Kudeta Berdarah di Bandung, Ternyata Ini Tujuan Utama Pemberontakan APRA
Tujuan pemberontakan APRA di Jawa Barat adalah mempertahankan bentuk negara federal Republik Indonesia Serikat (RIS) dan mengamankan posisi tentara swasta bentukan mereka. Gerakan yang dipimpin oleh mantan kapten komando Belanda ini berupaya keras menggagalkan rencana pembubaran negara bagian bikinan Belanda. Aksi militer ini menjadi salah satu noda hitam dalam sejarah awal kemerdekaan Indonesia.
Kelompok milisi ini tidak segan melepaskan tembakan brutal ke arah tentara nasional dan warga sipil. Bagi Anda yang sedang mempelajari sejarah nasional, memahami motivasi di balik gerakan ini sangat penting. Mari bedah secara mendalam langkah demi langkah, latar belakang, hingga dampak fatal dari kudeta bersenjata ini.
Konflik ini tidak muncul secara mendadak begitu saja dari ruang hampa. Ketegangan politik yang masif pasca-Konferensi Meja Bundar (KMB) menjadi pemicu utama lahirnya gerakan radikal ini.
Penolakan Terhadap Pembubaran Negara Federal
Hasil KMB memaksa Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat. Bentuk negara federal ini memecah wilayah Indonesia menjadi beberapa negara bagian, termasuk Negara Pasundan di Jawa Barat.
Masyarakat dan tokoh nasionalis justru menuntut pembubaran sistem federal ini untuk kembali ke bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Arus balik menuju unitarisme ini membuat kelompok pro-Belanda dan para loyalis federal merasa sangat terancam.
Masa Depan KNIL yang Tidak Jelas
Masalah krusial lain muncul dari proses restrukturisasi militer yang sedang berjalan saat itu. Berdasarkan kesepakatan politik, pasukan tentara kerajaan Hindia Belanda (KNIL) harus dibubarkan secara bertahap.
Anggota KNIL ditawarkan untuk bergabung ke dalam Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS). Pihak pimpinan APRIS menegaskan bahwa inti dari tentara nasional tetap berasal dari Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Kondisi ini memicu penolakan keras dari internal eks-KNIL. Mereka enggan tunduk di bawah komando perwira TNI yang sebelumnya menjadi musuh bebuyutan mereka di medan perang.
Siapa itu Raymond Westerling dan Apa Perannya?
Nama Raymond Westerling menjadi aktor intelektual sekaligus komandan lapangan paling dicari dalam pergolakan ini. Mantan perwira militer Belanda ini memiliki rekam jejak operasi militer yang sangat kontroversial.
Sebelum memimpin milisi di Jawa Barat, Westerling sudah dikenal luas lewat aksi brutalnya di wilayah lain. Rekam jejak kekejamannya terekam jelas dalam garis waktu sejarah militer kolonial Belanda.
| Tahun Peristiwa | Lokasi Operasi | Nama Kelompok / Pasukan |
|---|---|---|
| 1946–1947 | Sulawesi Selatan | Pasukan Khusus Belanda (Depot Speciale Troepen) |
| 1950 | Bandung, Jawa Barat | Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) |
Westerling memanfaatkan mitos ramalan Jayabaya mengenai datangnya "Ratu Adil" yang akan membawa kedamaian dan keadilan. Nama ini sengaja dipakai untuk memikat dukungan psikologis dari masyarakat lokal yang sedang mengalami masa transisi politik yang penuh ketidakpastian.
Langkah demi Langkah Kronologi Pemberontakan APRA di Indonesia
Dalam praktik analisis sejarah yang sering saya lakukan, sebuah pemberontakan besar selalu memiliki fase persiapan, provokasi, hingga eksekusi fatal. Berikut adalah urutan langkah kronologis bagaimana gerakan ini bergerak merusak stabilitas keamanan di Jawa Barat.
- Pembentukan Pasukan Milisi: Raymond Westerling mendirikan organisasi militer swasta bernama Angkatan Perang Ratu Adil. Anggota milisinya sebagian besar terdiri dari sisa-sisa pasukan KNIL yang tidak puas dengan kebijakan integrasi militer.
- Pengiriman Surat Ultimatum: Pada tanggal 5 Januari 1950, Westerling mengirimkan surat ultimatum resmi kepada pemerintah RIS. Dia menuntut agar APRA diakui sebagai tentara resmi untuk mengamankan wilayah Negara Pasundan.
- Penolakan Tegas dari Jakarta: Pemerintah pusat menolak mentah-mentah tuntutan gila tersebut. Perdana Menteri Mohammad Hatta bertindak cepat dengan mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Westerling pada tanggal 10 Januari 1950.
- Mobilisasi Pasukan Rahasia: Mengetahui dirinya menjadi buronan, Westerling mempercepat rencana kudeta berdarah. Dia mengumpulkan kekuatan tempur yang masif di wilayah sekitar Jawa Barat.
- Serangan Kilat ke Kota Bandung: Pasukan milisi bergerak masuk ke jantung kota secara mendadak. Mereka langsung mengincar markas militer dan pos-pos penjagaan tentara nasional.
Pemberontakan bersenjata ini melibatkan sekitar 2.000 orang pasukan pada tahun 1950 yang bergerak taktis menyisir seluruh sudut kota Bandung.
Tragedi Berdarah 23 Januari 1950 di Bandung
Puncak dari seluruh rencana Westerling meletus pada pagi buta tanggal 23 Januari 1950. Kota Bandung berubah total menjadi medan pertempuran yang sangat mencekam dan tidak seimbang. Pasukan APRA yang bersenjata lengkap melakukan serbuan mendadak ke pos-pos pertahanan milik TNI. Mereka menembak mati setiap anggota tentara nasional yang berpapasan di jalan tanpa memberikan kesempatan untuk membela diri.
Target utama serangan brutal ini adalah markas Divisi Siliwangi. Akibat serangan mendadak yang sangat keji ini, sebanyak 94 anggota TNI dari Divisi Siliwangi tewas gugur di medan laga. Kesalahan umum yang saya lihat dalam beberapa catatan awam adalah menganggap serangan ini berhasil menduduki wilayah secara permanen. Faktanya, pendudukan ini hanya bertahan beberapa jam karena ketangkasan sisa pasukan TNI dalam melakukan konsolidasi pertahanan dan serangan balik taktis.
Pelarian dan Berakhirnya Gerakan Milisi Ratu Adil
Setelah aksi berdarah di Bandung gagal memicu pemberontakan massal di wilayah lain, posisi Westerling semakin terjepit. Pemerintah RIS memperketat pengamanan dan melakukan pengejaran militer secara agresif. Rencana Westerling untuk melanjutkan kudeta di Jakarta berhasil digagalkan oleh aparat keamanan.
Sadar bahwa kekuatannya telah hancur dan dukungan politiknya runtuh, sang komandan memilih melarikan diri. Pada tanggal 22 Februari 1950, Raymond Westerling melarikan diri ke Singapura. Dia berhasil kabur dari kejaran intelijen Indonesia dengan menumpang pesawat Catalina milik Angkatan Laut Belanda.
Kepergian pemimpin utamanya membuat sisa-sisa anggota milisi kehilangan arah komando. Organisasi ini pecah dan bubar sepenuhnya dalam waktu singkat, sekaligus memuluskan jalan bagi pembubaran Negara Pasundan untuk kembali ke pangkuan NKRI.
Kejadian kelam di Jawa Barat ini menjadi bukti nyata bahwa ego sektoral militer kolonial dan ambisi mempertahankan sistem federal bentukan asing terbukti gagal total melawan arus persatuan nasional yang dikehendaki oleh seluruh rakyat Indonesia.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow