Radio Rimba Raya Mengudara dari Bener Meriah Menepis Isu Indonesia Runtuh
Agresi Militer Belanda kedua pada tahun 1948 menjadi fase kritis bagi kedaulatan Indonesia. Pihak Belanda gencar menyebarkan propaganda bahwa Republik Indonesia telah hancur setelah berhasil menguasai sarana komunikasi dan pemancar RRI, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Di tengah tekanan propaganda tersebut, stasiun Radio Rimba Raya (RRR) yang bermarkas di Aceh muncul sebagai penyelamat.
Radio darurat ini dioperasikan oleh Tentara Republik Indonesia Divisi X/Aceh di bawah komando Kolonel Husein Yusuf. Radio Rimba Raya berhasil mematahkan narasi bohong yang dihembuskan pihak musuh. Melalui siaran singkatnya, stasiun ini secara tegas mengabarkan kepada dunia bahwa Indonesia masih berdiri tegak.
"Republik Indonesia masih ada, karena pemimpin republik masih ada. Tentara republik masih ada, pemerintah republik masih ada, wilayah republik masih ada dan di sini adalah Aceh," demikian bunyi penggalan siaran singkat Radio Rimba Raya, dikutip dari laman Pemerintah Kabupaten Bener Meriah.
Pesan penegasan kedaulatan tersebut dipancarkan ke berbagai penjuru dunia menggunakan tiga bahasa, yaitu bahasa Urdu, Inggris, dan Indonesia. Pemancaran siaran berskala internasional ini berlangsung rutin mulai 23 Agustus sampai 2 November 1949. Stasiun RRR beroperasi dari kawasan hutan belantara Dataran Tinggi Gayo, Bener Meriah. Fasilitas penyiaran ini mengandalkan pemancar berkekuatan satu kilowatt pada frekuensi 19,25 dan 61 meter.
Jangkauan sinyal radio dari pedalaman Aceh ini berhasil menembus lintas negara. Sejumlah stasiun penerima di Semenanjung Melayu, Singapura, Saigon, Manila, hingga kawasan Australia dan Eropa dapat menangkap siarannya secara jernih, yang kemudian mendorong pengakuan kedaulatan dari berbagai negara. Saat ini, area bekas markas penyiaran RRR telah dialihfungsikan menjadi objek wisata sejarah di kawasan Dataran Tinggi Gayo. Di lokasi ini berdiri Tugu Perjuangan Radio Rimba Raya yang diresmikan oleh Bustanul Arifin selaku Menteri Koperasi/Kepala Badan Logistik pada 27 Oktober 1987.
Pada dinding monumen tersebut terpahat catatan sejarah yang menggambarkan situasi genting serta kontribusi penting RRR bagi keutuhan negara. Ibu kota Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda pada 19 Desember 1948, yang menyebabkan siaran RRI terhenti total. Radio Belanda Hilversum kemudian mengumumkan kejatuhan Republik Indonesia ke masyarakat internasional. Menanggapi situasi darurat tersebut, Gubernur Militer Aceh, Langkat, dan Tanah Karo memutuskan dalam sidang Dewan Pertahanan Daerah agar pemancar radio darurat segera mengudara pada 20 Desember 1948.
Pemerintah daerah Aceh sebelumnya telah mengupayakan pengadaan pemancar kuat dari luar negeri. Perangkat tersebut akhirnya ditempatkan di Ronga-Ronga setelah melalui proses pendistribusian yang panjang.
Siaran RRR terus dipancarkan secara berkala hingga Belanda secara resmi mengakui kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949 melalui hasil Konferensi Meja Bundar di Den Haag. Peran historis ini menjadikan Radio Rimba Raya tercatat sebagai cikal bakal lahirnya siaran luar negeri RRI.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow