Masyarakat Indonesia Bisa Amati Hujan Meteor Perseid 13 Agustus 2026
Puncak fenomena hujan meteor Perseid bakal menghiasi langit Indonesia pada Kamis, 13 Agustus 2026 dini hari. Masyarakat di seluruh wilayah Tanah Air berkesempatan untuk menyaksikan peristiwa astronomi tahunan ini secara langsung.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengonfirmasi bahwa pengamatan fenomena ini bakal berlangsung sangat optimal lantaran bertepatan dengan fase Bulan Baru, seperti dilansir dari Detikcom. Kondisi tersebut membuat sisi Bulan yang terpapar sinar Matahari membelakangi Bumi, sehingga langit malam menjadi jauh lebih gelap tanpa gangguan cahaya Bulan.
Lantaran didukung oleh fase Bulan baru, fenomena hujan meteor Perseid sebenarnya dapat dilihat menggunakan mata telanjang tanpa alat bantu. BRIN justru menilai bahwa pengamatan tanpa teleskop atau binokular jauh lebih disarankan karena memberikan ruang pandang yang lebih luas di langit malam.
Untuk memperoleh pengalaman pengamatan yang paling optimal, BRIN membagikan beberapa panduan teknis bagi masyarakat yang ingin menyaksikannya:
- Memilih lokasi pengamatan yang bebas atau minim dari polusi cahaya kota.
- Mengarahkan pandangan mata ke area langit sebelah timur laut.
- Memastikan pandangan ke arah timur laut tidak terhalang oleh bentukan gedung tinggi atau pepohonan.
- Memastikan kondisi cuaca lokal dalam keadaan cerah serta tidak tertutup awan mendung.
Penyebab dan Keistimewaan Meteor Perseid
Menurut penjelasan Sains Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA), meteoroid merupakan remahan debu atau serpihan batuan kecil di luar angkasa yang mayoritas berasal dari sisa ekor komet maupun hasil tumbukan asteroid.
Ketika meteoroid meluncur memasuki atmosfer planet dengan kecepatan tinggi, gesekan udara bertekanan tinggi akan membakarnya hingga tampak seperti bola api atau bintang jatuh yang kerap disebut meteor. Adapun peristiwa saat Bumi melintasi gugusan meteoroid dalam jumlah banyak sekaligus dinamakan hujan meteor.
Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika Pusat Riset Antariksa BRIN, Prof Thomas Djamaluddin menerangkan bahwa Bumi selalu berpapasan dengan remahan debu komet pada lintasan yang sama setiap tahunnya. Hal ini menyebabkan waktu kemunculan serta arah datangnya fenomena hujan meteor selalu konsisten.
"Hujan meteor Perseid tergolong hujan meteor yang kuat sehingga menarik minat para penggemar astronomi," kata Thomas.
Fenomena Perseid sendiri berasal dari perlintasan sisa debu Komet 109/Swift-Tuttle yang terlihat seolah-olah memancar dari rasi bintang Perseus. Ketika mencapai puncaknya di pertengahan Agustus, pengamat di berbagai belahan dunia dapat melihat sekitar 1 hingga 2 penampakan meteor per menit apabila didukung kondisi langit yang ideal.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow