Bikin Bingung Akademisi Ini Cara Mengutip Daftar Pustaka dari Jurnal Berdasarkan Aturan Terbaru

Smallest Font
Largest Font

Menyusun karya ilmiah sering kali membuat kepala pusing, terutama saat tiba waktunya untuk menerapkan cara membuat daftar pustaka dari jurnal secara tepat. Kesalahan kecil dalam mengutip referensi bisa berdampak fatal pada penilaian validitas karya akademis Anda. Banyak mahasiswa maupun peneliti pemula merasa bingung mengenai "bagaimana cara menulis daftar pustaka yang benar" agar sesuai dengan standar institusi.

Padahal, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sudah mendefinisikan daftar pustaka sebagai daftar yang mencantumkan judul buku, nama pengarang, penerbit, dan sebagainya yang ditempatkan pada bagian akhir suatu karangan, serta disusun menurut abjad. Format penulisan kutipan ini terus mengalami pembaruan dari tahun ke tahun demi efisiensi penulisan ilmiah. Oleh karena itu, memahami struktur anatomi referensi yang mutakhir menjadi kewajiban mutlak bagi siapa saja yang sedang bergelut dengan dunia akademik.

Menurut Dr. Ida Samidah, S.Kp, M.Kes dan Dahrizal, S.Kp, MPH dalam buku mereka yang berjudul Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, ada aturan baku yang wajib dipatuhi. Komponen urutan penulisan daftar pustaka dari jurnal terdiri atas nama belakang penulis, singkatan nama depan, tahun penerbitan, judul artikel, nama jurnal, volume dan nomor jurnal, serta halaman.

Setiap bagian ini memiliki tanda baca pemisah yang spesifik dan tidak boleh tertukar. Penulisan nama jurnal serta volume harus dicetak miring, sedangkan nomor jurnal diletakkan di dalam tanda kurung tanpa spasi setelah volume.

Aturan penulisan daftar pustaka dari jurnal adalah: nama belakang, singkatan (inisial) nama depan dan nama tengah (jika ada), tahun penerbitan, judul artikel, nama jurnal (cetak miring), volume dan nomor jurnal (nomor jurnal dalam tanda kurung), nomor halaman artikel dalam jurnal.

Mari kita bedah susunan daftar pustaka buku apa style dan jurnal ilmiah agar Anda tidak keliru dalam menata letak tanda bacanya. Standar terupdate yang dirilis oleh American Psychological Association (APA) pada edisi ke-7 tahun 2019 membawa perubahan signifikan, salah satunya tidak lagi mencantumkan nama tempat atau kota penerbit.

Komponen Utama Tulisan Jurnal

Langkah awal dalam mempraktikkan cara menulis daftar pustaka dimulai dengan mengidentifikasi elemen-elemen penting dari artikel sumber. Anda harus mencatat nama lengkap penulis, tahun terbit resmi, judul spesifik artikel, nama jurnal yang menaunginya, nomor volume, nomor isu, hingga rentang halaman dokumen tersebut.

Format susunan ini berlaku universal, baik untuk jurnal cetak maupun digital. Namun, untuk jurnal online, LIPI Press telah mengeluarkan Panduan Penyusunan Kutipan dan Daftar Pustaka yang menjadi rujukan urutan penulisan dari artikel jurnal online, buku elektronik, dan website dengan menyertakan tautan atau DOI.

Penerapan Aturan Tanda Baca

Tanda titik digunakan untuk memisahkan nama penulis, tahun terbit, judul artikel, dan nama jurnal. Sementara itu, tanda koma digunakan setelah nama belakang penulis dan untuk memisahkan volume jurnal dengan rentang halaman artikel.

Penggunaan tanda kurung hanya diperuntukkan bagi nomor dokumen atau nomor isu jurnal, serta tahun terbit. Kesalahan yang paling sering saya temukan adalah pemberian spasi yang keliru di antara volume dan tanda kurung nomor jurnal.

Mengutip dan Merujuk Artikel Jurnal dengan MUDAH! Referensi APA Edisi ke-7 | Selangkah Lagi

Variasi Format Penulisan Berdasarkan Jumlah Penulis

Tantangan nyata muncul ketika artikel ilmiah yang Anda rujuk ditulis oleh kelompok tim peneliti yang besar. Tata cara penulisan dokumen dengan satu penulis tentu berbeda dengan dokumen yang digarap oleh banyak orang sekaligus.

Institusi biasanya memberikan batasan ketat mengenai aturan menulis daftar pustaka lebih dari 3 penulis. Skema penulisan ini dirancang sedemikian rupa agar daftar referensi di bagian akhir halaman tidak menjadi terlalu panjang dan memakan tempat.

Berikut adalah rincian contoh format penulisan daftar pustaka yang bersumber dari jurnal ilmiah berdasarkan data contoh nyata:

  • Satu Penulis: Samidah, I. (2014). Judul Artikel Jurnal Ilmiah. Nama Jurnal, 14(2), 121-141.
  • Dua Penulis: Dahrizal, D., & Samidah, I. (2022). Analisis Data Kesehatan. Jurnal Keperawatan, 6(2), 147-159.
  • Banyak Penulis (Lebih dari 3): Kurland, P. B., Lerner, K., dkk. (1987). Judul Dokumen Riset Bersama. Jurnal Ilmu Sosial, 11(9), 1-27.

Analisis Kasus dan Contoh Penerapan Sesuai Referensi

Berdasarkan himpunan data konkrit dari naskah publikasi ilmiah yang valid, struktur angka tahun, volume, dan halaman memiliki pola yang konsisten. Kejelian melihat detail angka ini memisahkan antara artikel ilmiah yang rapi dengan yang berantakan.

Saya sering melihat mahasiswa asal-asalan dalam memasukkan angka volume dan nomor, sehingga dosen pembimbing harus mencoret ulang draf tersebut. Padahal, contoh nyata dari artikel referensi resmi sudah menunjukkan struktur penulisan angka yang sangat presisi.

Untuk memudahkan pemahaman Anda mengenai perbedaan penulisan berdasarkan elemen volume, nomor, dan tahun terbit, silakan cermati struktur data terstandardisasi di bawah ini.

Struktur Data Volume, Nomor, dan Halaman Jurnal Ilmiah
Tahun TerbitVolume dan Nomor JurnalRentang Halaman
2018Volume 6 Nomor 2147-159
2022Volume 14 Nomor 2322-345
2010Volume 14 Nomor 2121-141
2005Volume 2 Nomor 1159-173
2008Volume 7 Nomor 138-60
1997Volume 11 Nomor 91-27
2014Volume 6

Apabila Anda mengutip referensi berupa tulisan daftar pustaka dari internet yang bersifat dinamis, pencantuman tanggal akses terkadang menjadi opsi tambahan yang disyaratkan oleh pembuat panduan lokal. Berdasarkan dokumen historis, contoh tanggal akses referensi internet yang kerap digunakan meliputi format seperti 24 Juni 2016, 28 Februari 2010, atau 29 Juni 2016.

Kekurangan Sistem Manual dalam Pengutipan Modern

Menulis daftar pustaka secara manual satu per satu lewat papan ketik laptop menurut saya adalah metode purba yang sudah tidak efektif. Cara konvensional ini memiliki kelemahan fatal berupa tingginya risiko salah ketik atau salah meletakkan tanda titik koma. Kekurangan lainnya adalah waktu pengerjaan yang menjadi sangat lama, terutama jika referensi Anda mencapai puluhan hingga ratusan dokumen. Sedikit saja ada perubahan posisi urutan abjad atau revisi teks dari dosen, Anda terpaksa merombak susunan daftar tersebut dari awal lagi.

Teknologi manajemen referensi digital kini sudah sangat matang dan terintegrasi dengan perangkat lunak pengolah kata. Memaksakan diri menggunakan cara manual di tengah tuntutan riset yang cepat hanya akan membuang energi Anda secara sia-sia. Gunakanlah aplikasi pengelola referensi otomatis seperti Mendeley atau fitur bawaan Microsoft Word untuk meminimalkan human error. Langkah otomatisasi ini menjamin konsistensi format kutipan dari baris pertama hingga baris terakhir secara instan tanpa perlu pengecekan manual yang melelahkan.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow