Mengapa Wujud Budaya yang Memiliki Sifat Abstrak Begitu Kuat Mengatur Hidup Kita

Smallest Font
Largest Font

Mengetahui wujud budaya yang memiliki sifat abstrak adalah langkah awal yang krusial untuk memahami bagaimana tata tertib dan harmoni di dalam masyarakat dapat terbentuk tanpa harus selalu dipaksakan secara fisik.

Seringkali kita hanya fokus pada benda-benda peninggalan sejarah saat berbicara tentang adat istiadat.

Padahal, kekuatan terbesar dari suatu peradaban justru terletak pada hal-hal yang tidak kasat mata. Sebagai seorang praktisi yang lama bergelut dalam analisis sosial dan struktur masyarakat multikultural, saya sering menemukan bahwa banyak orang kebingungan membedakan mana kebudayaan yang tampak dan mana yang tersimpan rapat di dalam batin manusia.

Kesalahan umum yang saya lihat adalah menyamakan semua produk peradaban sebagai benda mati yang bisa dipamerkan di museum.

Secara fundamental, kata kebudayaan sendiri berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu budhayyah, yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi dengan arti akal. Istilah ini erat kaitannya dengan kata budi yang berarti manusia berpikir, serta daya yang berarti manusia menciptakan. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan konsep ini sebagai hasil aktivitas dan penciptaan batin atau akal budi manusia, seperti kesenian, adat istiadat, dan pengetahuan.

Dalam sosiologi kebudayaan, kita mengenal pembagian berlapis mengenai cara manusia mengekspresikan akal budinya. Konsep wujud budaya yang memiliki sifat abstrak adalah bentuk ideal dari kebudayaan itu sendiri.

Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang bersifat abstrak (tidak dapat diraba atau disentuh).

Pernyataan di atas ditegaskan oleh Harisan Boni Firmando (2022:18-19) dalam bukunya yang berjudul Sosiologi Kebudayaan dari Nilai Budaya Hingga Praktik Sosial. Konsep ini menjadi payung besar bagi seluruh tindakan manusia di dunia nyata.

Dari pengalaman saya menangani pemetaan konflik sosial di daerah multikultural, benturan antar-kelompok hampir selalu dipicu oleh perbedaan pada level ideal ini. Ketika gagasan atau nilai dasar dari dua kelompok tidak selaras, maka gesekan fisik di lapangan menjadi sangat mudah terjadi.

Mengapa Nilai dan Norma Disebut Kebudayaan Abstrak?

Alasan utamanya adalah karena letaknya yang berada di dalam alam pikiran manusia.

Nilai dan norma tidak memiliki wujud fisik, tidak mempunyai berat, dan tidak bisa kita pegang dengan tangan secara langsung. Namun, mereka memiliki kekuatan memaksa yang luar biasa terhadap perilaku motorik masyarakat sehari-hari.

Sebagai contoh, aturan mengenai sopan santun kepada orang tua tidak pernah melayang di udara dalam bentuk benda. Aturan tersebut hidup di dalam keyakinan kolektif setiap individu yang mengikatkan dirinya pada komunitas tersebut.

Keterkaitan Antara Wujud Budaya Abstrak dan Konformitas Sosial

Masyarakat mematuhi sistem abstrak ini demi menjaga keteraturan sosial bersama.

Ketika sistem gagasan ini disepakati, muncullah apa yang disebut sebagai integrasi sosial. Forum diskusi pendidikan seperti Roboguru bahkan mencatat tingginya interaksi pembahasan mengenai integrasi dan reintegrasi sosial ini pada materi Kelas 11 SMA, yang menunjukkan betapa pentingnya pemahaman konflik berbasis nilai ini sejak dini.

Definisi dan Wujud Kebudayaan | Elda Elfiyanti

Langkah Praktis Mengidentifikasi Wujud Budaya Abstrak di Lingkungan Anda

Untuk mengasah kepekaan sosial, Anda bisa mengikuti langkah-langkah terstruktur berikut demi mengenali keberadaan elemen abstrak ini di sekitar Anda.

  1. Amati Pola Penghakiman Sosial di Masyarakat: Perhatikan tindakan apa saja yang memicu cibiran atau pujian dari warga sekitar tanpa adanya hukum tertulis yang dilanggar.
  2. Bedah Aturan Tidak Tertulis (Sistem Nilai): Cari tahu prinsip mendasar yang dipercayai oleh komunitas lokal, seperti konsep tabu atau pamali.
  3. Analisis Konsistensi Perilaku Kolektif: Lihat bagaimana sekelompok orang secara serempak melakukan tindakan tertentu pada momen spesifik, misalnya menundukkan badan saat berjalan di depan orang yang lebih tua.
  4. Petakan Produk Pemikiran Batin: Identifikasi pengetahuan lokal yang digunakan masyarakat untuk bertahan hidup, seperti sistem penanggalan tradisional untuk bertani.

Melalui keempat langkah di atas, Anda akan menyadari bahwa kebudayaan yang tidak dapat diraba ini bekerja layaknya sistem operasi pada komputer yang mengendalikan seluruh perangkat keras di luarnya.

Perbandingan Karakteristik Wujud Kebudayaan

Untuk memberikan gambaran yang lebih sistematis mengenai perbedaan karakteristik antar-wujud kebudayaan yang ada di masyarakat, silakan cermati struktur data berikut.

Karakteristik Elemen Wujud Kebudayaan dalam Kehidupan Masyarakat
Aspek PembedaWujud Ideal (Abstrak)Wujud Aktivitas (Sosial)Wujud Artefak (Fisik)
Lokasi KeberadaanAlam pikiran manusiaSistem tindakan sosialLingkungan fisik
Keterabaan FisikDapat disentuh
Sifat DasarAbstrakSemi-konkretKonkret
Contoh NyataIde, norma, nilaiUpacara, gotong royongCandi, keris, pakaian adat

Melalui tabel di atas, terlihat jelas posisi wujud ideal yang menjadi hulu atau sumber utama sebelum akhirnya mengalir menjadi aktivitas nyata dan menghasilkan artefak fisik.

Seni sebagai Jembatan Antara yang Abstrak dan yang Konkret

Penciptaan seni batin sering kali berakar dari upaya manusia untuk memvisualisasikan gagasan abstrak mereka ke dunia nyata.

Dalam sejarah estetika, terdapat sebuah pandangan klasik yang sangat terkenal mengenai fenomena ini. Seni adalah hasil tiruan alam atau dikenal dengan istilah Ars Imitatur Naturam, sebuah konsep yang diungkapkan melalui Teori Mimesis oleh tokoh filsafat kuno.

Melalui seni, gagasan yang awalnya mengendap di dalam pikiran manusia ditransformasikan secara kreatif ke dalam media suara, gerak, maupun rupa.

Proses imitasi alam ini tidak sekadar menjiplak apa yang terlihat oleh mata, melainkan menangkap esensi atau nilai abstrak dari alam tersebut untuk dituangkan ke dalam karya yang bisa dinikmati oleh orang lain.

Penerapan wujud budaya yang memiliki sifat abstrak adalah fondasi mutlak yang menjaga peradaban manusia agar tidak runtuh ke dalam kekacauan. Tanpa adanya kesepakatan kolektif mengenai nilai, norma, dan gagasan ideal yang hidup di dalam isi kepala setiap anggota masyarakat, seluruh aturan hukum tertulis dan infrastruktur fisik yang megah sekalipun tidak akan mampu menciptakan keteraturan sosial yang sejati.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed