Kemenparekraf Tetapkan Seni Kuntulan Sebagai Warisan Budaya Takbenda Asal Magelang
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah meresmikan kesenian tari kuntulan secara sah sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia pada Sabtu, 20 Juni 2026. Keputusan ini mempertegas identitas historis bahwa daerah asal tari kuntulan adalah berasal dari wilayah Magelang dan sekitarnya, meskipun kesenian serupa berkembang pesat di berbagai daerah lain seperti Banyuwangi.
Ketetapan ini diambil setelah melalui proses kurasi panjang terhadap nilai historis, sosiologis, dan spiritual yang melekat pada kesenian rakyat tersebut. Langkah standardisasi ini diharapkan mampu melindungi hak cipta komunal sekaligus mendorong pemanfaatan seni tradisional sebagai penggerak ekonomi kreatif berbasis pariwisata daerah di masa kini.
Pemerintah daerah mencatat bahwa sejarah tari kuntulan magelang lahir dari perpaduan gerakan bela diri pencak silat dan dakwah Islam pada masa kolonial. Seni ini awalnya digunakan oleh para pejuang lokal sebagai sarana menyembunyikan latihan militer dari pengawasan penjajah, dengan mengemasnya menjadi gerakan tarian religius.
Selain di Jawa Tengah, variasi kesenian ini juga tumbuh subur di ujung timur Pulau Jawa. Masyarakat mengenal varian tersebut sebagai tari tradisional banyuwangi bernuansa islami yang memadukan unsur hadrah. Seiring waktu, akulturasi budaya membuat tarian ini memiliki karakteristik unik di masing-masing wilayah penuturnya.
Karakteristik Visual dan Makna Filosofis Kesenian
Pertunjukan kesenian tradisional ini memiliki pakem yang sangat spesifik, baik dari segi busana maupun musik pengiring. Masyarakat awam sering kali melontarkan pertanyaan seperti "baju penari kuntulan seperti apa" yang sebenarnya merujuk pada pakaian serba putih layaknya burung kuntul.
Busana dan Properti Penari
Para penari umumnya mengenakan kostum bernuansa putih bersih yang melambangkan kesucian. Atribut pendukung meliputi:
- Baju lengan panjang dan celana panjang putih
- Kain sarung batik atau songket pendek di pinggang
- Kopiah, pecis, atau ikat kepala khas daerah
- Kacamata hitam sebagai pelengkap modernisasi estetika panggung
Iringan Alat Musik dan Nyanyian
Pertunjukan ini tidak menggunakan gamelan Jawa lengkap, melainkan menggunakan perangkat perkusi bernuansa Timur Tengah. Komposisi alat musik tari kuntulan didominasi oleh kombinasi beberapa instrumen utama berikut ini.
| Nama Alat Musik | Jenis Instrumen | Fungsi dalam Tarian |
|---|---|---|
| Rebana / Terbang | Perkusi | Penentu ritme dan tempo utama |
| Bedug Kecil | Perkusi | Pengatur aksen gerakan tari |
| Kendang | Perkusi | Penyelaras dinamika ketukan |
| Gong Peninggul | Idiofon | Penutup siklus putaran lagu |
Fungsi Sosial dan Nilai Spiritual
Eksistensi seni kuntulan hingga pertengahan tahun 2026 ini tetap terjaga karena fungsinya yang adaptif di tengah masyarakat modern. Berdasarkan kajian dari Dinas Kebudayaan setempat, pertunjukan ini tidak lagi sekadar menjadi hiburan panggung, melainkan alat pemersatu warga saat perayaan hari besar keagamaan maupun hajatan desa.
Mengenai esensi spiritualnya, para budayawan sepakat tentang "apa makna dari tari kuntulan" yaitu sebagai representasi keteguhan iman dan ketangkasan fisik seorang Muslim. Syair-syair yang dilantunkan sepanjang tarian berisi puji-pujian kepada Allah SWT dan selawat kepada Nabi Muhammad SAW, sehingga berfungsi efektif sebagai media tuntunan moral.
Dengan ditetapkannya status Warisan Budaya Takbenda ini, Pemerintah Kota Magelang menjadwalkan pembinaan intensif ke sekolah-sekolah dan sanggar tari lokal untuk memasukkan kesenian ini ke dalam kurikulum muatan lokal mulai semester depan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow