BPIP Ungkap Syarat dan Rangkaian Tes Seleksi Paskibraka Nasional 2026

Smallest Font
Largest Font

Rangkaian seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat nasional tahun 2026 menerapkan standarisasi ketat mulai dari aspek administrasi hingga ketahanan fisik. Pendaftaran seleksi ini dibuka secara daring untuk seluruh siswa di Indonesia, seperti dilansir dari Detikcom.

Wakil Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Dr Rima Agristina, SH, SE, MM, menjelaskan bahwa persyaratan awal meliputi nilai rapor, kesehatan, izin kepala sekolah dan orang tua, serta batasan usia. Selain itu, pendaftar harus duduk di kelas 10 saat proses seleksi berlangsung.

Kriteria fisik yang ditetapkan sejak awal kompetisi mencakup tinggi badan minimal 165 sentimeter untuk putri dan 170 sentimeter untuk putra. Penilaian usia bertujuan guna memastikan kesiapan mental calon Paskibraka (capaska) saat bertugas di Istana Merdeka.

"Ini adalah suatu garansi juga bahwa memang anak ini nilai akademisnya baik, walaupun dibuktikan dengan salinan lapor dan juga anaknya baik, berkelakuan baik," terangnya.

Memasuki tingkat kabupaten atau kota, para peserta diwajibkan mengikuti Seleksi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan (TWK) serta Seleksi Intelegensia Umum (TIU). Menurut Rima, kelulusan tes Pancasila menggunakan sistem ambang batas nilai minimal 70, bukan berdasarkan perankingan.

Tahapan berikutnya mencakup Seleksi Kesehatan, Seleksi Parade, hingga Seleksi Peraturan Baris Berbaris dan Kesamaptaan. Ujian kesamaptaan yang meliputi lari, push up, dan sit up dirancang untuk mengukur stamina fisik para kandidat.

Aspek psikologis dipantau melalui psikotes dan Seleksi Kepribadian yang melibatkan wawancara langsung. Tim seleksi juga melakukan penelusuran terhadap jejak prestasi serta aktivitas media sosial dari masing-masing peserta.

"Media sosialnya juga ada kita lihat," ujar Rima.

Sistem Verifikasi Berlapis di Tingkat Provinsi

Peserta yang lolos pemeringkatan kuota daerah kemudian dikirim ke tingkat provinsi untuk menjalani verifikasi ulang data lapangan demi mencegah tindakan diskriminasi. Proses evaluasi ini mengulang kembali tes TWK, TIU, kesehatan, PBB, kesamaptaan, serta kepribadian.

"Jadi itu di awal, supaya tidak ada hal-hal yang diskriminasi dan sebagainya," ujarnya.

Pada seleksi kepribadian di tingkat provinsi, penggalian minat dan bakat turut diujikan melalui penampilan seni budaya daerah. Setelah itu, seluruh peserta wajib menempuh tahapan medical checkup.

Rima mencontohkan beberapa temuan medis yang sering menggugurkan peserta antara lain kondisi mata minus, kadar hemoglobin yang sangat rendah, serta indikasi penyakit tertentu. Dari seleksi ini, tiga pasang putra-putri terbaik perwakilan provinsi dikirim ke verifikasi tingkat pusat hingga menyisakan 27 calon paskibraka nasional.

Pengalaman Organisasi dan Strategi Persiapan

Riwayat keanggotaan paskibra sekolah tidak menjadi syarat mutlak dalam pendaftaran. Meski begitu, pengalaman berorganisasi di wadah seperti Pramuka diakui sangat membantu kesiapan fisik, mental, dan kedisiplinan dasar peserta.

Kondisi persaingan fisik yang ketat sempat memicu keraguan di kalangan peserta, seperti dialami oleh salah satu anggota capaska pusat 2026 asal Sulawesi Selatan, Taswina Putri. Persoalan tinggi badan sempat membuatnya merasa tidak percaya diri.

"Tetap maju, walaupun di depan itu banyak yang lebih dari saya sendiri. Habis itu saya menjalani tes, di Pantukhir (pemantauan akhir) itu, yang ranking 1, alhamdulillah nama saya disebut, dan diumumkan tiga putera, tiga puteri untuk melanjut ke verifikasi," tuturnya.

"Di (tahapan) verifikasi saya merasa sangat bangga karena bisa bertemu dengan (perwakilan) provinsi-provinsi lain, 38 provinsi," imbuh siswa SMAN 1 Bone ini.

Wina menceritakan bahwa dirinya juga mempersiapkan tari Songkok Recca khas Kabupaten Bone untuk tes minat bakat. Sebelum aktif di ekskul paskibra SMA, ia telah melatih mental melalui kegiatan Pramuka, marching band, dan seni tari sejak SMP.

Kisah serupa dibagikan oleh M Deni Fikri, capaska tingkat pusat dari Sulawesi Barat. Deni mengaku telah mempelajari dasar-dasar gerakan PBB secara bertahap sejak sekolah dasar sebelum akhirnya bergabung dengan organisasi Pramuka pada jenjang SMP.

Sementara itu, perwakilan dari Sumatera Barat, Ahmad Alfatih, memaksimalkan potensinya sebagai atlet siswa untuk menutupi keraguan atas tinggi badannya yang mencapai 177 sentimeter. Fatih tercatat pernah meraih juara satu Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) Kota Padang di cabang atletik nomor tolak peluru.

"Jadi latihannya barengan atlet, dan (latihan) intelejensinya (TIU) malam-malam, dari jam tujuh sampai jam sepuluh, itu rutin per harinya membahas TWK," kata atlet siswa cabor atletik nomor lempar cakram dan lempar lembing ini.

"Dari pagi sampai malam: pagi kita bersekolah, sore kita latihan, dan malam kita belajar tentang wawasan kebangsaan, tentang ideologi Pancasila," tuturnya.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed