juga membuatnya belajar terkait penerapan teknologi medis yang mutakhir, seperti mikroskop bedah dengan fitur fluoresensi hingga pemetaan lokasi tumor menggunakan USG berbasis Artificial Intelligence (AI). Setiap pengalaman di ruang operasi sangat menarik minatnya.

Salah satu yang paling berkesan adalah pengalaman operasi pengambilan tumor di otak tanpa bedah kepala. Ia menyaksikan prosedurnya secara langsung dari dekat.

"Ada satu momen yang sangat berkesan, yaitu tindakan transsphenoidal pituitary adenoma resection. Dokter mengambil tumor di otak itu lewat tulang sphenoid di dalam hidung, jadi tidak perlu membuka kepala pasien. Selain itu, ada juga teknik menjahit selaput otak menggunakan lapisan tulang tengkorak. Itu sangat keren!" ungkapnya.

Prosedur Seleksi dan Tantangan Bahasa

Ada beberapa tahapan yang dilalui Lathfi hingga akhirnya terpilih dan berangkat ke Slovakia. Tahapan yang dimaksud mulai dari tes bahasa Inggris hingga wawancara seleksi.

"Pihak kampus dan organisasi sangat mendukung program ini, sekaligus mewajibkan kami melakukan persiapan matang seperti wajib memiliki asuransi dan menyimpan kontak darurat internasional untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan," paparnya.

Belajar di negara dengan bahasa yang berbeda tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Lathfi. Ia memang mudah berkomunikasi dengan dokter spesialis lantaran fasih berbahasa Inggris, tetapi tidak demikian halnya dengan para perawat senior.

Slovakia memiliki bahasa resmi yakni bahasa Slovak yang kurang dipahami oleh Lathfi. Untuk mengatasi hambatan tersebut, ia kerap menggunakan gestur tubuh agar bisa berkomunikasi. Salah satu momen lucu yang paling diingatnya terjadi saat ia mencoba meminta baju scrub khusus.

"Pernah suatu kali kami meminta baju scrub sekali pakai yang berlengan panjang karena berhijab. Perawatnya mengangguk, tapi yang dibawa ternyata malah kapas-kapas steril. Akhirnya kami tertawa dan tetap memakai baju scrub seadanya," kenang Lathfi.

Pertukaran Budaya Lintas Benua

Tak hanya di rumah sakit, program ini juga mempertemukan mahasiswa kedokteran dari berbagai belahan dunia. Diketahui ada 25 mahasiswa yang mengikuti program ini, berasal dari Spanyol, Brasil, Meksiko, Tunisia, Kanada, hingga Mesir.

Mempunyai banyak teman baru, Lathfi mengaku komite lokal kerap mengadakan berbagai kegiatan menarik yang menjadi wadah keakraban antarpeserta.

"Mulai dari welcome party, jalan-jalan keliling kota Bratislava dan Trnava, berenang bersama di Danau Danube, sampai memasak dan saling mencicipi masakan khas negara masing-masing di acara National Food and Beverage Party," kata dia lagi.

Melihat masa perkuliahan yang relatif singkat, Lathfi memberikan dorongan semangat agar rekan-rekan sesama mahasiswa tidak ragu mengambil setiap peluang yang ada.

"Siapkan bahasa Inggris, cari tahu informasi negaranya, dan aktiflah berorganisasi. Ini adalah investasi relasi sejawat dokter di masa depan yang sangat berharga," pesannya.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow