Kesultanan Demak Peringati Perjuangan Maritim Besar Pangeran Sabrang Lor Melawan Portugis
Masyarakat bersama pakar sejarah hari ini, Selasa (16/6/2026), kembali memperingati momentum kejayaan maritim Nusantara yang dipimpin oleh Raden Abdul Qadir atau yang lebih dikenal sebagai Pati Unus. Tokoh besar yang merupakan sultan demak kedua ini terus dikenang atas keberaniannya memimpin penyerangan besar-besaran terhadap kekuatan kolonial Portugis di Selat Malaka.
Pati Unus menduduki takhta Demak setelah wafatnya Raden Patah, pendiri kerajaan tersebut. Kiprah militer dan politiknya yang luas membuat figur ini menjadi simbol perlawanan anti-kolonialisme awal di wilayah Asia Tenggara, khususnya dalam menjaga kedaulatan jalur perdagangan laut yang menjadi urat nadi ekonomi kawasan.
Asal-usul Gelar dan Silsilah Pemimpin Demak
Gelar legendaris yang melekat pada dirinya tidak lahir tanpa alasan sejarah yang kuat. Banyak masyarakat awam sering mempertanyakan "kenapa pati unus disebut pangeran sabrang lor?" dalam diskusi sejarah maritim.
Berdasarkan catatan sejarah dari Wikipedia, sebutan tersebut muncul karena keberaniannya menyeberangi lautan ke arah utara (sabrang lor) demi menyerang posisi Portugis yang menduduki Malaka. Langkah berani ini mengukuhkan posisinya sebagai panglima perang yang disegani di seluruh Nusantara.
Silsilah Kebangsawanan Raden Abdul Qadir
Aspek silsilah asli pati unus demak menunjukkan hubungan darah yang erat dengan tokoh-tokoh kunci penyebaran Islam di Jawa. Tokoh ini merupakan menantu dari Raden Patah, penguasa pertama Demak, dan memiliki garis keturunan yang tersambung hingga Sunan Ampel, salah satu anggota Wali Songo. Melalui silsilah keluarga tersebut, ia memiliki legitimasi kuat untuk memimpin pasukan gabungan dari berbagai wilayah di Jawa dan Sumatra.
Kepemimpinannya menyatukan kekuatan maritim yang sebelumnya terpecah-pecah demi satu tujuan bersama. Agresi militer pertama dilancarkan pada tahun 1513, menyusul jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada tahun 1511. Dilansir dari Kumparan, serangan ini merupakan aksi solidaritas sekaligus strategi defensif untuk mencegah ekspansi lebih lanjut dari kekuatan Eropa ke pedalaman Nusantara.
Serangan tersebut melibatkan mobilisasi militer berskala besar yang belum pernah terlihat sebelumnya di kawasan tersebut. Walaupun serangan pertama belum berhasil mengusir Portugis sepenuhnya, aksi ini memberikan pukulan psikologis yang signifikan bagi lawan.
Kekuatan Armada Tempur Jawa
Faktor utama yang paling menonjol dalam ekspedisi militer ini adalah keberadaan armada kapal raksasa pati unus yang dibangun di galangan kapal sekitar Semarang dan Rembang. Kapal-kapal ini memiliki spesifikasi teknis yang mampu menandingi kapal perang Eropa pada masanya.
Berikut adalah rincian perkiraan kekuatan armada militer yang dikerahkan dalam ekspedisi besar tersebut:
| Jenis Armada | Jumlah Kapal | Estimasi Pasukan |
|---|---|---|
| Jung Raksasa Jawa | 100 | 10.000 |
| Kapal Perang Pendukung | – | – |
| Pasukan Gabungan (Demak & Palembang) | – | 12.000 |
Dampak dan Warisan Perjuangan Maritim
Meskipun menderita kerugian material yang besar akibat keunggulan teknologi meriam Portugis, perlawanan ini membuktikan bahwa Nusantara memiliki kekuatan maritim yang terorganisir. Perjuangan ini juga menginspirasi generasi penguasa Demak berikutnya untuk tetap konsisten menolak dominasi asing.
Menurut laporan dari situs resmi Badan Penghubung Jawa Tengah, visualisasi dan sosialisasi mengenai nilai-nilai kepahlawanan tokoh maritim ini terus digalakkan lewat berbagai media kesenian budaya di tingkat nasional. Langkah ini diambil agar generasi muda tidak melupakan akar sejarah bahari bangsanya.
Pati Unus akhirnya gugur dalam pertempuran laut berikutnya dan posisinya sebagai Sultan Demak digantikan oleh Sultan Trenggana. Kompleks pemakaman dan jejak sejarahnya kini menjadi situs cagar budaya yang terus dirawat oleh pemerintah daerah sebagai pengingat abadi kekuasaan maritim Demak.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow