Fungsi Seni Kriya Ternyata Jauh Lebih Mendalam dari Sekadar Hiasan Rumah

Smallest Font
Largest Font

Memahami secara mendalam fungsi seni kriya membantu kita menghargai bagaimana barang hiasan dan peralatan rumah tangga diproduksi lewat keterampilan tangan yang tinggi. Banyak orang mengira kerajinan ini hanya pajangan, padahal fungsinya menyentuh aspek praktis, hiburan, hingga spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Istilah kriya sendiri memiliki akar sejarah yang sangat kuat.

Berdasarkan rujukan dari Timbul Haryono pada tahun 2002, istilah "kriya" berasal dari kata dasar "kr" yang berarti melakukan atau mengerjakan. Kata dasar tersebut kemudian membentuk kata karya, kriya, dan kerja. Tindakan menghasilkan suatu benda atau objek inilah yang pada akhirnya dikenal luas sebagai teknik kriya.

Sebelum mengupas kegunaannya, kita perlu meluruskan kekeliruan yang sering terjadi di masyarakat mengenai esensi dari kerajinan tangan ini. Pertanyaan seperti "apa bedanya seni kriya dan seni murni?" sering menjadi awal perdebatan di kalangan penikmat seni pemula.

Dari pengalaman saya mengamati industri kreatif, seni murni diciptakan murni untuk kepuasan estetika atau ekspresi jiwa seniman, seperti lukisan abstrak. Sementara itu, seni kriya mengutamakan keahlian tangan untuk menghasilkan benda yang memiliki fungsi nyata tanpa membuang nilai keindahannya. Pakar seni I Made Bandem memaparkan bahwa seni kriya berasal dari kata kriya yang berarti pekerjaan atau keterampilan tangan dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Inggris, istilah ini disebut craft yang memiliki arti energi atau kekuatan.

Oleh karena itu, seni kriya secara prinsipil dimaksudkan sebagai sebuah karya yang dihasilkan karena skill atau keterampilan tinggi dari seseorang. Hal ini diperkuat oleh pendapat Mayar dalam buku "Seni Rupa untuk Anak Usia Dini" yang terbit tahun 2022 pada halaman 16.

"Seni kerajinan/kriya merupakan jenis karya seni rupa terapan (seni pakai) yang umumnya dihasilkan melalui kerja terampil para pengrajinnya."

Latar belakang pengerjaan yang membutuhkan keahlian spesifik inilah yang membuat produk kriya memiliki posisi unik dalam kebudayaan kita.

Tiga Fungsi Utama Seni Kriya dalam Kehidupan

Dalam perkembangannya, fungsi seni kriya diklasifikasikan secara terstruktur untuk mempermudah kita mengenali pemanfaatannya. Berdasarkan buku mengenai metode pengembangan desain produk kriya berbasis budaya lokal oleh Amrizal, dkk yang terbit pada tahun 2021 di halaman 18, fungsi seni kriya dibagi menjadi tiga kategori utama.

1. Kriya sebagai Benda Terapan (Siap Pakai)

Fungsi pertama dan yang paling banyak kita jumpai adalah sebagai benda terapan atau seni pakai. Dalam kategori ini, aspek fungsional menjadi prioritas utama, sementara unsur keindahan berperan sebagai penunjang agar benda tersebut nyaman dan menarik saat digunakan.

Pengrajin harus memperhitungkan ergonomi, kekuatan bahan, dan keamanan objek. Sifat adaptif ini menjawab pertanyaan mengapa seni kriya disebut seni terapan oleh para ahli dan akademisi.

2. Kriya sebagai Benda Hiasan (Dekoratif)

Fungsi kedua bergeser pada kebutuhan visual atau estetika. Kriya dekoratif dibuat sengaja untuk mempercantik ruangan, luar ruangan, atau melengkapi penampilan seseorang.

Dalam kasus yang sering saya temui di pameran kebudayaan, kriya hias sering kali memodifikasi bentuk benda terapan lama. Mereka menambahkan ukiran rumit atau material premium sehingga fungsi pakainya berkurang, namun nilai estetikanya melonjak tajam.

3. Kriya sebagai Benda Mainan

Fungsi ketiga yang tidak kalah penting adalah sebagai instrumen hiburan atau alat permainan. Kriya dalam kategori ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan bermain, baik untuk anak-anak maupun orang dewasa.

Meskipun berfungsi sebagai alat hiburan, pembuatan kriya mainan tetap mempertahankan aturan estetika dan teknik pengerjaan yang rapi. Karakteristik menonjol dari kategori ini adalah harga benda mainan dari produk seni kriya relatif murah atau lebih terjangkau oleh berbagai kalangan masyarakat.

Materi Seni Kriya dan Contohnya | Eko M7 Barokah

Perkembangan Sejarah Seni Kriya Singkat

Jika kita menengok ke belakang lewat sejarah seni kriya singkat, keberadaan kerajinan tangan ini bukanlah hal yang baru muncul di era modern. Penulis buku Seni Budaya, Aep Saefulah, menyatakan bahwa keberadaan seni kriya telah ada sejak zaman Prasejarah. Pernyataan tersebut dibuktikan secara arkeologis melalui berbagai temuan benda-benda zaman neolitikum atau batu muda.

Pada masa purba tersebut, manusia mulai hidup menetap dan membutuhkan peralatan penunjang hidup yang lebih kompleks. Sebagai contoh, benda karya seni kriya berupa pembuat tembikar dari tanah liat sebagai wadah ditemukan pada zaman neolitikum tersebut. Artefak ini menjadi bukti otentik bahwa sejak ribuan tahun lalu, manusia sudah memikirkan perpaduan antara bahan baku alam, teknik bentukan tangan, dan fungsi praktis wadah.

Seiring waktu berjalan, teknik ini berevolusi mengikuti penemuan material baru seperti logam, kayu berkualitas tinggi, kain, hingga serat alam. Pada masa kerajaan, seni kriya bahkan mendapatkan pengaruh spiritual tinggi dengan munculnya kutipan pendapat Gustami pada tahun 1992 di halaman 71 mengenai definisi seni kriya yang sakral.

Contoh Seni Kriya Sehari-hari Berdasarkan Bahannya

Untuk melihat bagaimana fungsi-fungsi tersebut bekerja secara nyata, kita bisa mengamati lingkungan sekitar rumah. Bentuk konkret dari seni kerajinan ini sangat terikat dengan material yang digunakan oleh para pengrajin.

Berikut adalah beberapa rumpun contoh seni kriya sehari hari yang dikelompokkan berdasarkan bahan bakunya:

  • Kriya Tekstil: Meliputi kain batik tulis, kain tenun ikat, songket, serta produk turunannya seperti pakaian adat, sarung bantal, dan hiasan dinding makrame.
  • Kriya Kayu: Berupa kursi ukir Jepara, topeng kayu hiasan, lemari pajangan, hingga peralatan makan estetik dari kayu jati.
  • Kriya Keramik: Meliputi tembikar tanah liat, vas bunga dekoratif, piring hias, celengan tradisional, dan peralatan dapur dari porselen.
  • Kriya Logam: Contohnya adalah keris pusaka, perhiasan perak bakar, gong gamelan, hingga lampu hias dari kuningan atau tembaga.
  • Kriya Kulit: Berupa wayang kulit untuk pertunjukan, tas kulit tatah, ikat pinggang, dan sepatu buatan tangan.

Melalui pengelompokan di atas, terlihat jelas bahwa sepotong bahan mentah dari alam dapat diubah menjadi benda bernilai ekonomi tinggi berkat sentuhan teknik kriya yang tepat.

Perbandingan Karakteristik Fungsi Seni Kriya

Kesalahan umum yang saya lihat adalah menyamakan semua produk kriya tanpa melihat tujuan awal pembuatannya. Untuk mempermudah pemetaan, kita dapat melihat karakteristik dominan dari masing-masing fungsi melalui struktur data berikut.

Karakteristik Tiga Fungsi Utama Produk Seni Kriya
Fungsi KriyaPrioritas UtamaKeterampilan TeknikAksesibilitas Harga
Benda TerapanFungsi PakaiSangat TinggiVariatif
Benda HiasanNilai EstetikaTinggiRelatif Mahal
Benda MainanFungsi HiburanStandarRelatif Murah

Seni kriya terbukti bukan sekadar komoditas industri massal, melainkan sebuah manifestasi kebudayaan yang adaptif. Melalui pemahaman fungsi yang jelas dari para ahli seperti Amrizal dan Mayar, kita dapat memilah produk kerajinan tangan ini secara proporsional sesuai kebutuhan ruang hidup kita.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow