Dampak Negatif Primordialisme yang Merusak Tenun Kebangsaan Indonesia

Smallest Font
Largest Font

Melihat kondisi sosiopolitik belakangan ini, saya sering mengelus dada melihat bagaimana ego kelompok begitu mudah menyulut perpecahan di ruang publik. Dampak negatif primordialisme nyata-nyata menjadi kerikil dalam sepatu bagi perjalanan bangsa ini, memicu polarisasi yang mempersulit terciptanya harmonisasi sosial di tengah masyarakat. Sebagai sebuah negara yang multikultural dan majemuk, Indonesia dianugerahi keragaman suku, agama, ras, budaya, dan bahasa yang dipayungi oleh semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Namun, ketika ikatan emosional terhadap latar belakang tersebut berubah menjadi sikap yang ekstrem, di situlah masalah besar dimulai. Saya memandang fenomena ini bukan lagi sekadar teori sosiologi yang berdebu di dalam buku sekolah, melainkan sebuah realitas yang mengancam integrasi nasional secara masif jika terus dibiarkan tanpa kendali.

Sebelum melangkah lebih jauh pada kerusakan yang ditimbulkannya, kita perlu menyamakan persepsi mengenai "apa itu primordialisme" sebenarnya. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan primordialisme sebagai suatu sikap memegang teguh hal-hal yang dibawa sejak kecil, baik tradisi, adat istiadat, kepercayaan, dan segala sesuatu yang ada di lingkungan.

Para ahli pun memiliki pandangan yang mengakar kuat mengenai konsep sosiologis ini sejak lama. Kun Maryati mendefinisikan primordialisme sebagai ikatan-ikatan seseorang dalam kehidupan sosial yang sangat berpegang teguh terhadap hal-hal yang dibawa sejak lahir baik berupa suku bangsa, kepercayaan, ras, adat istiadat, daerah kelahiran, dan lain sebagainya. Pandangan senada juga dikemukakan oleh Kanchan Chandra yang menyatakan bahwa primordial merupakan identitas etnis atau kebangsaan itu tetap, alami, kuno, atau turun temurun. Artinya, ikatan ini bersifat alamiah dan melekat erat pada sanubari setiap individu.

Sikap primordialisme adalah ikatan dalam kehidupan sosial yang dipegang teguh oleh seseorang, baik berupa suku bangsa, kepercayaan, ras, kebudayaan dan adat di daerah kelahiran dan lain sebagainya.

Penjelasan di atas dirumuskan oleh Prayitno, Berchah Pitoewas, dan Hermi Yanzi dalam Jurnal Pengaruh Sikap Primordialisme Terhadap Upaya Pembentukan Proses Harmonisasi Masyarakat Multikultur. Dari sini kita paham bahwa asal-muasalnya adalah ikatan emosional yang wajar, namun berpotensi menjadi destruktif saat bertabrakan dengan kepentingan publik.

Rantai Dampak Negatif Primordialisme terhadap Kehidupan Berbangsa

Menurut saya, dampak yang diakibatkan oleh sikap primordial adalah kemunduran dalam kedewasaan berwarganegara. Ketika seseorang memandang kelompoknya sendiri sebagai poros kebenaran mutlak, ruang dialog antarbudaya otomatis akan langsung tertutup rapat.

Irzal Anderson dan Heri Usmanto dalam makalah bertajuk Pengaruh Primordialisme dalam Lingkup Manusia, Keragaman dan Kesetaraan sempat memaparkan ciri-ciri primordialisme dalam masyarakat yang menjadi cikal bakal gesekan sosial. Manifestasi dari ciri-ciri tersebut kerap berujung pada konsekuensi pahit berikut ini.

1. Menghambat Proses Integrasi Nasional

Integrasi bangsa membutuhkan kerelaan setiap individu untuk melebur dalam identitas bersama sebagai satu tanah air. Ketika sentimen kedaerahan terlalu mendominasi, upaya penyatuan ini akan berjalan sangat lambat, bahkan bisa mengalami stagnasi total.

2. Memicu Konflik Horizontal dan Radikalisme

Sikap ego sektoral yang akut membuat masyarakat rentan terprovokasi oleh isu-isu sensitif yang menyinggung SARA. Sejarah mencatat banyak benturan antarkelompok terjadi hanya karena ketiadaan toleransi dan rasa superioritas atas golongan lain.

3. Menghidupkan Sikap Etnosentrisme dan Prasangka

Etnosentrisme membuat seseorang menilai budaya orang lain menggunakan kacamata budayanya sendiri. Hal ini melahirkan stereotip negatif yang tidak adil bagi kelompok minoritas atau pendatang di suatu wilayah.

4. Mengurangi Objektivitas dalam Ruang Publik

Dalam dunia profesional maupun politik, nepotisme berbasis kesukuan sering kali langgeng akibat sikap ini. Pengambilan keputusan tidak lagi didasarkan pada kapabilitas atau meritokrasi, melainkan atas dasar kesamaan asal-usul daerah.

Pengertian, Ciri-ciri, Dampak, dan Contoh Primordialisme | Elda Elfiyanti

Sisi Lain Koin: Apakah Ada Dampak Positifnya?

Untuk bersikap adil dan kritis, saya tidak bisa menyebut bahwa paham ini 100 persen buruk tanpa memiliki fungsi sosial sama sekali. Di balik potensi destruktifnya, sikap ini sebenarnya memegang peran penting dalam menjaga kelestarian kebudayaan lokal agar tidak punah digilas zaman.

Ramlan Surbakti mendefinisikan primordialisme sebagai sebuah keterkaitan seseorang di dalam sebuah kelompok atas dasar ikatan kekerabatan, adat istiadat, dan suku bangsa, sehingga melahirkan pola perilaku dan cita-cita yang sama. Pola perilaku inilah yang menjaga tradisi tetap hidup.

William G. Sumner menyatakan bahwa di dalam grup atau kelompok masyarakat terdapat persamaan berbentuk persaudaraan yang ditunjukkan dengan kerjasama, saling menghormati, saling membantu, memiliki persamaan solidaritas, kesetiaan terhadap kelompok, serta bersedia berkorban demi kepentingan kelompok. Solidaritas internal inilah yang menjadi benteng pertahanan budaya.

Rekam Jejak Eksistensi dan Contoh Nyata di Indonesia

Buku Sosiologi karya Kun Maryati dan Juju Suryawati yang diterbitkan pada tahun 2001 pada halaman 51 telah lama mengulas bagaimana struktur masyarakat kita merespons ikatan-ikatan primordial ini. Di lapangan, kita bisa melihat implementasinya dalam berbagai bentuk, baik yang bersifat pelestarian budaya maupun gerakan politik.

Beberapa "arti primordialisme dan contohnya di indonesia" dapat kita klasifikasikan ke dalam struktur sosial dan sejarah sebagai berikut:

  • Gerakan Politik Pemisahan Diri: Contoh kasus sejarah yang ekstrem adalah Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang sempat bergolak akibat kuatnya sentimen identitas lokal.
  • Tradisi dan Ritual Adat: Ritual Ma'nene di Tana Toraja, tradisi potong gigi di Bali, serta tradisi sungkem dalam budaya Jawa yang melestarikan nilai luhur leluhur.
  • Organisasi Kemahasiswaan: Munculnya Kelompok Mahasiswa Asli Malang atau Paguyuban Mahasiswa Betawi di lingkungan universitas.
  • Paguyuban Antardaerah: Terbentuknya wadah seperti Persatuan Masyarakat Sulawesi Selatan di Bali sebagai ruang silaturahmi perantau.

Mari kita lihat perbandingan komparatif dari manifestasi sikap ini dalam kehidupan nyata agar kita bisa mengidentifikasi batasan antara pelestarian budaya dan ancaman disintegrasi secara objektif.

Analisis Bentuk dan Dampak Sikap Primordial di Indonesia
Bentuk ManifestasiSifat GerakanDampak Utama
Gerakan Aceh Merdeka (GAM)Politik/SeparatismeAncaman kedaulatan negara
Ritual Ma'nene & SungkemBudaya/TradisiPelestarian warisan leluhur
Paguyuban Mahasiswa BetawiSosial/EdukasiSolidaritas daerah di perantauan
Persatuan Masyarakat Sulawesi SelatanSosial/KemasyarakatanIntegrasi antardaerah terbatas

Sikap memegang teguh tradisi seperti sungkem atau ritual Ma'nene jelas berdampak positif bagi kekayaan budaya. Namun, ketika wadah kedaerahan seperti organisasi mahasiswa atau paguyuban antardaerah mulai menutup diri dan menolak berbaur, di situlah bibit perpecahan mulai tumbuh subur.

Penilaian kritis saya menunjukkan bahwa tantangan terbesar bangsa ini bukanlah keberagamannya, melainkan bagaimana mengelola ego kelompok agar tidak melampaui kepentingan nasional. Kesetiaan terhadap suku dan daerah asal harus ditempatkan di bawah payung besar persatuan Indonesia agar tidak menciptakan sekat-sekat eksklusivisme yang rapuh.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed