Benarkah Masa Lalu Hanya Isapan Jempol Ini Cara Membuktikan Sejarah Bersifat Empiris

Smallest Font
Largest Font

Banyak orang mengira kisah masa lalu hanyalah dongeng yang ditulis berdasarkan imajinasi, padahal fakta menunjukkan bahwa sejarah bersifat empiris dan bersandar pada bukti nyata. Ketika berbicara tentang "apa pengertian sejarah sebagai ilmu", kita tidak sedang mendiskusikan spekulasi tanpa dasar melainkan sebuah kajian sistematis terhadap peristiwa yang benar-benar terjadi. Sebagai praktisi yang sering bergelut dengan ruang lingkup riset, saya menyadari bahwa tantangan terbesar adalah meyakinkan publik bahwa sejarah memiliki pilar ilmiah yang kokoh.

Secara etimologis, istilah sejarah berasal dari bahasa Arab yaitu syajarah yang berarti pohon, sebuah metafora untuk menggambarkan silsilah atau asal-usul perkembangan peristiwa secara berkelanjutan.

Namun, untuk bergeser dari sekadar silsilah menjadi disiplin akademik, para sejarawan harus menerapkan prinsip empiris secara ketat di lapangan. Berikut adalah panduan logis langkah demi langkah untuk memahami dan membuktikan sifat empiris dalam ruang lingkup ilmu sejarah.

Langkah pertama dalam membuktikan sejarah sebagai ilmu adalah menentukan dengan jelas apa yang menjadi objek kajiannya. Dalam pengalaman saya menangani berbagai proyek rekonstruksi narasi, kegagalan awal biasanya terjadi karena peneliti mencampuradukkan mitos dengan aktualitas.

Berdasarkan pilar penyangga ilmu, sejarah didukung oleh pilar ontologi yang menganalisis hakikat masalah atau objek nyata di masa lampau. Objek ini bukanlah khayalan, melainkan aktivitas manusia yang terikat oleh ruang dan waktu yang spesifik. Kuntowijoyo dalam buku Pengantar Ilmu Sejarah (2005) menegaskan bahwa terdapat lima ciri utama sejarah sebagai ilmu, di mana bersifat empiris dan memiliki objek menempati posisi krusial.

Tanpa adanya objek konkret berupa tindakan manusia di masa lalu, sebuah narasi akan gugur dan tidak bisa dikategorikan sebagai ilmu pengetahuan.

Langkah 2 Menerapkan Prosedur Epistemologi Melalui Verifikasi Data

Setelah objek ditentukan, Anda wajib masuk ke ranah metodologi atau cara mengejar masalah tersebut secara prosedural. Di sinilah "pengertian empiris dalam ilmu sejarah" diuji secara langsung melalui pengumpulan dan pengujian sumber secara ketat. Sifat empiris berarti ilmu tersebut bersandar pada pengalaman manusia yang direkam melalui bukti-bukti faktual, seperti dokumen, artefak, atau prasasti.

Kesalahan umum yang saya lihat adalah peneliti pemula langsung memercayai sebuah kisah tanpa melakukan kritik sumber terlebih dahulu.

Melalui pilar epistemologi, setiap data wajib melalui tahapan verifikasi untuk menguji otentisitas (keaslian fisik) dan kredibilitas (kebenaran isi). Proses ini memastikan bahwa sejarah yang ditulis bukanlah fiksi ilmiah, melainkan sebuah rekonstruksi yang objektif, rasional, dan tervalidasi.

Sejarah Sebagai Ilmu Empiris | Ruangguru Bimbel Terbesar No. 1 di Indonesia!

Untuk mempermudah pemahaman mengenai klasifikasi ruang lingkup ini, kita dapat melihat pembagian yang berkembang dalam tradisi akademik.

Dilansir dari Detik, sejarah sebagai ilmu merupakan salah satu dari empat ruang lingkup sejarah yang diakui secara luas.

Berikut adalah tabel pembagian ruang lingkup tersebut untuk memberikan gambaran yang lebih terstruktur bagi Anda.

Pembagian Ruang Lingkup Sejarah dalam Tradisi Akademik
Ruang Lingkup SejarahFokus Utama KajianKarakteristik Dasar
Sejarah sebagai PeristiwaAktualitas kejadian masa laluUnik, sekali terjadi, abadi
Sejarah sebagai KisahNarasi rekonstruksi sejarawanSubjektif, informatif, edukatif
Sejarah sebagai IlmuMetode ilmiah dan verifikasi dataEmpiris, objektif, empiris
Sejarah sebagai SeniIntuisi dan gaya penulisanImajinatif, emosional, estetis

Langkah 3 Menggunakan Teori dan Metode untuk Analisis Sinkronik-Diakronik

Langkah ketiga adalah membedah data yang telah lolos verifikasi menggunakan perangkat teoretis yang relevan. Mengapa sejarah disebut sebagai ilmu tentu karena ia tidak hanya mengumpulkan barang antik, tetapi juga menjelaskan hubungan sebab-akibat.

Menurut Kuntowijoyo, sejarah sebagai ilmu wajib memiliki teori dan memiliki metode guna menganalisis dinamika masyarakat secara mendalam. Dalam praktiknya, kita menggunakan pendekatan diakronis yang memanjang dalam waktu untuk melihat kronologi dan perkembangan dari masa ke masa. Konsep sejarah sebagai ilmu sendiri lahir pada awal abad ke-20 melalui perdebatan ilmiah pertama kali di Jerman antara ahli filsafat dan sejarawan.

Perdebatan tersebut berfokus pada pertanyaan apakah sejarah termasuk cabang ilmu pengetahuan atau sekadar seni naratif biasa.

Sejak abad ke-19, seiring perkembangan ilmu dan sains, sejarah terus memantapkan metodologinya agar sejajar dengan disiplin ilmiah lainnya.

Langkah 4 Merumuskan Generalisasi Berdasarkan Fakta Konkret

Langkah terakhir adalah menarik kesimpulan atau generalisasi yang bersifat ilmiah dari sekumpulan fakta yang telah dianalisis.

Namun, perlu diingat bahwa generalisasi dalam ilmu sejarah berbeda dengan hukum mutlak dalam ilmu alam. Generalisasi di sini berfungsi sebagai kesimpulan umum untuk memahami pola perilaku masyarakat pada periode tertentu.

Dari pengalaman saya, rumusan generalisasi ini harus senantiasa berpijak pada pilar aksiologi, yaitu cara menerapkan ilmu sesuai kaidah moral dan kegunaannya bagi masyarakat luas. Sebagai contoh nyata dari penerapan sifat empiris ini, kita bisa menelisik bukti fisik dari peradaban masa lampau di Indonesia.

Pembangunan tempat peribadatan umat Buddha, yaitu Candi Borobudur di Magelang oleh warga dan silpin (pengukir atau pembangun), terjadi pada masa Kerajaan Medang Mataram atau Mataram Kuno.

Keberadaan candi ini beserta reliefnya menjadi bukti empiris yang tidak bisa dibantah bahwa aktivitas religius dan arsitektural tersebut benar-benar nyata terjadi di masa lampau.

Melalui keberadaan bukti fisik seperti Candi Borobudur, kita dapat melihat dengan jelas "contoh sejarah sebagai ilmu dan seni" yang melekat jadi satu.

Sisi ilmunya dibuktikan melalui ekskavasi arkeologis dan pembacaan prasasti, sedangkan sisi seninya terlihat dari estetika pahatan para silpin di dinding candi. Untuk merangkum seluruh prinsip ini, memahami karakteristik yang diuraikan oleh para ahli akan mempermudah pengerjaan riset Anda. Bila muncul pertanyaan warga mengenai "apa saja ciri sejarah menurut kuntowijoyo", Anda kini bisa mengidentifikasinya dengan mudah.

  • Bersifat Empiris: Bersandarkan pada pengalaman dan bukti nyata manusia yang terekam.
  • Memiliki Objek: Memfokuskan kajian pada waktu dan aktivitas manusia di masa lampau.
  • Memiliki Teori: Mempunyai kerangka kaidah dan prinsip ilmiah dalam membedah fenomena.
  • Memiliki Metode: Mengikuti prosedur penelitian sistematis mulai dari heuristik hingga historiografi.
  • Terdapat Generalisasi: Menghasilkan kesimpulan umum dari studi kasus sejarah yang diteliti.

Penerapan keempat langkah di atas secara konsisten akan memastikan bahwa rekonstruksi masa lalu yang Anda lakukan terhindar dari bias hoax dan dongeng tanpa dasar.

Sifat empiris menuntut kita untuk selalu mengembalikan narasi kepada data lapangan yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow