Masyarakat Kenang Insiden Hotel Yamato Surabaya Sebagai Pemantik Pertempuran 10 November
Masyarakat Jawa Timur kembali mengenang peristiwa bersejarah perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato Surabaya pada Jumat (10/7/2026). Peristiwa yang terjadi pada 19 September 1945 tersebut menjadi tonggak krusial yang melatarbelakangi meletusnya pertempuran besar di Surabaya. Aksi heroik arek-arek Suroboyo kala itu dipicu oleh tindakan sepihak sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan W.V.Ch.
Ploegman. Mereka mengibarkan bendera Merah Putih Biru milik Belanda di tiang tingkat teratas Hotel Yamato tanpa izin pemerintah Indonesia setempat. Pengibaran bendera tersebut dinilai sebagai bentuk penghinaan terhadap kedaulatan Indonesia yang baru saja memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Ketegangan langsung memuncak di sekitar kawasan Jalan Tunjungan karena masyarakat lokal merasa kedaulatan negara dilecehkan.
Berdasarkan catatan sejarah resmi, kehadiran tentara Sekutu yang diboncengi oleh Netherlands Indies Civil Administration (NICA) menjadi akar utama ketegangan di Surabaya. Kelompok ini datang dengan tujuan menegakkan kembali kekuasaan kolonial Hindia Belanda di wilayah Indonesia.
Masyarakat Surabaya yang sudah mengetahui proklamasi kemerdekaan menolak keras segala bentuk simbol kolonialisme kembali berdiri. Kehadiran Ploegman dan sekutunya yang secara terang-terangan mengibarkan bendera Belanda di puncak hotel memicu kemarahan massa yang berkumpul di luar gedung.
Kronologi Perobekan Bendera Surabaya 19 September
Melihat massa yang mulai mengepung hotel, residen Surabaya saat itu, Sudirman, datang bersama Sidik dan Hariyono untuk berunding dengan Ploegman. Sudirman meminta agar bendera Belanda tersebut segera diturunkan demi menjaga keamanan, namun Ploegman menolak mentah-mentah permintaan itu.
Perundingan yang beralih menjadi perkelahian di dalam hotel tersebut mengakibatkan Ploegman tewas dicekik oleh Sidik, yang kemudian juga gugur oleh tentara Belanda. Di tengah kekacauan, beberapa pemuda Indonesia nekat memanjat dinding hotel menuju tiang bendera.
Aksi Pemuda di Puncak Hotel
Dua pemuda bernama Koesno Wibowo dan Hariyono berhasil mencapai puncak tiang bendera di atap bangunan. Mereka langsung menurunkan bendera Triwarna Belanda yang sedang berkibar di atas menara.
Koesno Wibowo kemudian merobek bagian warna biru dari bendera Belanda tersebut, sehingga menyisakan warna merah dan putih. Bendera yang telah dirobek itu dikibarkan kembali ke puncak tiang diiringi pekikan merdeka dari massa.
Dampak dan Kelanjutan Sejarah
Insiden pembongkaran simbol kolonial ini menjadi pemantik awal dari rangkaian bentrokan bersenjata yang lebih besar di kota Surabaya. Ketegangan terus meningkat selama berminggu-minggu antara pemuda Surabaya dan pasukan Sekutu.
Puncak dari seluruh rangkaian gesekan pasca-insiden tersebut adalah meletusnya pertempuran masif pada tanggal 10 November 1945. Hari bersejarah itu kini diperingati secara nasional di Indonesia sebagai Hari Pahlawan setiap tahunnya.
Saat ini, lokasi peristiwa bersejarah tersebut dikenal sebagai Hotel Majapahit Surabaya dan menjadi cagar budaya yang dilindungi. Struktur bangunan luar yang menjadi saksi bisu perobekan bendera tetap dipertahankan sesuai bentuk aslinya untuk kepentingan edukasi sejarah generasi muda.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow