Calon Paskibraka 2026 Ikuti Pemantapan Formasi di Jakarta

Smallest Font
Largest Font

Sebanyak 38 pelajar perwakilan provinsi di Indonesia yang tergabung dalam calon pasukan pengibar bendera pusaka tingkat pusat mematangkan persiapan jelang upacara HUT ke-81 RI di Jakarta pada Selasa, 11 Agustus 2026. Para peserta dijadwalkan menjalani gladi kotor, gladi bersih, hingga pemantapan formasi sebelum dikukuhkan untuk bertugas di Istana Merdeka, dilansir dari Detikcom.

Rangkaian kegiatan harian para calon pengibar bendera ini dimulai sejak pukul 03.00 WIB yang diawali dengan ibadah, olahraga pagi, serta latihan peraturan baris-berbaris. Latihan utama PBB dan simulasi upacara berlangsung dari pukul 07.00 hingga 17.00 WIB secara bergiliran untuk posisi pembawa baki, pengibar, dan pembentang bendera. Sebelum bergeser ke Jakarta, seluruh peserta telah mengikuti latihan gabungan bersama Pasukan Pengamanan Presiden dan satuan musik di Depok pada 6 hingga 9 Agustus 2026.

Perwakilan capaska tingkat pusat asal DKI Jakarta, Latiesha Firenzie Bharata, membagikan cerita mengenai porsi latihan fisik dan PBB yang harus dijalaninya setiap hari di pemusatan latihan.

"Untuk pelatihannya di sini kami latih dari fisik dulu, itu setiap hari kita pasti ada olahraga pagi, dan pastinya ada PBB (latihan peraturan baris-berbaris)," kata putri capaska tingkat pusat perwakilan DKI Jakarta, Latiesha Firenzie Bharata.

Selain fisik, para peserta juga mendapatkan pembekalan materi mengenai sejarah bangsa, Pancasila, wawasan kebangsaan, hingga ketahanan nasional. Para pelajar diwajibkan menyerahkan ponsel mereka kepada panitia selama masa pemusatan latihan berlangsung.

"Pengorbanan buat pelajar seperti kami ini, pastinya pisah dari keluarga susah, karena yang biasanya diurus sehari-hari, tiba-tiba kami harus untuk sebulan lebih pisah tanpa keluarga, tanpa kontak apapun, tanpa HP. Jadi rasanya agak sedih dan susah," tutur siswa SMAN Al Izhar Pondok Labu, Jakarta Selatan ini.

Para peserta saling memberikan dorongan semangat satu sama lain untuk mengatasi rasa rindu kepada keluarga selama berada di karantina.

"Namun pastinya dengan semua teman-teman yang di sini, kami terus disemangatin. Dan tentunya di sini jadi ada keluarga baru untuk saling merangkul," imbuhnya.

Anggota tim asal Sulawesi Barat, M Deni Fikri, mengungkapkan bahwa kedisiplinan jadwal melatihnya untuk selalu tepat waktu, termasuk saat menjalankan ibadah.

"Untuk saya pelatihannya cukup berat, karena ini memang tingkatnya tingkat paling tertinggi, yaitu nasional. Tetapi bagi saya ini adalah suatu pencapaian bagi saya, ini cita-cita saya dari SD, melanjutkan perjuangan kakak saya yang dulunya gugur dalam seleksi paskibraka tingkat nasional," tuturnya.

Siswa UPTD SMA Negeri 1 Wonomulyo tersebut menambahkan bahwa keterbatasan waktu tidur menjadi tantangan tersendiri selama proses pembinaan.

"Untuk pengorbanannya, kita korban waktu tidur. Tidur cuma sedikit, bangun harus cepat, subuh, karena kita sebagai muslim harus cepat ke masjid untuk salat Subuh tepat waktu," kata siswa UPTD SMA Negeri 1 Wonomulyo ini.

Jarak yang jauh dari rumah juga dirasakan oleh perwakilan dari Kabupaten Polewali Mandar tersebut.

"Kita harus menahan rindu terhadap keluarga. Rindu itu berat, jadi kita semua di sini tetap saling merangkul, tetap saling menjaga," tuturnya.

Sementara itu, perwakilan dari Sumatera Barat, Ahmad Alfatih, menilai masa pelatihan sebagai sarana untuk menyatukan beragam latar belakang kebudayaan dari seluruh Indonesia.

"Setiap masing-masing provinsi mengutus utusannya ke tingkat pusat, dan kita melihat budaya yang berbeda. Dan kita di sini harus menyatukan budaya itu sebagai satu-satu kesatuan," tuturnya.

Rangkaian persiapan ini akan terus berlanjut hingga hari pengukuhan resmi sebelum pelaksanaan upacara bendera 17 Agustus 2026.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow