Bukan Diatonis Jawabannya Rahasia Tangga Nada yang Memiliki 5 Nada
Jawaban pasti untuk pertanyaan mengenai tangga nada yang memiliki 5 buah nada adalah tangga nada pentatonis, sebuah sistem musikal yang sangat kaya dan mengakar kuat dalam kebudayaan tradisional kita. Bagi sebagian orang, materi seni budaya tangga nada mungkin terasa seperti hafalan teori yang membosankan di sekolah.
Namun, saat saya mendengarkan kembali alunan musik tradisional atau melodi modern, pemahaman tentang bagaimana lima nada pokok ini bekerja memicu kekaguman tersendiri. Karakteristik suaranya yang unik memberikan identitas emosional yang kuat, sangat berbeda dengan musik barat konvensional.
Mari kita bedah secara kritis mengapa struktur ini begitu istimewa dan bagaimana eksistensinya bertahan hingga saat ini.
Secara etimologis, istilah ini sebenarnya sangat mudah dipahami jika kita merujuk pada asal-usul bahasanya. Menurut J. Julia, dkk (2021) dalam buku Pengembangan Media Pembelajaran Musik Berbasis Digital untuk Sekolah Dasar, pentatonis adalah tangga nada dengan lima nada dalam satu oktaf yang berasal dari kata penta yang memiliki arti lima.
Jika Anda membandingkannya dengan sistem diatonis yang memiliki 7 buah nada pokok seperti Do Re Mi Fa So La Si, varian lima nada ini memangkas beberapa interval untuk menciptakan harmoni yang lebih spesifik. Berdasarkan Buku Seni Budaya SMA Kemdikbud, tangga nada merupakan sebuah rangkaian nada yang disusun sesuai dengan jarak tertentu, berfungsi untuk menentukan naik turunnya sebuah nada atau melodi.
Pentatonis memangkas beberapa interval diatonis untuk menciptakan ruang harmoni yang khas dan emosional.
Uniknya, susunan ini tidak selalu kaku. Buku Peristiwa dalam Kehidupan (Penerbit Duta) melansir bahwa tangga nada pentatonis tidak dilihat berdasarkan jarak nada, tetapi dari urutannya dalam tangga nada.
Fleksibilitas urutan inilah yang membuat musik tradisional di berbagai daerah memiliki warna suara yang berbeda secara signifikan, walaupun sama-sama hanya bermodalkan lima nada pokok.
Perbedaan Pelog dan Slendro dalam Musik Tradisional
Di Indonesia, khususnya dalam ranah musik gamelan, kita mengenal dua variasi utama dari sistem lima nada ini, yaitu pelog dan slendro. Memahami perbedaan pelog dan slendro secara kritis akan membantu kita menyadari mengapa atmosfer yang dihasilkan kedua jenis skala ini bisa terasa sangat kontras di telinga.
Karakteristik dan Format Nada Pelog
Format nada pelog memiliki susunan dasar yang sebenarnya terdiri dari tujuh nada, yaitu 1-2-3-4-5-6-7. Namun, dalam praktiknya, nada 2 (re) dan 6 (la) sangat jarang digunakan dalam pertunjukan musik.
Akibatnya, nada yang dominan terdengar hanya lima buah, yaitu 1-3-4-5-7-1 atau jika disuarakan menjadi do-mi-fa-sol-si-do. Jika ditranslasikan ke dalam notasi tuts piano barat dengan nada dasar C = Do, padanannya mendekati rangkaian nada C-E-F-G-B.
Kombinasi ini melahirkan suasana yang cenderung tenang, khidmat, hormat, dan terkadang membawa nuansa sakral yang magis. Contoh lagu tangga nada pelog yang sangat populer di masyarakat antara lain Gundhul Pacul dan Suwe Ora Jamu.
Ciri Ciri Tangga Nada Slendro
Berbeda total dengan pelog, ciri ciri tangga nada slendro dicirikan oleh sifatnya yang gembira, lincah, bersemangat, dan penuh keseruan. Skala ini tersusun atas lima nada pokok yang lurus, yaitu 1-2-3-5-6 atau do-re-mi-sol-la.
Jika kita menggunakan instrumen barat seperti tuts-tuts putih piano dengan patokan C = Do (C-D-E-F-G-A-B), maka slendro akan mengambil nada C-D-E-G-A. Interval nadanya memiliki jarak yang cenderung konsisten dan khas, yaitu 1-1-1½-1-1½.
Meskipun ada variasi catatan dari literatur seni budaya lain yang menyebutkan urutannya sebagai 1-2-3-4-5-7 tanpa melibatkan nada fa (4) dan si (7), esensi utama slendro tetap mempertahankan nuansa keceriaan yang dinamis. Lagu daerah seperti Cublak-cublak Suweng merupakan representasi sempurna dari skala slendro ini.
Sistem Penamaan Nada di Berbagai Daerah
Salah satu aspek yang menurut saya sangat menarik dari kekayaan budaya nusantara adalah bagaimana setiap daerah memiliki identitas linguistiknya sendiri dalam menyebut kelima nada pokok ini. Gamelan daerah memiliki istilah penyebutan nadanya sendiri yang sangat berkarakter.
Masyarakat Sunda mengenalnya dengan sebutan da mi na ti la. Sementara itu, dalam tradisi Jawa, kelima nada tersebut diistilahkan dengan kata nem mo lu ro ju. Bergeser ke pulau seberang, masyarakat Bali menggunakan vokalitas yang berbeda lagi, yaitu ding dong deng dung dang.
| Jenis Skala | Susunan Nada Pokok | Padanan Notasi Piano (C=Do) | Karakter Suara |
|---|---|---|---|
| Pelog | 1-3-4-5-7 | C-E-F-G-B | Tenang, khidmat, sakral |
| Slendro | 1-2-3-5-6 | C-D-E-G-A | Gembira, lincah, semangat |
Keberagaman istilah ini membuktikan bahwa meskipun secara teori matematika frekuensi mereka masuk dalam payung tangga nada yang memiliki 5 nada, manifestasi budaya di lapangan sangat kaya dan tidak bisa diseragamkan begitu saja.
Kelemahan dan Batasan Tangga Nada Pentatonis
Sebagai seorang pengamat yang kritis, saya harus bersikap objektif bahwa sistem lima nada ini tidak luput dari keterbatasan teknis. Kelemahan utama dari struktur pentatonis terletak pada keterbatasan eksplorasi harmoninya.
Karena kehilangan beberapa nada intermediet seperti yang ada pada interval nada mayor (1, 1, ½, 1, 1, 1, ½) atau interval nada minor (1, ½, 1, 1, ½, 1, 1), tangga nada ini sulit digunakan untuk memainkan komposisi musik barat yang membutuhkan modulasi atau perpindahan kunci yang kompleks.
Akord-akord modern yang menggunakan ekstensi tingkat tinggi akan terdengar janggal atau bahkan kehilangan karakternya jika dipaksakan masuk ke dalam skala pentatonis tradisional yang kaku.
Relevansi Pentatonis dalam Industri Musik Modern
Meskipun memiliki keterbatasan dalam fleksibilitas akord klasik, skala dengan lima nada ini justru menemukan napas baru dalam industri musik modern global. Repositori UMM melansir bahwa tangga nada pentatonis biasa digunakan pada musik-musik kontemporer terutama genre rock, pop, dan blues.
Para gitaris rock dunia sangat bergantung pada skala pentatonis minor untuk mengeksekusi melodi solo mereka karena sifat nadanya yang 'aman' dan minim risiko fals saat dimainkan dalam tempo tinggi. Hal ini membuktikan bahwa rumus kuno lima nada ini sama sekali tidak usang, melainkan bertransformasi menjadi fondasi estetika musik populer saat ini.
Tangga nada pentatonis, baik dalam wujud pelog, slendro, maupun skala blues modern, adalah bukti nyata bagaimana keterbatasan jumlah nada justru melahirkan kreativitas tanpa batas yang melintasi sekat zaman dan genre musik.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow