Alasan Lonjakan Harga Menggila Terungkap Inilah Faktor Pemicu Inflasi Awal Kemerdekaan

Smallest Font
Largest Font

Faktor pemicu utama terjadinya inflasi pada masa awal kemerdekaan disebabkan oleh beredarnya lebih dari satu mata uang secara tidak terkendali dan blokade ekonomi yang ketat oleh Belanda. Indonesia baru saja memproklamasikan kemerdekaan, namun kondisi kas negara justru kosong melongpong dan pasar domestik dibanjiri uang Jepang.

Saya melihat situasi ini seperti sebuah negara baru yang dipaksa berlari tanpa modal sepeser pun. Bayangkan saja, infrastruktur hancur total pasca-Perang Dunia II, sumber daya sangat terbatas, namun urusan perut rakyat dan operasional negara harus tetap berjalan.

Pemerintah baru bentukan Sukarno-Hatta menghadapi tantangan moneter yang luar biasa rumit. Kita tidak hanya bicara soal kekurangan uang kas, melainkan tentang kekacauan sistem pembayaran yang membuat nilai tukar jatuh bebas dan memicu lonjakan harga barang kebutuhan pokok.

Salah satu pemicu utama mengapa perekonomian kita langsung limbung setelah merdeka adalah tidak adanya mata uang tunggal. Berdasarkan data sejarah, pada 1 Oktober 1945, Pemerintah Indonesia terpaksa menetapkan berlakunya tiga mata uang sekaligus di wilayah Republik Indonesia secara bersamaan.

Langkah darurat ini diambil karena Indonesia belum memiliki uang sendiri untuk menggerakkan roda ekonomi harian. Ketiga mata uang yang diakui sementara tersebut adalah uang pecahan De Javasche Bank, uang Hindia Belanda, dan uang pendudukan Jepang.

Banjir Uang Jepang yang Tak Terkendali

Masalah terbesar muncul dari mata uang pendudukan tentara Jepang. Sebelum angkat kaki, Jepang mencetak uang dalam jumlah massal untuk membiayai keperluan perang mereka, yang kemudian ditinggalkan begitu saja di tangan masyarakat.

Jumlah uang Jepang yang beredar di awal kemerdekaan sangat fantastis, yakni mencapai 1,6 miliar di pulau Jawa saja. Sementara itu, total keseluruhan uang Jepang yang bertebaran di seluruh pelosok Indonesia diperkirakan menembus angka 4 miliar.

Akibat jumlahnya yang terlalu masif tanpa didukung oleh ketersediaan barang di pasar, nilai uang Jepang merosot tajam. Situasi inilah yang menjadi penyebab uang jepang memicu inflasi indonesia secara masif karena masyarakat memegang banyak uang tetapi tidak bisa membeli barang yang langka.

Siasat Maklumat Pemerintah Menghalau NICA

Kondisi moneter semakin memanas ketika tentara Sekutu datang diboncengi oleh Netherlands Indies Civil Administration atau NICA. Belanda mencoba meruntuhkan kedaulatan ekonomi Indonesia dengan membawa mata uang mereka sendiri untuk mengacaukan pasar.

Menanggapi agresi ekonomi tersebut, pada 2 Oktober 1945, dikeluarkanlah Maklumat Pemerintah Republik Indonesia yang dengan tegas menetapkan uang NICA tidak berlaku di wilayah RI. Langkah berani ini diambil demi melindungi kedaulatan moneter yang baru seumur jagung.

Sehari setelahnya, tepat pada 3 Oktober 1945, Maklumat Presiden Republik Indonesia kembali diterbitkan. Maklumat tersebut mempertegas jenis uang yang sementara masih berlaku sebagai alat pembayaran sah di tanah air guna meredam kepanikan masyarakat.

Pemberlakuan multi-mata uang di awal kemerdekaan mencerminkan betapa rapuhnya kendali moneter sebuah negara baru yang belum memiliki bank sentral fungsional sendiri.

Blokade Ekonomi Belanda dan Kelangkaan Barang

Inflasi tidak hanya dipicu oleh faktor internal seperti banjir mata uang asing, tetapi juga taktik kotor dari luar. Alasan mengapa belanda melakukan blokade ekonomi terhadap indonesia adalah untuk menutup pintu perdagangan internasional dan mencekik keuangan Republik Indonesia.

Belanda menutup akses keluar masuk pelabuhan-pelabuhan utama di Jawa dan Sumatra. Akibatnya, barang-barang komoditas ekspor milik Indonesia tidak bisa dijual ke luar negeri, sementara barang impor yang sangat dibutuhkan rakyat gagal masuk.

Hukum ekonomi pasar tentu berlaku di sini; ketika pasokan barang menipis akibat blokade sedangkan jumlah uang beredar terus bertambah, harga barang otomatis melonjak berkali-kali lipat. Kondisi inilah yang menjadi penyebab inflasi setelah indonesia merdeka semakin memburuk dari hari ke hari.

Upaya Penyelamatan Perekonomian yang Terjepit

Menghadapi situasi yang kian kritis, Menteri Keuangan saat itu, Ir. Surachman, harus memutar otak demi mengisi kas negara yang kosong. Pemerintah akhirnya meluncurkan kebijakan berani berupa Program Pinjaman Nasional pada Juli 1946.

Program Pinjaman Nasional ini menargetkan pengumpulan dana sebesar Rp1.000.000.000 dari rakyat yang dibagi dalam dua tahap pelaksanaannya. Pemerintah berjanji akan membayar kembali pinjaman besar tersebut selambat-lambatnya dalam waktu 40 tahun kemudian.

Meski program ini cukup membantu menunjukkan dukungan rakyat terhadap republik, masalah inflasi tetap menjadi hantu yang terus membayangi perjalanan bangsa hingga dekade-dekade berikutnya.

Bagaimana Indonesia Cari Uang di Awal Kemerdekaan | Rifan Fajrin

Perbandingan Angka Inflasi Sepanjang Sejarah Indonesia

Krisis ekonomi pada masa awal kemerdekaan merupakan fondasi rapuh yang memicu rangkaian ketidakstabilan moneter jangka panjang. Jika kita melihat dinamika ekonomi nasional, inflasi ekstrem seolah menjadi siklus yang berulang pada momen-momen transisi politik besar di Indonesia.

Untuk memahami gambaran besar perjalanan inflasi di tanah air, berikut adalah komparasi tingkat inflasi serta krisis moneter dari masa ke masa berdasarkan catatan sejarah resmi.

Rekam Jejak Tingkat Inflasi dan Krisis Moneter di Indonesia
Tahun atau PeriodeTingkat InflasiDampak Utama Kenaikan Harga
Periode Tahun 1950-an100%Biaya hidup meningkat dua kali lipat
Tahun 196020%Keuangan negara tidak stabil
Tahun 1962156%Kenaikan harga barang pokok melonjak drastis
Periode 1963 - 1965592%Hiperinflasi parah di era Orde Lama
Tahun 199877%Krisis moneter hebat dan reformasi
Awal Tahun 2020Ketidakstabilan pasar akibat pandemi COVID-19

Melihat tabel di atas, tantangan ekonomi kita memang luar biasa berat sejak awal berdiri. Puncaknya terjadi pada rentang tahun 1963 hingga 1965, di mana Indonesia mengalami krisis moneter era Orde Lama dengan tingkat hiperinflasi yang menembus angka 592% pada tahun 1965.

Pertanyaan publik seperti "kenapa terjadi hiperinflasi tahun 1965?" sebetulnya berakar dari masalah menahun yang gagal diselesaikan sejak era penyebab ekonomi buruk awal kemerdekaan. Pencetakan uang demi proyek mercusuar tanpa perhitungan matang akhirnya mengulang kepedihan moneter masa lalu.

Sejarah krisis moneter indonesia kembali terulang pada tahun 1998 dengan lonjakan inflasi sebesar 77% akibat hancurnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Rentetan peristiwa ini memperlihatkan bahwa akar masalah inflasi di Indonesia selalu berkutat pada tata kelola mata uang dan stabilitas politik makro.

Kelemahan Penanganan Ekonomi di Masa Darurat

Menurut saya, salah satu kekurangan terbesar pemerintah di awal kemerdekaan adalah lambatnya eksekusi pencetakan mata uang sendiri. Membiarkan tiga mata uang asing beredar selama berbulan-bulan sama saja dengan menyerahkan kedaulatan pasar kepada musuh dan spekulan.

Tentu kita harus memaklumi keterbatasan teknologi dan jaminan keamanan saat itu, namun kebijakan responsif seperti Maklumat Presiden terbukti kurang bertaji tanpa adanya instrumen penegakan hukum moneter yang kuat di lapangan.

Blokade Belanda memang menjadi kambing hitam yang nyata, namun lemahnya konsolidasi aset-aset eks-Jepang di daerah-daerah juga memperparah kebocoran sirkulasi uang di pasar gelap.

Tragedi inflasi awal kemerdekaan memuat pelajaran berharga bahwa sebuah negara tidak bisa dianggap merdeka sepenuhnya sebelum mampu mengendalikan mata uangnya sendiri secara absolut. Kedaulatan politik tanpa kedaulatan moneter hanyalah sebuah ilusi yang harganya harus dibayar mahal oleh kesengsaraan rakyat.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed