UGM Kembangkan Teknologi AI untuk Skrining Tuberkulosis di Wilayah 3T
Tim peneliti Universitas Gadjah Mada mengembangkan teknologi skrining tuberkulosis (TB) berbasis artificial intelligence bernama TBScreen.AI untuk wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), dilansir dari Detikcom.
Sistem ini memiliki tingkat sensitivitas 83 persen dan spesifisitas 87 persen, menunjukkan potensi sebagai alat bantu skrining TB. Namun, teknologi ini masih memerlukan validasi lebih lanjut untuk memastikan akurasi dan kesiapan penerapan di masyarakat.
"Capaian tersebut menunjukkan TBScreen.AI berpotensi dimanfaatkan sebagai alat bantu skrining tuberkulosis, meski masih memerlukan proses validasi lanjutan sebelum dapat diterapkan secara lebih luas dalam pelayanan kesehatan," ujar dr. Antonia Morita Iswari Saktiawati, PhD.
Pengembangan TBScreen.AI berlangsung selama dua tahun bersama beberapa institusi seperti University of Melbourne, Universitas Sebelas Maret, dan Monash University Indonesia, dengan dukungan program KONEKSI Indonesia-Australia.
Teknologi ini menggunakan foto X-ray dada untuk membantu proses skrining, terutama di daerah dengan keterbatasan akses kesehatan.
Penelitian juga mengidentifikasi empat hambatan utama akses masyarakat terhadap skrining dan diagnosis TB, yaitu keterbatasan fasilitas kesehatan, kendala ekonomi dan asuransi, faktor sosial budaya, serta hambatan transportasi.
Temuan ini menegaskan perlu penguatan sistem layanan kesehatan agar akses skrining dapat merata di seluruh lapisan masyarakat.
dr. Imran Pambudi, MPH, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan RI, berharap teknologi AI ini mempercepat skrining TB dan dapat terintegrasi dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
"Dengan skrining yang lebih cepat, penemuan kasus dapat dilakukan lebih dini sehingga pasien bisa segera mendapatkan pengobatan dan risiko penularan dapat ditekan," ujar dr. Imran Pambudi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow