Budaya Non Benda Adalah Kunci Warisan Indonesia, Cara Merawatnya Agar Tidak Punah

Smallest Font
Largest Font

Budaya non benda adalah seluruh warisan budaya yang tidak berbentuk fisik atau objek nyata, melainkan berwujud tradisi lisan, seni pertunjukan, adat istiadat, maupun kemahiran lokal yang diturunkan antar-generasi. Di tengah gempuran modernisasi per 1 Juli 2026 ini, banyak dari kita yang khawatir warisan takbenda ini akan lenyap ditelan zaman.

Sebagai seorang praktisi kebudayaan yang sering turun ke lapangan, saya melihat kecenderungan masyarakat yang lebih fokus menyelamatkan benda cagar budaya ketimbang tradisi lisan. Kesalahan umum yang saya lihat adalah kita sering lupa bahwa tanpa manusia yang mempraktikkannya, identitas suatu bangsa bisa hilang begitu saja.

Untuk memahami esensi mendalam dari ekspresi budaya ini, kita dapat mengambil contoh konkret dari kekayaan tradisi lisan Sumatra Utara. Salah satu contoh yang paling menonjol dan diakui secara luas sebagai budaya non-benda adalah tradisi pantun Melayu.

Tradisi lisan mengekspresikan nilai-nilai luhur, pandangan hidup, dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Salya Rusdi selaku Kasubbag Umum BPK Sumut menyebutkan bahwa pantun Melayu merupakan tradisi lisan atau budaya non-benda yang menjadi salah satu fokus perhatian bagi BPK Sumut.

Ketika kita mengkaji tradisi lisan ini, kita tidak hanya belajar tentang keindahan kata-kata. Kita sedang membedah dokumen sejarah berjalan yang merekam cara nenek moyang berinteraksi dengan dunia.

Hubungan Erat Ekologi dan Kosakata Tradisional

Dalam kasus yang sering saya temui di lapangan, eksistensi tradisi lisan sangat bergantung pada kelestarian alam tempat kebudayaan itu tumbuh. Struktur pantun Melayu secara umum terdiri dari sampiran dan isi, di mana sampiran menggunakan kalimat yang berhubungan dengan alam sekitar atau ekologi.

Keterikatan ini membawa sebuah peringatan serius bagi kita semua. Agus Mulia yang merupakan Widya Bahasa Balai Bahasa Sumut menyatakan bahwa jika lingkungan rusak, maka akan mengancam eksistensi pantun karena kosakatanya berasal dari lingkungan/ekologi.

Menjaga Keaslian Identitas dari Distorsi Budaya

Dari pengalaman saya menangani berbagai kegiatan pelestarian seni, pergeseran budaya sering kali terjadi akibat adopsi istilah dari luar tanpa filter. Sebagai contoh, saat ini banyak orang secara spontan memberikan respon tertentu ketika mendengar seseorang melempar bait puisi lisan.

Agus Mulia juga menyoroti respon ‘Cakep’ yang tidak pernah ada dalam tradisi pantun Melayu. Beliau kemudian menyarankan penggunaan istilah ‘Ahooi’ sebagai perkembangan yang lebih melekat kepada identitas Melayu dibanding kata dari etnis lain atau Betawi.

Perencanaan Usaha Kerajinan dengan Inspirasi Budaya Nonbenda Kelas X | Ammar Chania

Panduan Struktur Pantun Melayu yang Benar Berdasarkan Kategorinya

Bagi Anda yang ingin mendalami atau mempraktikkan tradisi lisan ini, pemahaman struktur sangatlah krusial. Berdasarkan pemaparan dari akademisi Fakultas Sastra Melayu USU, Ari Azhari Nasution, kategori pantun Melayu terbagi menjadi tiga jenis utama yang memiliki karakteristik berbeda.

Berikut adalah penjelasan detail mengenai struktur yang benar dari jenis jenis pantun melayu lama tersebut:

  1. Puisi Dua Baris (Karmina)
    Kategori pantun pertama ini merupakan puisi 2 baris yang disebut "pantun kilat" oleh praktisi telangkai, atau disebut "Karmina" dalam tradisi Melayu (secara akademis tidak dikenal). Strukturnya sangat sederhana namun padat, di mana baris pertama berisi sampiran dan baris selanjutnya berisi isi.
  2. Pantun Empat Baris
    Kategori kedua adalah pantun 4 baris yang berisi 2 baris sampiran dan 2 baris isi. Karakteristik penyampaiannya sangat unik karena orang Melayu memiliki cengkok saat berbicara. Oleh karena itu, pantun ini disampaikan melalui senandung atau dengan berdendang karena cengkoknya yang jelas.
  3. Seloka (Pantun Berkait)
    Kategori ketiga adalah Seloka atau pantun berkait yang berisi minimal 6 baris, namun secara akademis biasanya dibuat dalam 8 baris. Struktur ini membutuhkan kelihaian tinggi dalam menyusun rima antar-baitnya, sehingga jenis pantun ini jarang dibuat oleh praktisi telangkai.

Langkah Nyata Cara Melestarikan Pantun Melayu dan Tradisi Lisan

Menyelamatkan budaya takbenda tidak bisa hanya mengandalkan wacana atau seminar di ruang tertutup. Dibutuhkan langkah-langkah terstruktur dan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat untuk menghidupkan kembali tradisi ini di ruang publik.

Berdasarkan praktik baik yang dilakukan oleh lembaga kebudayaan di Sumatra Utara, berikut adalah langkah strategis yang bisa Anda terapkan:

1. Menggelar Pagelaran Seni Secara Berkala

Langkah pertama adalah membuka ruang ekspresi seluas-luasnya di masyarakat. Kebudayaan lisan akan mati jika tidak pernah diperdengarkan. Sebagai contoh nyata, sebuah acara kebudayaan yang sukses di Sumatra Utara diawali dengan pagelaran seni musik Melayu Pakpong untuk menarik minat generasi muda.

2. Melibatkan Praktisi Tradisional dalam Dialog Generasi

Menjaga kemurnian tradisi membutuhkan transfer pengetahuan langsung dari para maestro. Kehadiran narasumber ahli seperti Drs Khairil Anwar dan Tengku Ismail yang hadir sebagai narasumber dialog praktisi telangkai menjadi sangat krusial dalam menjembatani pemahaman masa lalu dengan kreativitas masa kini.

3. Mengintegrasikan Tradisi ke dalam Pendidikan Formal

Langkah ketiga yang paling berdampak panjang adalah memasukkan sastra lisan ke dalam kurikulum lokal. Dengan mengajarkan anak-anak sekolah cara mengomposisikan sampiran berbasis ekologi sekitar, kita sedang menanamkan kecintaan budaya sekaligus kesadaran lingkungan sejak dini.

Perbandingan Karakteristik Ragam Budaya Non Benda Melayu

Untuk mempermudah pemahaman Anda mengenai perbedaan struktur sastra lisan dalam budaya Melayu, data berikut merangkum karakteristik pembagian ragam puisi lisan berdasarkan kajian akademis dan praktik di lapangan.

Karakteristik Pembagian Jenis Pantun Melayu Lama
Jenis Tradisi LisanJumlah Baris MinimumMetode Penyampaian UtamaTingkat Kesulitan Praktisi
Pantun Kilat (Karmina)2Diucapkan langsungRendah
Pantun Tradisional4Senandung atau berdendangSedang
Seloka (Pantun Berkait)8Dendang berirama khususTinggi

Upaya pelestarian sastra lisan ini mendapatkan legitimasi kuat dari struktur pemerintahan setempat. Wakil Bupati Deliserdang, Lom Lom Suwondo, menyatakan sangat mendukung upaya yang dilakukan BPK Sumut dan HITPAM Deliserdang untuk melestarikan kembali pantun Melayu sebagai bagian dari kekayaan budaya masyarakat Deliserdang, khususnya etnis Melayu di pesisir Pantai Timur.

Dukungan regulasi dan fasilitasi dari pemerintah daerah seperti di pesisir Pantai Timur Sumatra Utara membuktikan bahwa sinergi antara akademisi, praktisi telangkai, dan birokrasi mampu menciptakan ekosistem yang sehat bagi pertumbuhan budaya non benda adalah sebuah keniscayaan.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed