Kesultanan Demak Tetapkan Julukan Pangeran Sabrang Lor Bagi Adipati Unus Usai Serang Portugis
Kesultanan Demak menetapkan julukan Pangeran Sabrang Lor kepada Adipati Unus setelah sang panglima memimpin armada besar menyeberangi Laut Jawa untuk menyerang Portugis di Malaka pada tahun 1512. Langkah berani ini diambil atas perintah pendiri Demak, Raden Patah, guna membendung dominasi asing di jalur perdagangan nusantara pada Kamis, 9 Juli 2026.
Pemberian gelar ini merujuk pada rekam jejak militer Pati Unus yang berani memimpin pasukan ke wilayah utara. Secara harfiah, nama tersebut menggambarkan posisinya sebagai pangeran yang pernah menyeberang ke arah utara demi mempertahankan kedaulatan maritim.
Masyarakat Jawa memberikan julukan khusus ini karena konotasi geografis dan keteguhan politis sang adipati. Arti dari pangeran sabrang lor adalah pangeran yang menyeberang ke utara, sebuah gelar penghormatan atas keberaniannya.
Arti Geografis Sabrang Lor
Kata "sabrang" dalam bahasa Jawa berarti menyeberang atau wilayah seberang, sedangkan "lor" berarti utara. Gelar ini melekat karena Pati Unus memimpin armada laut Demak bertolak dari Jawa menuju Malaka yang terletak di sebelah utara.
Reputasi Maritim Pati Unus
Catatan sejarah menunjukkan bahwa sang pangeran sudah aktif dalam dunia maritim sejak usia muda. Kompas melaporkan bahwa pada tahun 1509, Pati Unus sudah memiliki kesibukan tinggi mengelola galangan kapal di Semarang sebelum mengemban tugas militer besar.
Kronologi Perang Demak Melawan Portugis
Ancaman kolonialisme Portugis di Malaka memicu Raden Patah untuk mengambil tindakan preventif. Berdasarkan catatan sejarah kerajaan demak menyerang portugis, Adipati Unus ditunjuk sebagai panglima tertinggi karena kecakapannya di dunia kelautan. Menurut catatan Tome Pires dalam laporan Portugis, Pati Unus yang saat itu baru berusia 25 tahun memimpin serangan pertama.
Ekspedisi maritim terbesar di masanya tersebut menggalang kekuatan dari pelabuhan Semarang dan Rembang. Pasukan Demak menderita kekalahan besar dalam pertempuran pertamanya akibat keunggulan persenjataan benteng Portugis. Dari total armada yang dikerahkan, hanya sekitar 7 hingga 8 kapal yang tersisa dan berhasil kembali berlayar pulang ke pulau Jawa.
Meskipun kalah pada gelombang pertama, Pati Unus tetap naik takhta menjadi Sultan Demak kedua pada tahun 1518 menggantikan Raden Patah. Masa pemerintahannya berlangsung selama 3 tahun sebelum ia kembali merencanakan ekspedisi militer berikutnya.
Perjuangan sang sultan berakhir pada tahun 1521 saat memimpin serangan lanjutan ke Malaka. Pati Unus gugur dalam pertempuran maritim tersebut setelah berupaya menjebol pertahanan Portugis bersama aliansi kerajaan Islam lainnya.
Data Kekuatan Militer Armada Kesultanan Demak
Detikcom melansir data mengenai kekuatan militer yang dikerahkan oleh kerajaan Islam pertama di Jawa ini dalam misi menghadapi Portugis. Pengiriman pasukan dilakukan dalam beberapa gelombang berturut-turut.
Berikut adalah rincian estimasi kekuatan personel dan armada kapal yang dikerahkan Kesultanan Demak selama periode konflik maritim tersebut:
| Tahun Serangan | Jumlah Kapal | Jumlah Pasukan | Keterangan Misi |
|---|---|---|---|
| 1512 | 100 kapal jung | 12.000 tentara | Serangan pertama gabungan dengan Palembang |
| 1513 | 100 kapal | 5.000 pasukan | Serangan lanjutan pasca-kekalahan awal |
| 1521 | 360 kapal | – | Serangan terakhir bersama Banten dan Cirebon |
Sepeninggal Pati Unus yang gugur di medan perang pada tahun 1521, tampuk kekuasaan Kesultanan Demak mengalami transisi kepemimpinan. Nama Pangeran Sabrang Lor tetap abadi dalam sejarah sebagai simbol perlawanan maritim nusantara terhadap kolonialisme Barat.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow