Semboyan Bhinneka Tunggal Ika Mengajarkan Kita untuk Melawan Polarisasi Bangsa

Smallest Font
Largest Font

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika mengajarkan kita untuk tetap kokoh menjaga persatuan di tengah gempuran perbedaan yang ada di sekitar kita. Saya melihat bahwa di tengah dinamika sosial yang kerap memanas saat ini, pesan warisan leluhur ini justru menjadi semakin krusial untuk diresapi kembali.

Sebagai masyarakat Indonesia, kita tidak bisa terus-menerus mengabaikan gesekan kecil yang timbul akibat ego kelompok. Memahami makna semboyan Indonesia bukan lagi sekadar hafalan materi pelajaran sekolah, melainkan sebuah panduan bertahan hidup bagi bangsa yang besar ini.

Ketika saya menelaah kembali bagaimana negara kepulauan terbesar di dunia ini berdiri, fondasi kebangsaan kita jelas bukan keseragaman. Keberagaman dari Sabang sampai Merauke adalah realitas yang harus dikelola dengan bijak, bukan dipaksakan untuk menjadi sama.

Memahami Arti Semboyan Bhinneka Tunggal Ika | Kelas 5 SDIT QA

Mengapa Semboyan Kuno Masih Relevan Hari Ini?

Bhinneka Tunggal Ika berasal dari bahasa Jawa Kuno yang secara harfiah dapat diartikan "Berbeda itu tetap satu" atau "Walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua". Frasa Bhinneka Tunggal Ika tertulis pada lambang negara Indonesia, yaitu Garuda Pancasila.

Kata "bhinneka" berasal dari dua kata yang mengalami sandhi, yaitu "bhinna" yang berarti terpisah atau berbeda, dan "ika" yang berarti itu. Sementara itu, kata "tunggal" berarti satu, sehingga membentuk sebuah kesatuan makna yang utuh.

Dari struktur bahasanya yang indah, kita diajarkan untuk mengakui bahwa perbedaan itu nyata adanya. Namun, perbedaan tersebut bukanlah alasan untuk mencerai-beraikan komitmen kita sebagai satu bangsa dan satu tanah air.

Menengok Sejarah Bhinneka Tunggal Ika dari Abad ke-14

Mari kita tengok sejarah Bhinneka Tunggal Ika yang sangat kaya nilai historis. Kalimat Bhinneka Tunggal Ika merupakan kutipan dari kakawin Jawa Kuno, yaitu kakawin Sutasoma yang legendaris.

Karya sastra agung kakawin Sutasoma dikarang oleh Mpu Tantular, seorang pujangga masyhur pada zaman keemasan Nusantara. Kakawin Sutasoma dibuat sekitar abad ke-14, sebuah masa di mana toleransi beragama diuji dalam lingkup kerajaan.

Mpu Tantular menggubah karya ini di bawah pemerintahan Raja Rājasanagara atau yang lebih kita kenal sebagai Hayam Wuruk. Raja dari Kerajaan Majapahit yang memerintah tahun 1350–1389 tersebut berhasil membawa era kedamaian melalui prinsip toleransi ini.

Konsep Toleransi Otentik Versi Mpu Tantular

Pada awalnya, teks kakawin Sutasoma mengajarkan toleransi antara umat Hindu Siwa dengan umat Buddha. Dua agama besar yang hidup berdampingan di bawah payung Majapahit pada masa itu.

Bait dalam kakawin Sutasoma yang memuat frasa tersebut berbunyi secara lengkap:

"Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa, Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal, Bhinnêki tunggal ika tan hana dharma mangrwa."

Terjemahan kira-kira bait tersebut adalah konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda. Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali? Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal.

Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran. Bagi saya, pelajaran Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar romantisasi masa lalu Kerajaan Majapahit.

Kita hidup di era modern di mana gesekan antargolongan bisa tersulut dengan sangat cepat lewat media sosial. Semboyan ini menuntut kita untuk aktif menumbuhkan empati di tengah masyarakat Indonesia beragam bersatu. Menghargai perbedaan pendapat, keyakinan, dan latar belakang budaya adalah kewajiban mutlak setiap warga negara.

Sayangnya, kekurangan yang sering saya lihat di lapangan adalah kecenderungan masyarakat yang hanya mengagungkan semboyan ini sebagai slogan belaka. Praktik toleransi sehari-hari sering kali kalah oleh kepentingan politik sesaat atau sentimen kelompok.

Untuk memudahkan pemahaman mengenai elemen-elemen bahasa dalam semboyan ini, mari perhatikan struktur kata pembentuknya.

Analisis Struktur Kata dalam Semboyan Kebangsaan
Kata AsalJenis BahasaArti Harfiah
BhinnaJawa KunoTerpisah atau berbeda
IkaJawa KunoItu
TunggalJawa KunoSatu

Bagaimana Mengamalkan Esensi Persatuan dalam Perbedaan Indonesia?

Mengamalkan esensi persatuan dalam perbedaan Indonesia membutuhkan langkah nyata yang konsisten dari diri kita sendiri. Kita tidak bisa terus berharap perubahan datang dari orang lain tanpa memulai dari lingkungan terdekat. Menurut ulasan artikel di Liputan6, penerapan semboyan ini harus menyentuh ranah inklusivitas sosial. Hal ini berarti kita wajib memberikan ruang yang sama bagi setiap individu tanpa memandang latar belakang suku atau agamanya.

Saya menilai bahwa kegagalan dalam mengimplementasikan nilai ini akan berujung pada keretakan sosial yang parah. Oleh karena itu, edukasi mengenai toleransi harus terus digaungkan di berbagai lini kehidupan masyarakat. Berikut adalah beberapa tindakan nyata yang mencerminkan pengamalan semboyan kebangsaan kita:

  • Mengembangkan sikap tenggang rasa dan saling menghormati antarumat beragama di lingkungan rumah.
  • Menolak segala bentuk diskriminasi dan perundungan yang berbasis pada sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan.
  • Mengutamakan musyawarah untuk mencapai mufakat demi kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau kelompok.
  • Bahu-membahu membantu sesama warga yang tertimpa musibah tanpa melihat latar belakang sosialnya.

Media Kumparan juga sempat menyebutkan bahwa tantangan terbesar bangsa ini adalah merawat konsistensi dalam keberagaman. Ketika kita mulai abai, ego sektoral akan dengan mudah merusak jalinan persatuan yang sudah lama dirajut.

Kondisi pasar informasi yang penuh dengan hoaks saat ini menuntut kita untuk lebih bijak. Persatuan tidak akan pernah tercapai jika kita dengan mudah terprovokasi oleh narasi-narasi pembelahan yang merusak kedamaian bangsa. Melihat kenyataan yang ada, saya berpandangan bahwa semboyan ini harus menjadi kompas moral utama kita.

Ketika ego kelompok mulai mendominasi, ingatlah kembali pita yang dicengkeram erat oleh Garuda Pancasila di ruang-ruang publik kita. Kesadaran kolektif ini adalah modal utama bagi Indonesia untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks ke depan. Tanpa adanya persatuan yang kokoh di dalam negeri, kita akan sangat mudah digoyang oleh kekuatan luar.

Prinsip dasar dari Mpu Tantular puluhan abad yang lalu memberikan penegasan kuat bahwa kebenaran dan persatuan itu bersifat mutlak. Perbedaan fisik dan pemikiran luaran seharusnya tidak menjadi penghalang untuk mewujudkan integrasi nasional yang harmonis.

Menghidupkan kembali roh Bhinneka Tunggal Ika dalam setiap embusan napas berbangsa adalah harga mati. Kita harus berani melangkah keluar dari zona nyaman kelompok sendiri demi merajut kembali tenun kebangsaan yang inklusif. Langkah terbaik untuk merawat bangsa ini adalah dengan memperlakukan perbedaan sebagai kekayaan, bukan sebagai ancaman yang menakutkan. Mari kita pastikan bahwa semboyan legendaris ini tetap hidup dan bertenaga dalam tindakan nyata sehari-hari, bukan sekadar menjadi pajangan mati di dinding-dinding formalitas.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow