Benarkah Mengimani Semua Kitab yang Diwahyukan Allah Hukumnya Wajib Fardhu Ain bagi Muslim
Mengetahui secara pasti bahwa mengimani semua kitab yang diwahyukan allah hukumnya adalah fardhu ain atau wajib bagi setiap individu muslim merupakan fondasi utama dalam beragama. Banyak umat Islam yang masih keliru dan menganggap bahwa kewajiban iman hanya terbatas pada Al-Qur'an yang dibaca sehari-hari.
Kewajiban mengimani seluruh kitab suci ini merupakan bagian tidak terpisahkan dari rukun iman ketiga yang mendasari integritas spiritual seorang mukmin. Tanpa keyakinan utuh terhadap seluruh wahyu yang pernah diturunkan sebelum Al-Qur'an, keislaman seseorang dipandang tidak sempurna bahkan batal di mata hukum syariat.
Pemahaman mengenai kedudukan hukum ini sangat krusial agar umat Islam terhindar dari pemahaman yang setengah-setengah terkait pilar akidah mereka.
Secara hukum teologis dalam Islam, meyakini keberadaan dan kebenaran seluruh kitab yang diturunkan oleh Allah SWT adalah wajib mutlak. Pengabaian atau penolakan terhadap satu kitab saja sama saja dengan mendustakan firman Allah secara keseluruhan yang tercantum di dalam Al-Qur'an.
Menurut pandangan Sayyid Quthub, penulis tafsir ternama Fi Zhilal al-Qur’an, beriman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, dan hari akhir bagi mukmin sebenarnya merupakan fitrah manusia. Beliau menegaskan bahwa manusia diciptakan dengan modal spiritual berupa kecenderungan natural untuk mengimani Allah SWT beserta kitab-kitab-Nya.
Oleh karena itu, ketika seorang muslim mengimani kitab-kitab tersebut, ia sedang menyelaraskan kembali jiwanya dengan fitrah kesucian yang telah dianugerahkan sejak lahir.
Lebih lanjut, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam kitab Rasaail fil `Aqiidah memberikan penjelasan mendalam mengenai tujuan mendasar dari diturunkannya wahyu berbentuk lembaran dan kitab ini. Beliau menyatakan bahwa kitab suci adalah kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya sebagai rahmat untuk para makhluk-Nya, dan petunjuk bagi mereka, supaya mereka mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Mengenal Empat Kitab Suci Utama dan Para Penerimanya
Dalam khazanah keilmuan Islam, umat wajib mengetahui apa saja kitab kitab allah secara spesifik yang disebutkan di dalam alur sejarah kenabian. Informasi mengenai kitab allah dan penerimanya membantu muslim memetakan garis besar sejarah turunnya wahyu di muka bumi.
Muhammad Syukron Maksum, penulis Buku Pintar Agama Islam untuk Pelajar, memaparkan penjelasan mengenai empat kitab yang diwahyukan Allah SWT kepada para rasul-Nya, yaitu Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur'an.
Keempat kitab utama ini diturunkan pada periode zaman, wilayah, dan peradaban manusia yang berbeda-beda guna menjawab tantangan moral serta spiritual pada masanya.
| Nama Kitab Suci | Nabi Penerima Wahyu | Bahasa Pengantar |
|---|---|---|
| Taurat | Nabi Musa AS | Bahasa Ibrani |
| Zabur | Nabi Dawud AS | – |
| Injil | Nabi Isa AS | – |
| Al-Qur'an | Nabi Muhammad SAW | Bahasa Arab |
Sejarah Turunnya Kitab Taurat kepada Nabi Musa
Sejarah turunnya kitab taurat nabi musa terjadi pada masa purbakala yang sangat luhur, tepatnya diperkirakan pada sekitar Abad ke-12 SM. Wahyu monumental ini diturunkan secara langsung kepada Nabi Musa AS di Bukit Sinai setelah beliau membawa kaum Bani Israil keluar dari tanah Mesir.
Kitab Taurat ini ditulis dengan menggunakan Bahasa Ibrani, yang disesuaikan dengan bahasa kaum yang menjadi target dakwah Nabi Musa pada masa tersebut. Isi utamanya memuat hukum-hukum syariat, dogma ketuhanan, serta sepuluh perintah utama yang mengatur hubungan manusia dengan Sang Pencipta dan sesama makhluk.
Isi Kandungan Kitab Zabur bagi Kaum Bani Israil
Kitab berikutnya yang wajib diyakini keberadaannya adalah Kitab Zabur yang diwahyukan khusus kepada Nabi Dawud AS setelah masa Nabi Musa. Berbeda dengan Taurat yang sarat akan hukum-hukum syariat baru, isi kandungan kitab zabur sebagian besar tidak memuat syariat hukum yang mengikat.
Zabur secara umum berisi tentang kumpulan puji-pujian, mazmur, doa, zikir, nasihat, serta hikmah-hikmah spiritual yang mendalam. Kitab ini menjadi panduan batin bagi Nabi Dawud beserta kaumnya untuk senantiasa mengagungkan asma Allah dalam setiap keadaan kehidupan mereka.
Kitab Injil dan Al-Qur'an Sebagai Penyempurna
Setelah era Zabur, Allah SWT menurunkan Kitab Injil kepada Nabi Isa AS sebagai pembenaran atas kitab-kitab sebelumnya sekaligus memberikan beberapa kelonggaran hukum yang sebelumnya kaku. Injil membawa ajaran kasih sayang, penyucian jiwa, dan kabar gembira mengenai kedatangan rasul terakhir.
Puncak dari seluruh rangkaian wahyu tersebut adalah diturunkannya Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad SAW. Proses penurunan ayat-ayat Al-Qur'an terjadi secara bertahap selama 23 tahun, yang memberikan bimbingan praktis serta jawaban atas seluruh dinamika sosial dan spiritual yang dihadapi umat manusia.
Fungsi Utama Kitab Suci dalam Kehidupan Manusia
Memahami alasan mengapa kita harus beriman kepada kitab allah berkaitan erat dengan fungsi fungsional dari wahyu itu sendiri bagi eksistensi peradaban manusia. Tanpa adanya bimbingan yang bersifat transendental, manusia akan mudah tersesat dalam menentukan standar moralitas dan kebenaran.
Wakit Prabowo, S.Pd.I, selaku penulis buku Blak-blakan Bahas Mapel Pendidikan Agama Islam SD (2012: 119), memberikan ulasan tajam mengenai fungsi fundamental dari diturunkannya wahyu ini. Beliau menyatakan bahwa Allah menurunkan kitab kepada manusia untuk memberikan petunjuk dan dijadikan pegangan hidup.
Lebih lanjut, beliau menambahkan bahwa kitab suci berfungsi sebagai cahaya penerang di tengah kegelapan untuk membimbing manusia menuju kebaikan, keadilan, dan kebahagiaan dunia serta akhirat. Keberadaan kitab suci membebaskan manusia dari relativisme moral yang sering kali membingungkan akal sehat.
Cara Umat Islam Mengimani Kitab Sebelum Al-Qur'an
Terdapat perbedaan mendasar mengenai implementasi keimanan antara kitab masa lalu dengan Al-Qur'an yang menjadi pedoman hidup umat Islam saat ini. Banyak umat muslim yang bingung mengenai batasan dan sikap yang benar terhadap naskah-naskah kuno pra-Islam.
Prinsip utama mengenai cara umat islam mengimani kitab sebelum alquran adalah dengan meyakini secara penuh bahwa kitab-kitab tersebut murni berasal dari wahyu Allah SWT pada waktu diturunkan. Namun, umat Islam tidak dibebani kewajiban untuk mengamalkan seluruh isi hukum syariat yang terkandung di dalam kitab-kitab terdahulu tersebut.
Hal ini disebabkan karena fungsi Al-Qur'an hadir sebagai mushaddiq (membenarkan inti ajaran tauhid masa lalu) sekaligus muhaimin (batu ujian atau pengawal yang mengoreksi perubahan yang terjadi pada kitab-kitab terdahulu akibat campur tangan manusia sepanjang sejarah).
- Meyakini keberadaannya bahwa Allah benar-benar pernah menurunkan kitab tersebut kepada para nabi pilihan.
- Memercayai bahwa isi aslinya mengandung kebenaran mutlak yang bersumber langsung dari langit.
- Menyadari bahwa masa berlakunya syariat kitab terdahulu telah selesai dan digantikan secara paripurna oleh Al-Qur'an.
Melalui metode keimanan yang proporsional ini, seorang muslim dapat menjaga kemurnian akidahnya tanpa merendahkan nilai historis dari wahyu-wahyu yang telah Allah turunkan kepada para nabi sebelum Nabi Muhammad SAW.
Konsekuensi Mengabaikan Rukun Iman Ketiga
Mengingat kedudukannya yang sangat mendasar, kelalaian dalam mengimani seluruh kitab Allah berimplikasi langsung pada status teologis seorang hamba. Seseorang tidak bisa mengklaim dirinya beriman jika ia memilah-milah wahyu mana yang ingin ia percayai berdasarkan logika atau preferensi pribadi.
Ketika seseorang dengan sengaja menolak keberadaan Taurat, Zabur, atau Injil yang otentik dalam sejarah, maka ia dianggap telah gugur dari lingkaran keimanan Islam. Konsekuensi hukum spiritual ini menggarisbawahi betapa pentingnya menjaga keutuhan rukun iman dalam sanubari setiap muslim tanpa ada keraguan sedikit pun.
Keimanan yang kokoh terhadap seluruh wahyu Allah memupuk rasa persaudaraan kemanusiaan yang universal dan kesadaran akan kesinambungan risalah ketuhanan sejak manusia pertama diciptakan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow