80 Tahun Merdeka Mengapa Persatuan Masih Harus Dipupuk Lewat Aksi
Menjaga persatuan dan kesatuan dapat dipupuk melalui kegiatan nyata di masyarakat dan bukan sekadar slogan di atas kertas. Menjelang momentum besar peringatan 80 Tahun Indonesia Merdeka, tantangan menjaga kerukunan bangsa justru semakin nyata di tengah arus modernisasi. Saya melihat banyak orang mulai melupakan bahwa kebersamaan harus dirawat setiap hari, bukan hanya saat merayakan hari kemerdekaan saja.
Sebagai seorang pengamat sosial, saya sering gemas melihat bagaimana masyarakat kita mudah terprovokasi oleh hal-hal kecil di media sosial. Padahal, jika kita mau turun ke lapangan dan aktif dalam kegiatan komunal, sekat-sekat perbedaan itu akan hilang dengan sendirinya. Merawat bangsa yang besar ini membutuhkan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat tanpa terkecuali.
Kita tidak bisa membicarakan persatuan tanpa menengok kembali fondasi sejarah yang telah diletakkan oleh para pendahulu kita. Sumpah Pemuda menjadi bukti otentik bahwa kesadaran kolektif untuk bersatu dapat melintasi batas suku, agama, dan ras yang ada di nusantara. Berdasarkan catatan sejarah dalam Buku Tematik Pengalaman Sekolah Dasar 3 karya Prastiwi, dkk. yang diterbitkan pada tahun 2007 halaman 112, isi Sumpah Pemuda menegaskan komitmen satu tumpah darah, satu bangsa, dan satu bahasa yaitu Indonesia.
Nilai-nilai yang terkandung dalam momen bersejarah tersebut bukanlah warisan mati yang cukup dihafalkan saja. Menurut buku Explore Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Jilid 2 karya Untari dan Ginawan tahun terbit 2019 halaman 134, nilai-nilai semangat Sumpah Pemuda harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari untuk menjaga keutuhan bangsa. Nilai patriotisme dan gotong royong ini menjadi modal utama kita untuk menghadapi dinamika global yang kian kompleks.
Semangat Sumpah Pemuda bukan sekadar teks sejarah, melainkan komitmen aktif yang harus dihidupkan lewat tindakan nyata di lingkungan sekitar kita.
Berbagai Kegiatan yang Terbukti Memupuk Persatuan
Memperkuat ikatan kebangsaan dapat diwujudkan melalui berbagai forum dan aktivitas yang melibatkan interaksi langsung antarwarga. Menurut saya, kegiatan kebudayaan dan dialog lintas tokoh memiliki dampak yang sangat masif dalam meredam potensi konflik sosial. Salah satu contoh nyata yang terjadi baru-baru ini adalah penyelenggaraan kegiatan Dharma Santi Kebangsaan.
Dharma Santi Kebangsaan Sebagai Perekat Bangsa
Kegiatan Dharma Santi Kebangsaan diselenggarakan dalam rangka memperingati 80 Tahun Indonesia Merdeka, sebuah angka yang sakral bagi perjalanan sebuah bangsa. Acara ini berlangsung pada hari Sabtu, 23 Agustus 2025 dengan mengambil lokasi pelaksanaan di Istana Agung Jimbarwana, Kabupaten Jembrana. Kehadiran berbagai elemen penting dalam acara ini menunjukkan adanya komitmen bersama untuk menjaga stabilitas nasional.
Dilansir dari situs resmi kab-buleleng.kpu.go.id, perwakilan DPD RI Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa menyampaikan pesan mendalam dalam sambutannya. Beliau menekankan bahwa Dharma Santi Kebangsaan menjadi momentum penting merefleksikan perjalanan bangsa selama delapan dekade. Beliau juga berharap seluruh elemen masyarakat memperkokoh semangat persatuan dan menjunjung nilai kebhinnekaan dalam bingkai NKRI.
Tidak hanya dari kalangan legislatif, penyelenggara pemilu juga turut ambil bagian dalam merawat kebersamaan ini. Ngurah Cahyudi Wirata selaku Plh. Ketua KPU Buleleng bersama Putu Arya Suarnata sebagai Kepala Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat, dan Sumber Daya Manusia KPU Buleleng turut hadir. Mereka menyampaikan bahwa kehadiran KPU Buleleng merupakan bagian dari upaya memperkuat sinergi kelembagaan serta komitmen menumbuhkan nilai kebangsaan, toleransi, dan persaudaraan demi menjaga demokrasi yang bermartabat.
Latihan Kesenian Tradisional Secara Komunal
Selain forum formal, kegiatan seni budaya di tingkat akar rumput juga memegang peranan yang tidak kalah penting. Contoh nyata yang saya soroti adalah kegiatan latihan megambel rutin yang diadakan oleh masyarakat di Bali. Aktivitas seni tradisional seperti ini memaksa setiap individu untuk menekan ego masing-masing demi terciptanya harmoni nada yang indah.
Berdasarkan laporan dari desadalung.badungkab.go.id, latihan megambel rutin ini dimulai sejak hari Sabtu (15/11) dan dirilis secara resmi pada tanggal 08/12/2025. Kegiatan ini biasanya dilakukan seminggu sekali setiap malam hari sampai hari piodalan tiba. Melalui rutinitas ini, warga dari berbagai latar belakang berkumpul dan berinteraksi secara intensif.
Pelatih Megambel, Bapak I Wayan Suardana, mengungkapkan rasa bahagianya karena para penabuh secara sukarela mengikuti kegiatan ini tanpa paksaan. Beliau berharap ke depan semakin banyak partisipan yang bergabung demi kelestarian budaya dan persaudaraan. Beliau memberikan kutipan langsung mengenai antusiasme tersebut.
“Ya semoga makin banyak pemuda atau ibu-ibu yang ikut megambel, biar ada wajah-wajah baru di kegiatan ini. dan juga kami menyambut hangat semua kalangan yang ingin ikut latihan ini,” ujar Bapak I Wayan Suardana dengan penuh optimisme.
Langkah Nyata di Lingkungan Terdekat
Bagi Anda yang ingin berkontribusi langsung, memupuk persatuan tidak harus menunggu acara besar tingkat kabupaten atau provinsi. Kita bisa memulainya dari lingkungan rukun tetangga (RT) atau komunitas terkecil yang kita ikuti sehari-hari. Hubungan yang harmonis di tingkat bawah akan menjadi fondasi kokoh bagi persatuan skala nasional.
Berikut adalah beberapa kegiatan praktis di lingkungan sekitar yang terbukti efektif menguatkan solidaritas:
- Kegiatan kerja bakti membersihkan saluran air dan fasilitas umum warga setiap bulan.
- Ronda malam bersama untuk menjaga keamanan lingkungan sekaligus sarana silaturahmi.
- Penyelenggaraan festival olahraga antar-RT untuk merayakan hari besar nasional.
- Musyawarah warga dalam menentukan solusi masalah lingkungan secara mufakat.
Namun, saya juga harus bersikap kritis terhadap pelaksanaan kegiatan-kegiatan ini di lapangan. Kekurangan atau tantangan utama yang sering saya temui adalah masalah konsistensi dan inklusivitas. Seringkali kegiatan gotong royong hanya ramai di awal atau hanya diikuti oleh kalangan orang tua saja, sementara generasi mudanya asyik dengan gawai masing-masing. Jika ego sektoral dan kemalasan ini tidak diatasi, maka esensi dari kegiatan pemersatu tersebut akan hilang dan hanya menjadi rutinitas formalitas belaka.
Peta Jalan Menuju Indonesia Emas 2045
Semua upaya yang kita lakukan hari ini memiliki benang merah yang jelas dengan masa depan geopolitik dan ekonomi Indonesia. Target pencapaian perjalanan bangsa yang disebutkan oleh para tokoh nasional adalah menuju Indonesia Emas 2045. Kita tidak akan pernah bisa mencapai status negara maju tersebut jika stabilitas internal kita terus digoyang oleh isu perpecahan.
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai keterkaitan antara kegiatan sosial dan dampaknya terhadap persatuan, saya telah merangkumnya dalam sebuah data terstruktur. Data ini menunjukkan bagaimana aktivitas sederhana memiliki dampak strategis bagi bangsa.
| Jenis Kegiatan | Frekuensi Pelaksanaan | Target Capaian Sosial |
|---|---|---|
| Dharma Santi Kebangsaan | Tahunan / Momentum Khusus | Sinergi Kelembagaan & Toleransi |
| Latihan Megambel Rutin | Seminggu Sekali | Pelestarian Budaya & Integrasi Pemuda |
| Kerja Bakti Lingkungan | Bulanan | Solidaritas Akar Rumput |
Melihat data di atas, terlihat jelas bahwa setiap kegiatan memiliki porsinya masing-masing dalam membangun ketahanan sosial kita. Menjaga persatuan dan kesatuan dapat dipupuk melalui kegiatan yang terstruktur dan konsisten di semua lini kehidupan masyarakat.
Mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 membutuhkan kerja keras kolektif yang konsisten dari tingkat pusat hingga ke banjar-banjar digital kita. Solidaritas tidak tercipta secara instan, melainkan harus ditempa melalui interaksi sosial yang sehat, keterbukaan dalam menerima perbedaan, dan kerelaan untuk bergotong royong tanpa pamrih. Kesadaran untuk terus bergerak bersama dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia harus menjadi komitmen hidup yang kita bawa setiap hari.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow