Peneliti UI Soroti Ketimpangan Akses Digital di Era Kecerdasan Buatan

Smallest Font
Largest Font

Peneliti senior di Pusat Penelitian Asia Universitas Indonesia (UI), Endah Triastuti, Ph D, menyoroti ketimpangan akses digital yang masih terjadi di tengah pesatnya perkembangan era kecerdasan buatan (AI) saat menjadi dosen tamu di Fudan Development Institute (FDDI), China, sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Kesenjangan infrastruktur internet dasar yang dialami komunitas terpencil berbanding terbalik dengan kemudahan akses teknologi di wilayah perkotaan. Triastuti menilai bahwa ketidakmerataan penyebaran teknologi ini memiliki sifat struktural dari pengucilan digital yang nyata.

"Hal itu membuat saya menyadari bahwa banyak orang belum pernah benar-benar memasuki dunia digital," kata Triastuti, dikutip dari laman Fudan University.

Kondisi marginalisasi sosial tersebut juga ditemukan oleh Triastuti pada kelompok rentan di Indonesia, termasuk para perempuan dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV). Kelompok ini menggunakan media blog anonim sebagai sarana membangun komunitas serta membagikan informasi penting.

"Mereka tidak menulis untuk uang. Mereka hanya ingin didengar," ucapnya.

Temuan-temuan di lapangan tersebut mendorong Triastuti untuk bersikap lebih kritis terhadap maraknya pendekatan yang berbasis data besar. Menurutnya, realitas sosial sering kali tidak tercermin secara akurat dalam data di jagat maya.

"Sebagian data media sosial tidak mengatakan apa pun tentang realitas. Bot dan akun terkoordinasi bahkan bisa mendistorsinya," imbuhnya.

Permasalahan literasi digital kemudian dipandang memerlukan pendekatan sosial yang komprehensif serta dukungan komunitas, bukan sekadar pengajaran aspek teknis semata. Faktor usia, kondisi kesehatan, dan lingkungan sekitar menjadi variabel penting yang harus dipertimbangkan.

Tantangan inklusi digital ini diprediksi semakin kompleks seiring dengan pertumbuhan populasi lansia di dunia, terutama ketika layanan esensial perbankan dan kesehatan mulai bermigrasi ke platform digital. Kelompok lansia ini rentan menjadi sasaran kejahatan siber karena faktor psikologis.

"Penipuan dan misinformasi tidak hanya menargetkan kurangnya pengetahuan. Mereka menargetkan kesepian, ketakutan, dan rasa tidak aman," ungkapnya.

Pemberian bantuan langsung dari keluarga atau komunitas dinilai menjadi kunci utama agar pengguna lansia tidak merasa terisolasi dalam mengadopsi sistem digital. Berdasarkan pengamatan Triastuti di China, penerapan fitur ramah lansia dan pendampingan secara langsung terbukti efektif mendorong inklusi digital.

"Pengajaran tatap muka benar-benar efektif," tuturnya.

Evaluasi terhadap desain sistem digital ke depan harus berfokus pada perlindungan kelompok yang paling rentan agar tidak tertinggal oleh modernisasi teknologi.

"Seiring bertambahnya usia masyarakat dan semakin canggihnya teknologi, pertanyaan kuncinya bukan lagi apakah orang dapat mengakses internet, tetapi apakah sistem digital dirancang dengan memperhatikan mereka yang paling berisiko tertinggal," tutupnya.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed