Misteri Penulis Negarakertagama dan Rahasia Kejayaan Majapahit

Smallest Font
Largest Font

Mengetahui secara pasti siapa pengarang kitab negarakertagama sering kali menjadi teka-teki yang membingungkan bagi banyak pencinta sejarah Nusantara. Catatan epik dari zaman keemasan ini memegang kunci penting dalam memahami bagaimana tatanan sosial dan politik masa lalu dibentuk. Dari pengalaman saya mengkaji literatur sejarah, kesalahan umum yang sering saya temui adalah anggapan bahwa naskah ini sekadar dongeng pujangga tanpa dasar faktual yang kuat.

Padahal, karya sastra kuno ini merupakan dokumen administratif dan geopolitik yang sangat presisi pada zamannya. Untuk mengupas tuntas mahakarya ini, Anda perlu memahami profil penciptanya, proses penemuannya yang dramatis, hingga isi krusial di dalamnya. Panduan edukatif ini akan membedah setiap aspek tersebut secara runtut agar Anda mendapatkan pemahaman yang komprehensif.

Langkah pertama untuk memahami naskah ini adalah mengenali sosok di balik pembuatannya yang luar biasa. Penulis asli dari karya besar ini memegang peran penting di dalam struktur pemerintahan kerajaan masa itu.

Pencipta kakawin desyawarnana prapanca adalah seorang pujangga istana yang dikenal dengan nama pena Mpu Prapanca. Nama asli dari sang pujangga sebenarnya masih menjadi subjek diskusi, namun nama Prapanca inilah yang abadi dalam lembar sejarah. Dalam kasus yang sering saya temui di berbagai teks edukasi, banyak yang lupa bahwa judul asli dari kitab ini bukanlah Negarakertagama. Sang pengarang memberikan judul asli Dewacawarnana atau Desyawarnana yang secara harfiah berarti penuturan tentang daerah-daerah.

Judul asli tersebut tercantum secara jelas pada pupuh 94/2 di dalam naskah tersebut. Penamaan Negarakertagama yang populer sekarang justru baru muncul kemudian melalui proses penyalinan berabad-abad setelahnya.

Waktu Penulisan di Era Majapahit

Mpu Prapanca menuliskan karya agung ini pada tahun 1365 Masehi atau bertepatan dengan tahun Saka 1287. Penulisan ini dilakukan pada masa kejayaan kerajaan yang dipimpin oleh Raja Hayam Wuruk.

Berdasarkan data sejarah, Kerajaan Majapahit sendiri berdiri sekitar abad ke-14 hingga abad ke-16. Secara lebih spesifik, para ahli mencatat masa eksistensinya berlangsung pada rentang tahun 1293 hingga 1500 Masehi.

Prapanca menuliskan kesaksiannya secara langsung mengenai kondisi ibu kota, perjalanan raja, serta hubungan diplomatik yang terjalin saat itu. Hal ini membuat karyanya menjadi sumber primer yang sangat berharga.

Peran Strategis Sang Pujangga Istana

Sebagai seorang pejabat keagamaan Buddha di istana, Prapanca memiliki akses langsung ke lingkaran dalam pemerintahan. Posisi ini memungkinkannya mencatat detail geografis dan administrasi negara dengan sangat akurat.

Dari pengamatan saya terhadap struktur teksnya, Prapanca tidak hanya menggubah puisi yang indah, tetapi juga menyusun laporan intelijen dan dokumentasi wilayah yang rapi. Setiap bait dirancang untuk mengagungkan raja sekaligus mencatat aset-aset penting kerajaan.

Kronologi Penemuan Kembali Naskah yang Dramatis

Memahami naskah ini tidak lengkap tanpa melacak bagaimana lembaran lontar kuno tersebut bisa selamat hingga ke tangan kita sekarang. Proses penemuannya melibatkan perjalanan panjang melintasi pulau dan benua.

Naskah ini sempat dianggap hilang selama ratusan tahun setelah runtuhnya ibu kota Majapahit di Jawa Timur. Namun, takdir berkata lain ketika sebuah ekspedisi militer membuka tabir sejarah yang tersembunyi jauh di pulau seberang.

Berikut adalah urutan kronologis penemuan dan penyelamatan naskah lontar kuno tersebut yang dapat Anda pelajari:

  1. Penyalinan naskah oleh seorang penyalin bernama Arthapamasah dari Singarsa (Sidemen, Karangasem, Bali) pada bulan Kartika tahun Saka 1662 atau tepatnya 20 Oktober 1740 Masehi, yang juga menambahkan kolofon bertuliskan "Nagarakretagama".
  2. Penemuan naskah nagarakretagama di lombok untuk pertama kalinya pada tahun 1894 di Puri Cakranegara, Pulau Lombok, oleh seorang ilmuwan Belanda bernama J.L.A. Brandes.
  3. Penyelamatan naskah dari kehancuran saat istana Lombok dibakar, di mana Brandes berhasil mengamankan lontar berharga tersebut dari jarahan perang.
  4. Penyimpanan naskah di Perpustakaan Universitas Leiden di Belanda selama puluhan tahun untuk diteliti oleh para orientalis Barat.
  5. Penyerahan kembali naskah secara resmi dari pihak Belanda melalui Ratu Juliana kepada Presiden Soeharto pada tahun 1971, yang terjadi pada masa pemerintahan Presiden Soeharto (1967-1998 M).
Ternyata Penemuan Kitab Negarakertagama di Lombok | NGUKARA ING KIDUNG

Hingga saat ini, upaya pencarian terus membuahkan hasil di berbagai wilayah adat. Setidaknya kini telah ditemukan lima naskah Negarakertagama yang tersebar di beberapa lokasi penting.

Beberapa naskah baru tersebut berhasil diidentifikasi di wilayah Amlapura, Geria Pidada Klungkung, dan Geria Carik Sidemen di Bali. Penemuan ini membuktikan bahwa tradisi menyalin naskah Majapahit terjaga dengan sangat baik di Bali.

Lokasi Penyimpanan dan Status Hukum Terkini

Bagi Anda yang ingin melihat langsung atau melakukan penelitian lebih dalam, naskah utama yang dikembalikan dari Belanda kini dirawat dengan standar konservasi tinggi. Pemerintah telah memberikan status hukum tertinggi untuk melindungi artefak ini.

Saat ini, lokasi penyimpanan naskah berada di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang terletak di Jakarta Pusat, Jakarta. Secara geografis, institusi ini berada pada koordinat 6°10′53″S 106°49′37″E atau 6.1812918°S 106.8268717°E.

Negara juga telah menetapkan naskah ini sebagai benda pusaka yang dilindungi undang-undang. Informasi mengenai identitas regulasi cagar budaya tersebut dapat Anda lihat pada tabel berikut ini.

Identitas Registrasi Cagar Budaya Naskah Nagarakretagama
Parameter RegistrasiData Resmi Pemerintah
No. RegnasCB.27
PeringkatNasional
KategoriBenda
No. SK280/M/2014
Tanggal SK13 Oktober 2014
Tingkat KetetapanMenteri

Melalui ketetapan hukum yang kuat tersebut, kelestarian fisik dari naskah lontar kuno ini dijamin oleh negara untuk generasi mendatang. Hal ini penting karena nilai informasi di dalamnya sangat memengaruhi jati diri bangsa.

Membedah Isi dan Asal Usul Istilah Pancasila

Pertanyaan yang sering diajukan oleh masyarakat adalah "apa isi kitab negarakertagama?" yang membuatnya begitu disakralkan. Naskah ini bukan sekadar puji-pujian kepada penguasa, melainkan sebuah ensiklopedia tata negara.

Kitab Negarakertagama menyajikan gambaran mendalam mengenai struktur kota, upacara keagamaan, perjalanan keliling Raja Hayam Wuruk, serta daftar wilayah yang mengakui supremasi Majapahit.

Satu hal yang paling mendasar bagi bangsa Indonesia adalah keberadaan asal usul istilah pancasila di dalam teks kuno ini. Nilai-nilai luhur yang kita gunakan sebagai dasar negara sekarang ternyata berakar dari sana.

Dalam naskah ini, sejarah kerajaan majapahit arti pancasila merujuk pada lima tiang tingkah laku keagamaan yang utama. Istilah yuridis-keagamaan ini ditulis oleh Mpu Prapanca untuk menggambarkan prinsip moral yang harus ditaati.

Letak istilah tersebut tertulis pada bait suci ke-53 pupuh kedua. Bunyi asli dari kalimat yang memuat prinsip tersebut adalah sebagai berikut:

  • "Yatnaggegwani pancasyiila kertasangskarbhisekaka krama"

Melalui teks tersebut, kita bisa melihat bahwa konsep dasar moralitas etis sudah berjalan sejak ratusan tahun lalu di Nusantara. Penemuan ini memberikan landasan historis yang kuat bagi ideologi modern kita.

Realitas Geopolitik Wilayah Kekuasaan Majapahit

Penting bagi kita untuk melihat hasil catatan Mpu Prapanca secara kritis berdasarkan analisis sejarah modern. Sering kali terjadi salah paham mengenai seberapa luas kekuasaan riil dari dinasti ini di masa lalu. Meskipun teks desyawarnana menyebutkan banyak daerah di luar Jawa sebagai wilayah yang bernaung di bawah Majapahit, realitas di lapangan menunjukkan hal yang berbeda.

Kita harus bisa membedakan antara klaim pengaruh diplomatik dengan kendali administratif langsung. Berdasarkan kajian mendalam para sejarawan, wilayah Kerajaan Majapahit sesungguhnya hanya berada di pulau Jawa. Fokus kendali kekuasaan yang nyata secara mutlak bertumpu di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Daerah-daerah di luar pulau Jawa biasanya berada dalam hubungan upeti atau kemitraan dagang, bukan penguasaan militer secara langsung. Fakta ini membantu kita memahami konstelasi politik kuno secara lebih rasional dan objektif.

Melalui pemahaman yang lurus mengenai siapa pengarang kitab negarakertagama beserta konteks penulisan dan penemuannya, Anda kini memiliki fondasi sejarah yang kuat. Karya Mpu Prapanca ini tetap menjadi salah satu dokumen paling berpengaruh yang membentuk narasi kebangsaan Indonesia hingga hari ini.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow