Mengapa Masjid Al Aqsa Dibakar Tahun 1969 Jadi Pemicu Utama Berdirinya OKI
Peristiwa pembakaran Masjid Al-Aqsa pada 21 Agustus 1969 merupakan penyebab utama lahirnya organisasi kerja sama islam yang mengubah konstelasi politik dunia muslim secara drastis. Tragedi memilukan di Yerusalem tersebut memicu gelombang kemarahan global, sekaligus mempertegas urgensi perlunya wadah persatuan yang konkret bagi negara-negara muslim di seluruh dunia. Sebagai praktisi sejarah yang kerap mengamati dinamika geopolitik Timur Tengah, saya melihat bahwa pembakaran situs suci ini bukan sekadar insiden lokal, melainkan sebuah alarm keras bagi kedaulatan umat.
Latar belakang terbentuknya oki tidak dapat dipisahkan dari situasi pasca-Perang Enam Hari atau Perang Arab-Israel yang meletus pada tahun 1967.
Perang besar tersebut berdampak sangat fatal karena menyebabkan jatuhnya wilayah Yerusalem secara keseluruhan ke tangan kendali otoritas Israel. Kondisi wilayah yang tidak stabil ini mencapai puncaknya pada tanggal 21 Agustus 1969, ketika unsur Zionis melakukan sabotase pembakaran terhadap Masjid Al-Aqsa.
Dalam analisis dokumen sejarah yang sering saya teliti, sebagian besar sejarawan sepakat bahwa sabotase ini sengaja menyasar bagian mimbar kuno Shalahuddin Al-Ayyubi yang bernilai sejarah sangat tinggi. Kejadian ekstrem ini langsung memicu reaksi berantai yang masif dari para pemimpin negara Arab dan komunitas muslim global yang menuntut pertanggungjawaban penuh atas keamanan situs suci tersebut.
Langkah Taktis Para Pemimpin Islam Merespons Krisis
Merespons situasi darurat di Yerusalem, para diplomat senior dan kepala negara tidak tinggal diam melainkan langsung meluncurkan konsolidasi tingkat tinggi.
Bagi Anda yang sedang mempelajari sejarah diplomasi internasional, berikut adalah urutan langkah taktis normatif yang diambil oleh para pemimpin dunia hingga organisasi ini resmi terbentuk.
- Mobilisasi Diplomatik Regional (22–26 Agustus 1969): Para menteri luar negeri yang tergabung dalam Liga Arab segera menggelar konferensi darurat guna merumuskan sikap bersama terhadap agresi di Yerusalem.
- Seruan Konsolidasi Global oleh Para Pemrakarsa: Tokoh kunci seperti Raja Hassan II (Raja Maroko) bersama dengan Raja Faisal (Raja Arab Saudi) tampil sebagai pemrakarsa utama yang menyeru seluruh pemimpin negara Arab dan umat Islam untuk bersatu.
- Penyelenggaraan Pertemuan Puncak Dunia Islam (22–25 September 1969): Pertemuan bersejarah bertajuk Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) negara-negara Islam resmi digelar di kota Rabat, Maroko.
- Deklarasi Pendirian Organisasi Resmi (25 September 1969): KTT tersebut mencapai mufakat bulat untuk mendirikan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) sebagai wadah permanen perjuangan umat.
Pengalaman kolektif dalam menghadapi ancaman terhadap identitas Islam di Yerusalem telah berhasil meruntuhkan ego sektoral negara-negara muslim pada masa itu, sehingga melahirkan kesepakatan tercepat dalam sejarah diplomasi modern.
Para Tokoh Kunci di Balik Layar Deklarasi Rabat
Banyak pengamat pemula bertanya mengenai "siapa pendiri organisasi kerja sama islam" yang sebenarnya menggerakkan roda diplomasi rumit ini di tengah tensi politik perang dingin? Berdasarkan data otentik, duet kepemimpinan antara Raja Hassan II dari Maroko dan Raja Faisal dari Arab Saudi merupakan motor penggerak utama yang berhasil mengumpulkan puluhan kepala negara. Kombinasi pengaruh spiritual Arab Saudi sebagai penjaga Dua Kota Suci dan posisi strategis Maroko di Afrika Utara menjadi jangkar utama yang memperkuat legitimasi hukum internasional dari pergerakan ini.
Kehadiran total 28 negara Islam dalam KTT Rabat tersebut menandai babak baru di mana solidaritas keagamaan ditransformasikan menjadi institusi politik formal yang diakui dunia.
Evolusi Struktur dan Keanggotaan hingga Era Modern
Sejak resmi berdiri pada tanggal 25 September 1969 di Rabat, Maroko, organisasi ini terus mengalami perkembangan jumlah anggota dan perluasan pengaruh yang sangat signifikan.
Hingga era modern saat ini, organisasi tersebut telah merangkul total 57 negara anggota dari berbagai belahan benua, termasuk Republik Indonesia yang aktif sejak awal berdiri.
Skala keanggotaan yang masif ini menempatkan institusi tersebut sebagai organisasi antarpemerintah terbesar kedua di dunia setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
| Parameter Perjalanan Sejarah | Kondisi Awal (1969) | Kondisi Era Modern |
|---|---|---|
| Jumlah Negara Anggota Resmi | 28 Negara | 57 Negara |
| Lokasi Penyelenggaraan KTT Pertama | Rabat, Maroko | Berpindah sesuai kesepakatan |
| Status Skala Organisasi Global | Aliansi Regional Politik | Organisasi Terbesar Kedua setelah PBB |
Pertumbuhan jumlah anggota yang berlipat ganda ini menunjukkan bahwa misi awal penyelematan aset suci umat telah bergeser menjadi kerja sama multisektoral yang lebih komprehensif.
Misi dan Agenda Strategis Kolektif yang Diusung
Berdasarkan informasi resmi yang dirilis oleh Sekretariat Kabinet RI, terdapat beberapa pilar utama mengenai apa tujuan didirikannya oki yang melandasi pergerakan organisasi ini.
Fokus utama kerja sama mereka meliputi upaya peningkatan solidaritas Islam di antara negara anggota, serta mengoordinasikan kerja sama dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, dan sains.
- Melindungi tempat-tempat suci umat Islam yang berada di bawah pendudukan asing.
- Mendukung perjuangan rakyat Palestina dalam mengembalikan hak-hak nasional mereka secara berdaulat.
- Menghilangkan diskriminasi rasial dan segala bentuk kolonialisme di dunia internasional.
- Memperkuat aksi bersama guna mempertahankan martabat umat Islam di seluruh dunia.
Melalui piagam bersama yang disepakati, seluruh anggota berkomitmen untuk saling mendukung di panggung Sidang Umum PBB guna menyuarakan isu-isu keadilan di Timur Tengah.
Kesalahan umum yang sering saya temui di kalangan akademisi adalah menganggap organisasi ini hanya mengurusi konflik bersenjata, padahal pilar ekonomi dan bantuan kemanusiaan kini justru menjadi program kerja yang paling aktif mengesekusi program di lapangan.
Tragedi kelam pembakaran Masjid Al-Aqsa tahun 1969 pada akhirnya membuktikan bahwa ancaman terhadap entitas suci mampu menjadi katalisator utama yang menyatukan perbedaan geopolitik menjadi satu kekuatan diplomasi global yang solid dan diperhitungkan hingga hari ini.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow