Beda Tari Tradisional dan Kontemporer dalam Bingkai Seni Postmodern
Menyaksikan pementasan seni gerak zaman sekarang sering kali memicu pertanyaan mendasar mengenai apa itu tari kontemporer dan bagaimana wujud nyatanya sebagai contoh tari postmodern. Banyak penikmat seni pemula yang masih bingung membedakan antara eksplorasi gerak bebas dengan tarian yang sekadar dimodifikasi.
Sebagai pengamat seni, saya melihat bahwa memahami perbedaan seni kontemporer dan postmodern bukan sekadar urusan teori di atas kertas. Ini adalah tentang bagaimana kita menikmati dekonstruksi budaya yang terjadi di atas panggung pertunjukan saat ini.
Evolusi tari di Indonesia telah melewati batas-batas sakralitas tradisi menuju ruang ekspresi yang personal dan kadang-kadang radikal. Mari kita bedah bagaimana fenomena estetika ini tumbuh dan mewujud dalam berbagai karya panggung.
Sejarah tari kontemporer tidak dapat dilepaskan dari semangat penolakan terhadap kekakuan pakem klasik maupun modernisme yang terlalu memuja teknik universal. Di Indonesia, perkembangan ini lahir dari kegelisahan para seniman tradisi yang ingin berbicara menggunakan bahasa zaman mereka sendiri.
Gerakan ini mulai mendapat panggung kokoh ketika institusi pendidikan seni dan festival-festival besar memberikan ruang bagi para koreografer untuk bereksperimen. Penjelajahan ini menghasilkan karya-karya yang tidak lagi terikat oleh aturan ruang, waktu, atau pakem kostum daerah.
Pengaruh Estetika Postmodern dalam Seni Pertunjukan
Estetika postmodern membawa pengaruh besar dengan memperkenalkan metode dekonstruksi, ironi, dan kolase budaya. Seni postmodern cenderung menolak narasi tunggal yang absolut dan memilih untuk merayakan lokalitas yang dipadukan dengan isu global secara bebas.
Dalam ranah seni rupa maupun seni pertunjukan, perbincangan ini selalu hangat. Berdasarkan catatan sejarah akademis, Program Studi Seni Rupa Murni Universitas Negeri Surabaya (UNESA) bahkan pernah menggelar Kuliah Tamu bertajuk "Diskursus dalam Pameran Seni Rupa" pada hari Jumat, 26 Mei 2023 via Zoom yang membahas perkembangan pameran seni rupa dan sejarahnya di Indonesia, di mana pemisahan konsep kontemporer dan postmodern menjadi salah satu ruang diskusi yang sangat dinamis bagi para mahasiswa.
Keterkaitan Seni Rupa dan Seni Gerak Postmodern
Diskusi lintas disiplin tersebut membuktikan bahwa pergeseran estetika dari modern ke postmodern terjadi secara serempak di berbagai cabang seni, termasuk seni tari. Tari postmodern meminjam kebebasan konseptual dari seni rupa untuk menciptakan pertunjukan yang tidak berjarak dengan penonton.
Koreografer postmodern sering kali menggunakan tubuh bukan lagi sebagai alat untuk menyampaikan keindahan estetis semata. Tubuh diubah menjadi media kritik sosial, politik, bahkan media untuk mempertanyakan kembali apa yang disebut sebagai seni.
Karakteristik Utama dan Ciri Ciri Tari Kontemporer
Untuk mengenali apakah sebuah karya tari termasuk dalam kategori ini, kita harus melihat bagaimana karya tersebut disusun. Karakteristik yang paling mencolok dari ragam gerak ini adalah sifatnya yang efemeris atau sementara, alias tidak diciptakan untuk menjadi warisan abadi yang kaku.
Kebebasan mutlak menjadi prinsip dasar yang dipegang oleh para koreografer. Menurut saya, sifat cair inilah yang membuat pementasan postmodern selalu terasa segar sekaligus membingungkan bagi mereka yang terbiasa dengan keteraturan.
Aspek-Aspek Distingtif Seni Tari Masa Kini
Secara teknis, terdapat beberapa ciri ciri tari kontemporer yang sangat mudah diidentifikasi oleh penonton awam maupun kritikus seni, antara lain:
- Pola Gerak yang Bersifat Bebas: Tidak ada lagi batasan ruang gerak horizontal atau vertikal yang mengikat seperti pada tari klasik formal.
- Ketidakberadaan Pakem Baku: Konsep tari dilepaskan dari pakem tradisional yang mengikat struktur koreografi secara ketat.
- Lokalitas Bernuansa Kontemporer: Tema yang diangkat biasanya bersumber dari masalah kemanusiaan, eksistensial, atau isu-isu sosial masa kini.
- Musik Pengiring yang Heterogen: Penggunaan musik tidak lagi terbatas pada instrumen tradisional murni, melainkan menggunakan kolase audio digital maupun bunyi-bunyian lingkungan.
Eksperimen Bunyi dan Musik Karawitan
Dalam konteks Indonesia, eksperimen musik pengiring ini sering kali bersinggungan dengan musik daerah. Bagi yang belum familier mengenai apa arti musik karawitan, ini adalah seni suara daerah yang menggunakan instrumen gamelan atau alat musik tradisional lainnya secara harmonis.
Koreografer postmodern sering kali melakukan dekonstruksi terhadap musik karawitan ini. Gamelan tidak lagi dimainkan untuk mengiringi ketukan tari secara harmonis, melainkan ditabrakkan dengan soundscape elektronik untuk menciptakan atmosfer ketegangan yang intens.
Dekonstruksi dalam seni postmodern bukan bertujuan merusak tradisi, melainkan memberikan ruang bagi tradisi untuk berbicara dalam konteks zaman yang berbeda.
Beda Tari Tradisional dan Kontemporer
Sangat penting bagi kita untuk menarik garis tegas mengenai beda tari tradisional dan kontemporer agar tidak terjebak dalam generalisasi yang keliru. Tari tradisional meletakkan nilainya pada pelestarian, sejarah, dan replikasi gerak yang presisi dari generasi ke generasi.
Sebaliknya, tari kontemporer berorientasi pada masa kini dan masa depan. Seni ini memandang masa lalu bukan sebagai aturan yang harus ditaati, melainkan sebagai gudang referensi yang bebas dibongkar-pasang sesuai kebutuhan artistik.
Perbandingan Paradigma Seni Tari
Untuk mempermudah pemetaan, mari kita lihat bagaimana kedua genre seni gerak ini beroperasi dalam ruang estetika yang berbeda melalui variabel-variabel kunci di bawah ini.
| Komponen Estetika | Tari Tradisional | Tari Kontemporer |
|---|---|---|
| Sumber Gerak | Pakem leluhur | Eksplorasi tubuh bebas |
| Tujuan Utama | Pelestarian budaya | Ekspresi personal koreografer |
| Musik Pengiring | Karawitan standar | Kolase audio heterogen |
| Sifat Karya | Abadi & diwariskan | Efemeris & kontekstual |
| Tema Pementasan | Mitos & sejarah lokal | Isu sosial & eksistensial |
Dari tabel di atas, terlihat jelas bahwa pergeseran yang terjadi bukan sekadar masalah teknis kostum atau pencahayaan panggung, melainkan sebuah lompatan paradigma berpikir dari komunal menuju individual.
Tokoh Tari Kontemporer Indonesia dan Mahakaryanya
Perkembangan contoh tari postmodern di Indonesia tidak lepas dari keberanian para maestro yang berani keluar dari zona nyaman kenyamanan tradisi. Mereka menggunakan tubuh mereka sebagai laboratorium eksperimen sosial yang hidup.
Melalui tangan dingin para tokoh tari kontemporer indonesia, penonton global mulai melihat bahwa seni tari Nusantara tidak hanya hidup di dalam istana atau upacara adat, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan zaman.
Sardono W. Kusumo sang Pionir Gerak
Salah satu tokoh paling berpengaruh dalam jagat seni tari modern dan postmodern Indonesia adalah Sardono W. Kusumo. Tokoh tari Sardono W. Kusumo lahir di Solo pada tanggal 06 Maret 1945, sebuah kota yang sangat kental dengan tradisi keratonnya yang adiluhung.
Latar belakang Solo tidak membuat Sardono terkungkung dalam romantisasi masa lalu. Beliau justru mengeksplorasi tradisi tersebut dengan cara yang sangat radikal, membawa penari keluar dari panggung prosenium tradisional ke alam liar, lumpur, dan ruang publik terbuka.
Karya Monumental dan Eksplorasi Tubuh
Karya-karya Sardono W. Kusumo sering kali dianggap sebagai contoh tari kontemporer di indonesia yang paling autentik karena berhasil mengawinkan kedalaman spiritual tradisi dengan keliaran bentuk postmodern. Salah satu karya panggungnya yang terkenal melibatkan eksploitasi gerak tubuh yang intensitasnya sangat tinggi, menembus batas ketahanan fisik para penarinya.
Selain Sardono, Indonesia juga mengenal koreografer hebat lainnya yang tercatat dalam warta kesenian yang diunggah oleh BEM Udayana University pada hari Jumat, 13 Oktober 2023. Artikel tersebut mencatat esensi tari kontemporer di Indonesia dan telah dibaca sebanyak 30.221 kali oleh para peminat seni, membuktikan bahwa ketertarikan generasi muda terhadap dekonstruksi seni tari terus meningkat dari tahun ke tahun.
Kritik terhadap Perkembangan Tari Postmodern
Meskipun gerakan seni tari postmodern menawarkan kebebasan ekspresi yang luar biasa, sebagai kritikus saya harus bersikap adil dengan melihat kekurangan dari fenomena estetika ini. Kebebasan mutlak yang diagungkan sering kali menjadi bumerang bagi karya itu sendiri.
Salah satu kelemahan terbesar dari contoh tari postmodern adalah kecenderungannya yang terlalu berjarak dari penonton awam karena konsepnya yang terlampau abstrak. Pertunjukan kadang terasa seperti monolog batin sang koreografer yang hanya bisa dimengerti oleh segelintir lingkaran elit seni saja.
Ketika sebuah tarian kehilangan kemampuan komunikasinya dan terjebak dalam eksperimen bentuk yang asal beda, ia berisiko kehilangan signifikansi sosialnya. Namun demikian, bagi penikmat seni yang menyukai tantangan intelektual, teka-teki visual inilah yang justru menjadi daya tarik utama dari seni postmodern.
Menilai tari kontemporer dalam bingkai postmodernisme mengharuskan kita melepaskan kacamata penghakiman benar atau salah berdasarkan tradisi lama. Keberhasilan sebuah karya tari postmodern tidak lagi diukur dari seberapa sinkron gerakan antar-penari, melainkan dari seberapa kuat karya tersebut mampu memantik diskusi, mengganggu kenyamanan berpikir penonton, dan menyuarakan kegelisahan zaman secara jujur di atas panggung pertunjukan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow