Tulisan Berita Terasa Kaku? Ini Cara Menyusun Verba Pewarta yang Dinamis
Menulis teks berita yang memikat sekaligus akurat sering kali terbentur pada pilihan kata yang monoton saat mengutip pernyataan narasumber. Masalah nyata yang kerap dihadapi penulis pemula adalah pengulangan kata "mengatakan" atau "menuturkan" di hampir setiap paragraf kutipan. Akibatnya, ritme tulisan menjadi kaku dan pembaca cepat merasa bosan saat menikmati artikel berita Anda.
Penggunaan variasi kata kerja khusus atau verba pewarta yang tepat menjadi kunci utama untuk menghidupkan narasi berita. Artikel ini akan memandu Anda memahami konsep, melihat variasi maknanya berdasarkan riset, serta menguasai langkah demi langkah penerapannya dalam tulisan jurnalistik Anda.
Sebelum masuk ke teknis penulisan, kita perlu menyamakan persepsi mengenai apa sebenarnya elemen kebahasaan yang satu ini. Berdasarkan penjelasan Aftalin Zahro dan Cahyo Hasanudin (2022) dalam buku Strategi Membuat Media Pembelajaran Inovatif pada Era Society 5.0, verba pewarta adalah kata kerja yang digunakan untuk menunjukkan atau menandai adanya percakapan atau proses ketika seseorang berbicara atau menyampaikan informasi dalam teks berita.
Jika kita membedah pengertiannya secara etimologis, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan 'verba' sebagai kata kerja atau kata yang menggambarkan proses, perbuatan, atau keadaan. Sementara itu, kata 'pewarta' diartikan sebagai orang yang mewartakan. Jadi, kata kerja ini menjadi jembatan utama antara jurnalis dengan pembaca dalam menyampaikan isi pernyataan orang lain.
Lebih lanjut, Taufiqur Rahman (2018) dalam buku Teks dalam Kajian Struktur dan Kebahasaan menyatakan bahwa verba pewarta adalah kata kerja yang digunakan untuk mengindikasikan bahwa suatu percakapan pernah terjadi. Tanpa adanya elemen ini, pembaca akan kesulitan membedakan antara opini pribadi penulis dengan fakta mentah yang disampaikan oleh narasumber di lapangan.
Verba pewarta bertindak sebagai jangkar objektivitas dalam sebuah produk jurnalistik, menegaskan bahwa informasi tersebut benar-benar keluar dari lisan narasumber.
Variasi dan Komponen Makna Berdasarkan Riset Kebahasaan
Dalam praktik menulis sehari-hari, kesalahan umum yang saya lihat adalah keengganan mengeksplorasi kosakata karena takut salah mengartikan intensi narasumber. Padahal, kekayaan bahasa Indonesia menyediakan banyak sekali opsi kata kerja yang bisa disesuaikan dengan konteks situasi berita.
Sebagai bukti ilmiah, penelitian berjudul "Variasi dan Pola Kolokasi Verba Pewarta pada Kasus Vonis Ferdy Sambo dalam Berita Daring Kompas.com dan Detik.com" oleh Dewi Herlina dan Dr. Hendrokumoro, M. Hum menggunakan pendekatan semantik leksikal dan metode deskriptif kualitatif. Penelitian ini menganalisis teks berita pada periode 8–10 Agustus 2023 saat terjadi perubahan vonis mati menjadi seumur hidup pada kasus vonis Ferdy Sambo.
Hasil penelitian tersebut menemukan 20 variasi verba pewarta dalam korpus berita daring yang diteliti. Bentuk yang dominan muncul adalah verba aktif dengan kombinasi afiks MeN-kan dan Me-I. Dari analisis komponen maknanya, ditemukan adanya 18 perbedaan verba serta 2 verba (yaitu "mengatakan" dan "menyatakan") yang memiliki relasi makna berdekatan. Fakta ini membuktikan bahwa setiap kata kerja pilihan Anda membawa nuansa psikologis dan ketegasan yang berbeda di mata pembaca.
Langkah Praktis Menerapkan Verba Pewarta dalam Teks Berita
Dari pengalaman saya menangani penyuntingan naskah berita, menyusun kalimat kutipan yang dinamis membutuhkan kebiasaan terstruktur. Berikut adalah langkah-langkah berurutan yang bisa langsung Anda eksekusi saat menulis teks berita:
- Identifikasi Nuansa Pernyataan Narasumber. Sebelum menulis, dengarkan kembali rekaman atau baca catatan wawancara Anda. Apakah narasumber menyampaikannya secara santai, tegas, memberikan klarifikasi, atau dalam tekanan? Konteks situasi ini menentukan kata kerja yang akan Anda pilih.
- Tentukan Jenis Kutipan yang Digunakan. Pilih apakah Anda ingin menggunakan kutipan langsung (menggunakan tanda petik dua) atau kutipan tidak langsung. Verba pewarta dapat diletakkan di awal sebelum kutipan, atau di akhir setelah kutipan selesai.
- Pilih Kata Kerja Aktif yang Proporsional. Gunakan variasi kata kerja aktif dengan afiks yang tepat. Jika narasumber memberikan informasi yang bersifat kebijakan resmi, kata "menyatakan" atau "menegaskan" lebih cocok daripada sekadar "mengatakan".
- Lakukan Pemenggalan Paragraf untuk Menjaga Ritme. Pastikan susunan kalimat kutipan Anda tidak terlalu panjang. Batasi setiap paragraf agar hanya berisi 1 hingga 3 kalimat saja untuk kenyamanan pembaca di layar ponsel.
- Periksa Keselarasan Makna. Pastikan kata kerja yang Anda pilih tidak mengubah maksud asli dari narasumber, terutama untuk berita-berita sensitif seperti masalah hukum atau politik.
Membedakan Penggunaan Jenis Verba Pewarta
Untuk memudahkan Anda memilih kata yang pas, kita bisa mengelompokkan kata-kata kerja ini berdasarkan fungsi penyampaian informasinya. Menggunakan opsi yang bervariasi akan membuat teks berita Anda terlihat jauh lebih profesional dan kaya informasi.
- Verba Informasi Netral: Digunakan untuk menyampaikan fakta biasa tanpa tendensi emosional tertentu. Contoh: mengatakan, menuturkan, menjelaskan, menyampaikan, menyebutkan.
- Verba Informasi Tegas: Digunakan saat narasumber memberikan pengumuman resmi, keputusan mutlak, atau mempertahankan argumen. Contoh: menyatakan, menegaskan, menekankan, memaparkan.
- Verba Informasi Responsif: Digunakan untuk menjawab pertanyaan, menanggapi isu, atau menyanggah tudingan. Contoh: menanggapi, membantah, mengklarifikasi, menjawab.
Analisis Contoh Penerapan dalam Konteks Berita Riil
Untuk memberikan gambaran yang lebih nyata, mari kita perhatikan bagaimana kata-kata kerja ini bekerja di dalam struktur kalimat berita yang mengacu pada peristiwa-peristiwa nyata. Perhatikan bagaimana peletakan elemen kebahasaan ini memengaruhi cara pembaca menerima informasi.
Dalam konteks rapat terbatas kabinet mengenai pelaksanaan Pemilu Indonesia yang dijadwalkan tetap dilangsungkan pada 14 Februari 2024, penggunaan verba pewarta menjadi krusial untuk menyampaikan kepastian. Kalimat berita dapat disusun seperti ini:
Presiden Jokowi menegaskan bahwa pelaksanaan Pemilu Indonesia tetap dilangsungkan pada 14 Februari 2024 sesuai jadwal yang telah disepakati bersama.
Penggunaan kata "menegaskan" di atas memberikan kesan otoritas dan kepastian yang kuat, sesuai dengan sifat rapat terbatas kabinet tersebut. Sebaliknya, perhatikan contoh lain ketika Presiden Jokowi menyampaikan pandangan umum mengenai kondisi sosiologis bangsa:
Presiden Jokowi menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang beragam karena terdiri dari berbagai suku, agama, ras, dan budaya.
Kata "menyatakan" di sini berfungsi dengan baik untuk menguraikan sebuah pernyataan atau pemikiran umum yang bersifat deskriptif tanpa adanya urgensi konflik atau kebijakan darurat.
Kita juga bisa melihat contoh pada peliputan berita internasional, seperti peristiwa Perang Rusia-Ukraina yang terjadi sejak 24 Februari 2022. Dalam narasi konflik geopolitik yang intens, ketepatan memilih verba pewarta sangat diuji agar jurnalis tetap berdiri di koridor independen dan tidak terkesan memihak salah satu kubu secara subjektif.
| Verba Pewarta | Fungsi Kebahasaan | Dampak pada Pembaca |
|---|---|---|
| Mengatakan | Menyampaikan info dasar | Netral dan biasa |
| Menegaskan | Memberi penekanan kuat | Yakin dan formal |
| Mengklarifikasi | Meluruskan ketidakpastian | Solutif dan responsif |
| Membantah | Menolak sebuah tuduhan | Defensif dan kontras |
Menghindari Kesalahan Umum dalam Penulisan Kalimat Pewarta
Dalam kasus yang sering saya temui di lapangan, banyak penulis terjebak pada struktur kalimat yang rancu akibat salah menempatkan subjek atau salah mengombinasikan kata tugas setelah verba pewarta. Salah satu kesalahan fatal adalah menambahkan kata hubung "bahwa" setelah verba pewarta pada kalimat kutipan langsung.
Perhatikan contoh kerancuan ini: Budi mengatakan bahwa, "Kami akan segera merenovasi gedung tersebut esok hari." Struktur ini salah total karena mencampuradukkan kaidah kalimat langsung dan tidak langsung. Jika ingin menggunakan kutipan langsung, kata "bahwa" wajib dihilangkan agar hak prerogatif ucapan narasumber tidak terdistorsi.
Sebaliknya, jika Anda memilih menulis teks berita dengan gaya kutipan tidak langsung, keberadaan konjungsi "bahwa" justru menjadi bumbu wajib yang mengikat verba pewarta dengan isi informasi yang disampaikan. Konsistensi dalam menjaga detail kecil seperti ini yang memisahkan antara penulis amatir dengan editor profesional.
Ketepatan mengolah kata kerja pewarta pada akhirnya bukan sekadar urusan estetika tulisan agar enak dibaca. Lebih dari itu, kejelian memilah kata mencerminkan pemahaman mendalam seorang jurnalis terhadap psikologi narasumber dan dinamika isu yang sedang berkembang saat itu. Mulailah menginventarisasi kosakata baru dari kamus dan riset kebahasaan, lalu terapkan secara bertahap pada setiap draf berita yang Anda susun guna menghasilkan karya jurnalistik yang berbobot serta bernilai tinggi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow