Buku Sosiologi Kelas 11 Ungkap Mengapa Primordialisme Memicu Konflik

Smallest Font
Largest Font

Buku Sosiologi Kelas 11 SMA secara gamblang mengupas bagaimana sentimen kelompok yang berlebihan atau primordialisme dapat terbentuk dan memicu keretakan sosial. Pertanyaan mengenai faktor penyebab adanya primordialisme adalah topik krusial yang sering muncul dalam ujian, salah satunya tercantum pada Latihan Akhir Semester II Halaman 180 dalam buku karya Bondet Wrahatnala tersebut. Memahami fenomena ini sangat penting untuk melihat bagaimana ikatan lama bisa mendikte cara masyarakat modern berinteraksi.

Saya melihat kecenderungan menguatnya ikatan kelompok ini sering kali diidentifikasi secara keliru sebagai bentuk nasionalisme, padahal dampaknya bisa sangat berbeda. Ketika ikatan terhadap tradisi bawaan lahir berubah menjadi sentimen yang kaku, masyarakat menjadi lebih rentan terpecah belah. Mari kita bedah secara mendalam apa yang sebenarnya menggerakkan fenomena sosiologis ini berdasarkan literatur sosiologi terkini tahun 2026.

Secara etimologis, istilah primordialisme berasal dari bahasa Latin, yaitu primus yang berarti pertama, dan ordiri yang berarti tenunan atau ikatan. Gabungan kata ini secara harfiah menggambarkan sebuah ikatan paling utama atau ikatan yang pertama kali ditenun dalam hidup seorang manusia sejak mereka dilahirkan ke dunia.

Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata primordialisme menurut kbbi adalah suatu sikap memegang teguh hal-hal yang dibawa sejak kecil, baik tradisi, adat istiadat, kepercayaan, atau perasaan kesukuan yang berlebihan. Penekanan pada kata "berlebihan" inilah yang sering kali menjadi pembeda tipis antara cinta budaya dan fanatisme kelompok.

Primordialisme menekankan pada ikatan alami yang diadopsi individu sejak awal eksistensinya, membentuk fondasi identitas yang sangat sulit untuk diubah atau digantikan oleh nilai-nilai baru.

Ahli sosiologi Kun Maryati dalam Buku Sosiologi (2014) menjelaskan bahwa primordialisme merupakan ikatan-ikatan seseorang dalam kehidupan sosial yang sangat berpegang teguh terhadap hal-hal yang dibawa sejak lahir. Hal-hal tersebut dapat berupa suku bangsa, kepercayaan, ras, adat istiadat, daerah kelahiran, dan lain sebagainya. Pandangan ini menunjukkan sikap berpegang teguh pada hal-hal yang sejak semula melekat pada diri individu.

Rangkaian Faktor Penyebab Adanya Primordialisme

Mengapa sikap ini bisa muncul dan menetap kuat dalam sanubari individu maupun kelompok masyarakat? Sosiologi mencatat ada beberapa faktor utama yang menjadi pemicu suburnya paham ini di tengah interaksi sosial. Faktor-faktor ini bekerja secara simultan sejak seseorang berada dalam lingkungan keluarga hingga meluas ke komunitasnya.

1. Adanya Sesuatu yang Dianggap Istimewa

Faktor pertama yang memicu penyebab primordialisme adalah adanya sesuatu yang dianggap istimewa oleh individu dalam kelompok sosialnya. Sesuatu yang istimewa ini bisa berupa ras, suku bangsa, agama, atau budaya tertentu yang mendiami suatu wilayah. Ketika sebuah komunitas merasa kebudayaan atau identitas mereka memiliki keunikan yang luhur, mereka akan cenderung menjaganya secara protektif agar tidak tergerus oleh kedatangan unsur asing.

2. Keinginan Mempertahankan Keutuhan Kelompok

Kelompok sosial memiliki insting alami untuk bertahan hidup dan menolak kepunahan. Primordialisme muncul sebagai mekanisme pertahanan untuk mempertahankan keutuhan kelompok dari berbagai ancaman luar. Ancaman ini tidak selalu berbentuk fisik, melainkan bisa berupa asimilasi budaya atau penetrasi nilai-nilai baru yang berpotensi melunturkan kemurnian tradisi lokal yang sudah dijaga turun-temurun.

3. Adanya Nilai yang Berkaitan dengan Sistem Keyakinan

Nilai-nilai yang berkaitan dengan sistem keyakinan, seperti nilai keagamaan dan adat istiadat, memegang peranan paling sensitif. Ketika suatu kelompok meyakini bahwa doktrin atau ritual mereka bersifat mutlak dan suci, internalisasi nilai tersebut akan memicu loyalitas tanpa batas. Ikatan emosional yang bersumber dari keyakinan spiritual ini jauh lebih kokoh dibandingkan ikatan formal seperti hukum negara.

Pengertian, Ciri-ciri, Dampak, dan Contoh Primordialisme | Elda Elfiyanti

Pandangan Para Ahli Mengenai Ikatan Primordial

Untuk memahami kompleksitas fenomena ini, kita perlu melihat bagaimana para pakar sosiologi merumuskan perilakunya. Pandangan para ahli memberikan landasan teoretis yang kuat mengenai mengapa ikatan lama ini begitu sulit dilepaskan dari dinamika modern.

  • Kanchan Chandra: Menyatakan bahwa identitas primordial seperti etnis atau kebangsaan itu sifatnya tetap, alami, kuno, atau diperoleh secara turun-temurun.
  • Ramlan Surbakti: Menjelaskan primordialisme sebagai sebuah keterkaitan seseorang di dalam sebuah kelompok atas dasar ikatan kekerabatan, adat istiadat, dan suku bangsa, sehingga mampu melahirkan pola perilaku dan cita-cita yang sama.
  • William G. Sumner: Berpendapat bahwa di dalam grup atau kelompok masyarakat terdapat sebuah persamaan berbentuk persaudaraan yang ditunjukkan dengan kerjasama, saling menghormati, saling membantu, mempunyai persamaan solidaritas, kesetiaan terhadap kelompok, dan kesediaan berkorban demi kepentingan kelompok.

Dari pandangan-pandangan di atas, jelas terlihat bahwa ikatan primordial sebenarnya memiliki fungsi internal yang sangat positif untuk membangun soliditas kelompok. Namun, masalah besar akan muncul ketika solidaritas ke dalam (in-group) ini dibarengi dengan prasangka buruk atau penolakan terhadap kelompok luar (out-group).

Mengapa Primordialisme Bisa Memicu Konflik?

Pertanyaan besar yang sering memicu perdebatan adalah: "mengapa primordialisme bisa memicu konflik?" Jawabannya terletak pada bagaimana paham ini memandang perbedaan. Ketika seseorang atau sekelompok orang memegang teguh identitas bawaannya secara berlebihan, mereka cenderung mengembangkan cara pandang yang tidak objektif terhadap kelompok lain.

Sikap memegang teguh tradisi bawaan secara ekstrem sering kali melahirkan prasangka negatif terhadap budaya di luar kelompoknya. Ketika terjadi benturan kepentingan antar kelompok, sentimen primordial ini mudah dibakar untuk memobilisasi massa. Akibatnya, masalah kecil yang sepele bisa membesar menjadi konflik komunal karena masyarakat tidak lagi melihat akar masalah secara rasional, melainkan membela kelompok atas dasar solidaritas buta.

Perbandingan Dampak Sentimen Kelompok terhadap Masyarakat
Aspek PenilaianIkatan Internal PositifDampak Negatif Primordialisme
Solidaritas KelompokSaling membantu sesama anggotaKesetiaan buta tanpa memedulikan kebenaran
Hubungan Antar KelompokSaling menghormati perbedaanPrasangka buruk dan penolakan budaya luar
Penyelesaian MasalahMusyawarah secara objektifMemicu konflik komunal yang destruktif

Sifat egoisme kelompok yang terkandung dalam primordialisme berlebihan ini lambat laun akan menghambat proses integrasi sosial berskala besar. Masyarakat yang terkotak-kotak oleh sentimen kedaerahan atau kesukuan yang kaku akan sulit disatukan dalam sebuah cita-cita bersama, yang pada akhirnya melemahkan stabilitas nasional secara menyeluruh.

Sisi Kurang dari Kuatnya Ikatan Primordial

Meskipun ikatan kekerabatan dan adat istiadat mampu memberikan rasa aman serta identitas yang jelas bagi individu, saya melihat ada kekurangan besar (cons) yang tidak bisa diabaikan dari fenomena ini. Paham primordialisme yang terlalu dominan dalam suatu masyarakat sering kali melahirkan kejutan budaya dan penolakan terhadap modernisasi.

Masyarakat menjadi sangat tertutup terhadap inovasi, ilmu pengetahuan baru, atau perubahan sosial yang sebenarnya menguntungkan. Pemikiran individu cenderung terkekang oleh apa yang didefinisikan oleh kelompoknya sebagai "hal yang benar sesuai tradisi". Di tengah dunia tahun 2026 yang menuntut fleksibilitas tinggi dan kolaborasi lintas batas, mempertahankan eksklusivitas kelompok yang kaku justru akan membuat komunitas tersebut tertinggal di belakang.

Kondisi ini diperparah jika elite politik memanfaatkan sentimen tersebut untuk kepentingan kekuasaan sesaat. Polarisasi masyarakat akan semakin meruncing, menciptakan tembok pembatas yang tebal antar sesama warga negara. Komunikasi antar kelompok tersumbat, dan ruang-ruang dialog publik yang sehat akan digantikan oleh sentimen saling curiga.

Faktor penyebab adanya primordialisme terbukti berakar dari kombinasi nilai bawaan lahir, sistem keyakinan, dan insting perlindungan kelompok yang diinternalisasi sejak kecil. Guna mencegah agar sentimen alami ini tidak bermutasi menjadi konflik komunal yang destruktif, masyarakat harus terus didorong untuk mengembangkan sikap toleransi yang aktif serta cara pandang inklusif. Identitas budaya asal harus diletakkan sebagai kekayaan bersama untuk saling melengkapi, bukan sebagai instrumen untuk merendahkan kelompok lain.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow