Sikap Primordial Mengancam Integrasi Bangsa Ini Dampak Buruk yang Muncul

Smallest Font
Largest Font

Dampak yang diakibatkan oleh sikap primordial adalah pemicu utama retaknya integrasi sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika seseorang atau kelompok memegang teguh ikatan tradisi, suku, agama, dan ras secara berlebihan, batas sosial antarwarga akan menebal. Kondisi ini lambat laun menciptakan sekat yang menghambat komunikasi sehat antarkelompok.

Memahami konsekuensi dari pandangan ini sangat penting bagi kita yang hidup dalam negara multikultural.

Dari pengalaman saya mengamati dinamika sosial di lapangan, banyak konflik horizontal bermula dari sentimen kelompok yang dibiarkan menajam tanpa adanya mitigasi dini.

Secara mendasar, definisi primordialisme merupakan suatu pandangan, paham, atau sikap yang berpegang teguh pada hal-hal yang dibawa sejak lahir. Faktor bawaan tersebut meliputi suku, agama, ras, maupun klan. Berdasarkan karakteristik primordialisme, paham ini menyebabkan masyarakat cenderung berkelompok berdasarkan ikatan sosial yang sama.

Pengelompokan ini sebenarnya alamiah, namun menjadi berbahaya ketika berubah menjadi eksklusivitas mutlak.

Karakteristik primordialisme menyebabkan masyarakat cenderung berkelompok berdasarkan ikatan sosial yang sama, sehingga memicu keretakan jika tidak dikelola dengan bijak.

Dalam kasus yang sering saya temui di berbagai daerah, pembentukan faksi-faksi sosial ini sering kali memicu kecurigaan antarwarga. Masyarakat menjadi enggan membuka diri terhadap kebudayaan luar. Akibatnya, penilaian objektif terhadap kelompok lain menjadi kabur dan digantikan oleh prasangka buruk.

Dampak Destruktif Sikap Primordial dalam Kehidupan Berbangsa

Ketika pandangan ini mendominasi, efek domino yang ditimbulkannya dapat merusak tatanan hukum dan stabilitas nasional secara luas. Berikut adalah beberapa dampak nyata yang kerap muncul di permukaan masyarakat:

  • Menghambat Proses Integrasi Nasional: Penyatuan berbagai elemen bangsa menjadi sulit tercapai karena tiap kelompok merasa identitasnya paling utama.
  • Memicu Konflik Horizontal: Gesekan kecil antarindividu dengan mudah ditarik menjadi benturan antar-suku atau antar-agama.
  • Mengurangi Objektivitas Publik: Pengambilan keputusan bersama sering kali didasarkan pada kedekatan golongan, bukan pada kompetensi atau kebenaran.
  • Menyuburkan Sikap Etnosentrisme: Pandangan yang menganggap budaya sendiri jauh lebih unggul dibandingkan kebudayaan kelompok lain.

Kesalahan umum yang saya lihat adalah masyarakat sering menganggap remeh riak-riak kecil dari pengelompokan ini.

Padahal, sentimen yang terus dipupuk dapat meledak kapan saja saat dipicu oleh provokasi.

Primordialisme, Faktor, Bentuk dan Dampak Positif Negatifnya | Elda Elfiyanti

Panduan Praktis Mengurangi Dampak Sikap Primordial di Lingkungan Kita

Untuk memecahkan masalah polarisasi ini, kita memerlukan langkah-langkah terstruktur yang dapat diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Langkah-langkah berikut dirancang untuk mereduksi sekat sosial tersebut secara bertahap:

  1. Membuka Ruang Dialog Antarkomunitas: Buatlah forum komunikasi atau kegiatan bersama yang melibatkan berbagai latar belakang suku dan agama di lingkungan RT atau RW.
  2. Mengikis Prasangka Melalui Edukasi: Edukasi anggota keluarga dan komunitas mengenai pentingnya toleransi, serta saring informasi yang berpotensi memecah belah sebelum menyebarkannya.
  3. Menumbuhkan Karakter Positif Berbangsa: Mengembangkan kapasitas diri, kemampuan inovasi, dan kreativitas tinggi agar fokus masyarakat beralih pada persaingan global yang produktif.
  4. Menegakkan Aturan Hukum Secara Adil: Memastikan setiap pelanggaran hukum yang bermotif sentimen kelompok diselesaikan melalui jalur legal, tanpa tebang pilih.

Dari pengalaman saya menangani diskusi lintas komunitas, langkah pertama yaitu membuka ruang dialog selalu menjadi tahapan paling krusial.

Sebab, prasangka biasanya runtuh ketika orang-orang mulai duduk bersama dan saling mendengarkan.

Tantangan Modern di Era Keterbukaan Informasi

Dampak negatif dari paham ini kian kompleks jika dikaitkan dengan derasnya arus teknologi masa kini. Dilansir dari laporan resmi polkam.go.id, Deputi Bidang Koordinasi Hukum dan Hak Asasi Manusia Fadil Zumhana pernah mengingatkan mengenai tantangan perkembangan zaman ini.

Beliau menyampaikan pandangannya mengenai dinamika pemuda dan arus informasi:

“Namun pada sisi yang lain, perkembangan ini mempunyai dampak negatif. Informasi-informasi yang bersifat destruktif mulai dari pornografi, narkoba, pergaulan bebas hingga radikalisme dari terorisme juga masuk dengan mudahnya apabila pemuda tidak dapat membendung dengan filter ilmu pengetahuan dan karakter positif dalam berbangsa dan bernegara,”

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa radikalisme dan sikap eksklusif dengan mudah menyusup melalui ruang digital jika tidak difilter dengan baik. Oleh karena itu, kemampuan menyaring informasi menjadi benteng utama masyarakat saat ini.

Pemuda sebagai pilar bangsa harus mengambil peran aktif dalam membendung narasi-narasi destruktif tersebut.

Fadil Zumhana juga menambahkan kriteria penting untuk generasi muda:

“Pemuda untuk Indonesia maju adalah pemuda yang memiliki karakter, kapasitas, kemampuan inovasi, kreativitas yang tinggi, mandiri, inspiratif serta mampu bertahan dan unggul dalam menghadapi persaingan dunia,”

Dengan fokus pada peningkatan kapasitas diri, perhatian generasi muda akan teralih dari perselisihan primordial internal menuju persaingan global yang positif.

Hal ini selaras dengan semangat historis bangsa kita.

Tepat pada upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-91 yang dilaksanakan pada Senin, 28 Oktober 2019, tema yang diangkat secara nasional adalah "Bersatu Kita Maju". Tema ini menjadi pengingat berharga bahwa persatuan adalah prasyarat mutlak untuk mencapai kemajuan bersama di tengah keberagaman.

Kita tidak boleh melupakan esensi dari komitmen sejarah tersebut.

Sebab, tantangan masa depan menuntut adanya kolaborasi yang kokoh antarseluruh elemen bangsa tanpa memandang sekat lahiriah.

Perbandingan Dampak Sosial Antara Sikap Inklusif dan Sikap Primordialisme
Aspek SosialSikap InklusifSikap Primordialisme
Komunikasi AntarkelompokTerbuka dan adaptifTertutup dan eksklusif
Potensi Konflik HorizontalRendah karena toleransiTinggi akibat prasangka
Proses Integrasi NasionalBerjalan lebih cepatTerhambat sekat tradisi
Dasar Penilaian IndividuKompetensi dan kinerjaIkatan suku atau ras

Melihat perbandingan di atas, jelas bahwa melepaskan belenggu eksklusivitas adalah pilihan logis demi keberlangsungan hidup bermasyarakat yang harmonis.

Peran aktif setiap individu dalam merawat ruang publik yang inklusif menjadi kunci utama.

Fadil Zumhana memberikan penekanan akhir yang sangat relevan mengenai potensi besar generasi muda kita:

“Disinilah diharapkan peran pemuda dapat bersaing dalam bentuk apapun tentunya dalam hal yang posistif. Pemuda adalah masa depan bangsa dan negara, pemuda juga harapan bagi dunia, pemuda Indonesia harus maju dan berani menaklukan dunia, saya berharap kedepan akan banyak muncul tokoh-tokoh muda yang mendunia,”

Menolak tunduk pada sekat-sekat primordial yang sempit adalah langkah awal untuk melahirkan tokoh-tokoh besar yang mampu membawa membawa nama baik bangsa ke kancah internasional.

Memilih untuk bersatu dan inklusif bukan berarti menghapus identitas asal kita, melainkan menempatkan persatuan nasional di atas kepentingan golongan demi menghadapi tantangan global yang semakin berat.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed