Alifia Citra Ayuningtyas Tembus UGM Lewat Jalur SNBP dan Raih Beasiswa Kuliah
Alifia Citra Ayuningtyas menunjukkan tekad besar untuk menempuh pendidikan tinggi demi memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya. Calon mahasiswa ini dibesarkan oleh seorang ibu tunggal yang harus menghidupi tiga orang anak sendirian.
Keyakinan dan kerja keras tersebut mengantarkan Alifia diterima di Program Studi Agronomi, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM). Seperti dilansir dari Detikcom, ia juga sukses memperoleh beasiswa kuliah yang meringankan beban finansial orang tuanya.
Prestasi ini menjadi kelanjutan dari rekam jejak akademis Alifia selama masa sekolah. Keberhasilan mendapatkan bantuan pendidikan membuat dirinya tidak perlu menyusahkan sang ibu dalam hal pembiayaan studi.
Sebelum menembus perguruan tinggi, Alifia menempuh pendidikan di SMA Unggulan CT ARSA Foundation. Di sekolah tersebut, ia mendapatkan fasilitas beasiswa penuh sehingga dapat belajar tanpa mengeluarkan biaya.
Selama menjadi siswa, Alifia aktif dalam organisasi jurnalistik dan Dewan Ambalan VI Gudep SMA Unggulan CT ARSA Foundation. Ia bahkan pernah mengemban amanah sebagai English Ambassador di sekolahnya.
Kemampuan Alifia juga teruji di bidang wirausaha dengan meraih Juara III Lomba Business Model Canvas. Sederet pencapaian ini yang kemudian mempermudah langkahnya masuk UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
"Saya ingat, jam 3 sore. Yang membukakan pengumuman saat itu adik saya, adik saya teriak 'lolos kak, alhamdulillah!'. Bersyukur, saya lolos di pilihan agronomi," ujarnya, dikutip dari laman UGM, Minggu (19/7/2026).
Pertimbangan Biaya Hidup dan Dukungan Mitra
Faktor finansial menjadi alasan utama Alifia memilih berkuliah di Yogyakarta. UGM dinilai memiliki biaya kuliah dan pengeluaran harian yang relatif lebih terjangkau dibandingkan dengan kampus di wilayah lain.
Kini, beban tersebut semakin berkurang setelah ia dipastikan menerima dukungan dana pendidikan dari pihak kampus serta mitra eksternal. Ibu Alifia, Martini, mengungkapkan rasa syukurnya atas kesempatan yang didapatkan sang anak.
"Saya sangat bersyukur. Saya yang hanya bekerja sebagai buruh lepas dan asisten rumah tangga dengan penghasilan yang sangat terbatas. Alhamdulillah, sekarang Fia bisa sampai di titik ini, diterima di UGM, masih mendapat dukungan, dan diperkenalkan dengan Paragon. Semoga Allah membalas semua kebaikan beliau-beliau," tutur sang ibu, Martini.
Meski dana pendidikan telah tercover, Alifia dan ibunya mengakui tetap memikirkan biaya penunjang lain. Kebutuhan logistik harian serta transportasi menuju tempat kuliah masih menjadi hal yang harus dipersiapkan.
"Kadang aduh gimana ya besok. Mungkin untuk beasiswanya dapat, untuk biayanya ya dari beasiswa, tetapi untuk kebutuhan sehari-hari seperti transportasi dari rumah, kan motornya cuma satu. Kalau mau ngekos pun harus ada biaya. Tapi bismillah saja dulu, bagaimana nanti Tuhan kasih jalan," ujar Martini.
Keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangat Alifia untuk memotivasi pelajar lain yang menghadapi kendala serupa. Ia berpesan agar para siswa tidak takut bermimpi dan terus mencoba peluang yang ada.
"Jangan takut untuk mencoba semua hal. Meskipun kita belum tahu hasilnya seperti apa, suatu hari nanti pengalaman itu akan menjadi cerita, penyemangat, atau membentuk karakter kita menjadi lebih kuat. Jadi, jangan takut bermimpi setinggi apa pun, karena selalu ada jalan bagi mereka yang terus berusaha," tutupnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow