Bukan Cuma Aktif dan Mati, Ini Cara Membedakan Karakteristik 2 Jenis Gunung Berapi

Smallest Font
Largest Font

Memahami karakteristik jenis gunung berapi berdasarkan tingkat keaktifannya sering kali membingungkan karena perubahan status vulkanik bisa terjadi kapan saja. Berdasarkan klasifikasi dasarnya, gunung berdasarkan keaktifannya terdiri dari dua macam yaitu gunung api aktif dan gunung api tidak aktif atau mati.

Sebagai praktisi yang sering mengamati peta mitigasi bencana geologi, saya melihat banyak orang salah kaprah dan menganggap semua gunung yang tidak meletus puluhan tahun sebagai gunung mati. Padahal, kesalahan klasifikasi ini sangat berbahaya bagi kesiapsiagaan bencana di wilayah sekitar lereng.

Untuk mengidentifikasi klasifikasi ini secara tepat di lapangan, Anda dapat mengikuti langkah-langkah identifikasi logis berikut ini.

  1. Periksa Catatan Sejarah Erupsi
    Langkah awal yang wajib dilakukan adalah melacak dokumen vulkanologi mengenai aktivitas erupsi masa lalu. Gunung api aktif biasanya mengalami erupsi minimal 1 kali dalam kurun waktu 10.000 tahun terakhir, yang menjadi indikator utama bahwa dapur magma di bawahnya masih menyuplai material cair panas secara berkala.
  2. Amati Gejala Vulkanisme di Sekitar Kawah
    Lakukan pengamatan visual dan termal terhadap solfatar, fumarol, atau sumber air panas di area puncak dan lereng. Dari pengalaman saya meninjau kawasan vulkanik, keberadaan gas belerang dan peningkatan suhu tanah yang konsisten menandakan bahwa sistem hidrotermal di dalam tubuh gunung masih bekerja aktif.
  3. Evaluasi Status Pemantauan Geologi
    Langkah terakhir adalah mencocokkan data visual dengan sistem pemantauan resmi dari otoritas penanggulangan bencana. Di Indonesia, data dari Magma Indonesia mencatat ada sekitar 127 gunung api yang aktif, namun hanya 69 di antaranya yang dipantau secara intensif oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi karena memiliki risiko dampak sosial yang tinggi.
Sistem pemantauan geologi yang ketat menjadi kunci utama dalam meminimalkan korban jiwa di wilayah sabuk cincin api pasifik.

Karakteristik Mendalam Gunung Api Aktif

Gunung api yang masuk dalam kategori aktif memiliki pasokan magma yang terus bergerak menuju permukaan bumi. Sebagian besar gunung api aktif di dunia berada di pertemuan lempeng tektonik dan muncul di wilayah sabuk Lautan Pasifik yang disebut ring of fire, menjadikan wilayah-wilayah ini sangat rentan terhadap aktivitas seismik.

Buku "Geografi SMP/MTs Kelas VII KTSP" karya Wirastuti Widyatmanti menjelaskan bahwa gunung api di Indonesia hanya ada di tempat-tempat tertentu. Di antaranya terletak di punggungan tengah samudra, jalur pertemuan dua buah lempeng kerak bumi, dan di titik-titik panas muka bumi tempat keluarnya magma.

Dalam pengamatan teknis, bentuk fisik dari gunung aktif ini sangat dipengaruhi oleh kekentalan magma dan tekanan gas di dalamnya saat terjadi erupsi. Beberapa bentuk yang populer di Indonesia meliputi jenis gunung api strato, maar, hingga tipe perisai yang memiliki karakteristik geomorfologi unik.

Mengenal Bentuk Gunung Api Strato, Maar, dan Perisai

  • Gunung Api Kerucut atau Strato: Jenis ini terbentuk dari tumpukan berlapis-lapis lava dan abu vulkanik akibat erupsi yang berubah-ubah antara efusif dan eksplosif. Contoh gunung api kerucut/strato di Indonesia adalah Gunung Merapi yang terkenal dengan kubah lavanya yang tidak stabil.
  • Gunung Api Maar: Bentuk ini menyerupai danau kawah yang luas karena letusan eksplosif yang besar menghancurkan bagian puncak gunung. Contoh gunung api maar di Indonesia adalah Gunung Lamongan yang dikelilingi oleh banyak ranu atau danau vulkanik kecil.
  • Gunung Api Perisai atau Tameng: Karakteristik lereng gunung api perisai/tameng memiliki kemiringan yang sangat landai, yaitu antara 1 sampai 10 derajat akibat lelehan lava yang sangat encer. Contoh gunung api perisai/tameng adalah Gunung Maona Loa Hawaii di Amerika Serikat, dan jenis ini tidak ada di Indonesia karena karakteristik magma kita cenderung lebih kental.
Setiap Tipe Gunung Berapi Dijelaskan Dalam 4 Menit | ndog ceplok

Karakteristik Gunung Api Tidak Aktif atau Mati

Banyak masyarakat yang bertanya-tanya mengenai "apa bedanya gunung aktif dan mati" ketika melihat gunung yang tampak tenang tanpa asap. Gunung api mati atau pasif adalah gunung api yang tidak memiliki catatan erupsi atau tidak pernah mengalami erupsi sejak tahun 1600, sehingga dianggap telah kehilangan pasokan panas dari dalam bumi.

Ada pula kondisi khusus di mana gunung memasuki fase istirahat panjang, yang sering mengecoh pengamat amatir. Contoh gunung api istirahat adalah Gunung Ceremai dan Gunung Kelud, yang sewaktu-waktu bisa menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik secara mendadak setelah tidur selama ratusan tahun.

Proses pembekuan pipa magma utama merupakan alasan utama "mengapa gunung berapi bisa tidak aktif lagi" dalam jangka waktu geologis. Ketika lempeng tektonik bergeser menjauhi titik panas atau kantung magma di bawahnya telah habis, pasokan material vulkanik terhenti total dan mengubah status gunung tersebut secara permanen menjadi bentang alam biasa yang mengalami pengikisan.

Perbandingan Karakteristik Letusan dan Bentuk Gunung Api

Untuk memudahkan pemahaman visual dan teknis mengenai fenomena vulkanisme ini, kita bisa membandingkan parameter ketinggian pancuran serta tipe bentuk geomorfologi yang dihasilkan oleh aktivitas magma.

Perbandingan Karakteristik Vulkanik Berdasarkan Tipe Letusan dan Bentuk Geomorfologi
Kategori ParameterTipe HawaiianTipe StrombolianTipe Gunung Api Perisai
Ketinggian Pancuran Lava200 meter500 meter
Kemiringan Lereng1 sampai 10 derajat
Lokasi Contoh UtamaGunung Maona LoaAmerika Serikat

Ciri ciri gunung api yang sudah tidak aktif terlihat jelas dari tidak adanya deformasi atau pembengkakan pada tubuh gunung yang diukur menggunakan alat pemantau khusus. Selain itu, kawah utama biasanya sudah tertutup oleh vegetasi yang padat atau berubah menjadi danau air tawar tanpa adanya pelepasan gas beracun.

Mengingat dinamika lempeng tektonik yang terus bergerak di bawah kepulauan Indonesia, pemetaan status keaktifan gunung api harus dilakukan secara berkala demi menjamin keselamatan penduduk di sekitar kawasan rawan bencana.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow