Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Alami Penurunan Jumlah Pendaftar Mahasiswa Baru
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengalami tren penurunan jumlah pendaftar mahasiswa baru secara signifikan dalam periode lima tahun terakhir. Fenomena ini dilansir dari Detikcom terjadi di Kampus UMY, Kabupaten Bantul, pada Selasa (9/6/2026).
Rektor UMY, Prof Dr Achmad Nurmandi, memaparkan bahwa penurunan pendaftaran ini mulai terasa sejak tahun 2022. Jumlah pendaftar yang awalnya mampu menyentuh angka 25 ribu orang kini terus menyusut hingga menyisakan sekitar 18 ribu pendaftar pada tahun lalu.
"Sejak 2022 itu menurun. Dulu pendaftar kita hampir 25 ribu, lalu menurun-menurun. Tahun kemarin pendaftar hanya 18 ribu. Jadi turun hampir 4.000 sampai 5.000 pendaftar sejak lima tahun belakangan ini," ujar Nurmandi.
Pihak universitas mencatat penurunan yang semakin tajam pada tahun ini karena jumlah pendaftar baru mencapai sekitar 12 ribu orang. Dari total pendaftar tersebut, sebanyak 3.000 calon mahasiswa tercatat masuk melalui jalur beasiswa.
Nurmandi menambahkan, UMY sejauh ini telah meloloskan sekitar 5.000 calon mahasiswa untuk tahun akademik berjalan. Kendati demikian, jumlah mahasiswa yang melakukan registrasi atau daftar ulang baru menyentuh angka 2.000 orang.
"Yang diterima lebih kurang 5.000, tapi yang daftar ulang baru 2.000. Jadi hanya sekitar 40 persen yang daftar ulang," jelas Nurmandi.
Kondisi pada tahun ini menjadi catatan tingkat pendaftaran yang paling rendah bagi UMY dalam kurun waktu empat tahun terakhir. Penurunan angka pendaftar tersebut diestimasikan mencapai kisaran 20 hingga 25 persen.
"Penurunan hampir 20-25 persen untuk tahun ini. Paling rendah ya (2026) ini sejak 2022 itu," tegas Nurmandi.
Faktor utama penurunan ini disebut berkaitan erat dengan kebijakan jalur mandiri Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang membuka kuota besar hingga akhir Juli. Pola seleksi rapor dan nilai UTBK tanpa tes tertulis membuat masyarakat tetap memprioritaskan PTN.
"Mereka mendaftar ke banyak perguruan tinggi. Jalur mandiri sekarang kan banyak yang tidak ada tes lagi, cukup seleksi rapor, nilai UTBK, dan sebagainya. Persepsi masyarakat masih memilih PTN.
Padahal sebenarnya biaya PTN sekarang bisa lebih mahal daripada PTS. Anggapan kualitas PTN lebih baik juga belum tentu demikian," katanya.
Nurmandi mengharapkan adanya langkah evaluasi dari pemerintah terhadap mekanisme penerimaan mahasiswa di PTN. Porsi kuota jalur mandiri yang mencapai separuh dari daya tampung dinilai perlu dikaji ulang kemanfaatannya bagi mutu pendidikan.
"Mungkin penerimaan mahasiswa baru bisa disatukan seperti di negara lain. Kemudian kuota mandiri perlu ditinjau kembali, apakah benar meningkatkan kualitas atau tidak," ujarnya.
Sebagai langkah strategis internal, UMY merespons situasi ini dengan menyediakan variasi pilihan program studi baru. Kampus telah mengoperasikan prodi Psikologi, Bisnis Digital, Ekonomi Islam, dan Kepelatihan Pendidikan Olahraga untuk menarik minat masyarakat.
"Strategi kita secara internal itu menambah prodi-prodi yang kita anggap dibutuhkan masyarakat. Misalnya kepelatihan olahraga, EI, bisnis digital, psikologi, mungkin nanti kriminologi dan peace and conflict," pungkas Nurmandi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow