Suhu Anak Tembus 38 Derajat Celcius, Ini Fakta Cara Tradisional Mengatasi Step
Melihat buah hati tiba-tiba mengalami kejang saat badannya panas tinggi tentu menjadi momen yang sangat menakutkan bagi setiap orang tua. Kepanikan ini sering kali membuat orang dewasa secara refleks mencari obat tradisional kejang demam atau menerapkan metode turun-temurun yang dianggap ampuh. Namun, tidak semua kebiasaan lama aman secara medis untuk memitigasi kondisi step pada anak.
Penting untuk dipahami bahwa penanganan yang keliru justru berisiko memperburuk kondisi fisik sang anak.
Edukasi berbasis bukti ilmiah sangat krusial agar orang tua tidak terjebak dalam mitos yang membahayakan nyawa.
Dalam dunia medis, kondisi yang sering disebut masyarakat awam sebagai step ini dikenal dengan istilah kejang demam. Berdasarkan data kesehatan yang dihimpun oleh Morinaga.id, kondisi ini umumnya dialami oleh anak-anak yang berada dalam rentang usia 6 bulan hingga 5 tahun. Kejang ini merupakan respons sistem saraf pusat terhadap lonjakan suhu tubuh yang terjadi secara mendadak.
Orang tua harus waspada ketika suhu tubuh anak sudah melebihi angka 38°C.
Suhu tinggi inilah yang memicu gangguan aktivitas listrik sementara di dalam otak anak.
Kejang demam tidak selalu berarti anak menderita epilepsi, melainkan reaksi spesifik tubuh balita terhadap demam tinggi.
Namun, tidak semua anak yang mengalami demam tinggi akan otomatis mengalami kejang. Terdapat beberapa elemen spesifik yang meningkatkan kerentanan seorang balita terhadap kondisi ini. Morinaga.id merilis daftar faktor risiko utama yang perlu diwaspadai oleh pihak keluarga.
Faktor Risiko yang Memicu Kejang
Faktor pertama yang paling sering ditemukan adalah adanya riwayat keluarga dengan kondisi serupa. Jika orang tua atau saudara kandung pernah mengalami kejang demam saat kecil, risiko anak mengalami hal yang sama akan meningkat drastis. Faktor bawaan lahir juga memegang peranan penting dalam sensitivitas sistem saraf anak.
Anak dengan berat badan rendah saat lahir memiliki kerentanan yang lebih tinggi.
Selain itu, kelahiran prematur juga memengaruhi kematangan sistem saraf pusat dalam menghadapi lonjakan suhu.
Kondisi terakhir yang masuk dalam daftar risiko adalah keterlambatan tumbuh kembang. Anak-anak dengan keterlambatan perkembangan saraf cenderung lebih sensitif terhadap perubahan suhu tubuh yang ekstrem. Di luar faktor-faktor tersebut, ada pula kondisi genetik langka yang disebut Sindrom Dravet, yaitu bentuk epilepsi parah yang dimulai sejak bayi dan disebabkan oleh mutasi genetik tertentu.
Meluruskan Mitos Cara Tradisional Mengatasi Anak Step
Di tengah masyarakat Indonesia, beredar berbagai mitos mengenai cara mengatasi anak kejang dengan bahan-bahan dapur atau tindakan fisik tertentu. Salah satu yang paling populer adalah mencekokkan kopi hitam ke mulut bayi atau anak yang sedang kejang. Praktik ini dipercaya secara turun-temurun dapat menghentikan kejang dengan cepat dan mencegahnya kambuh di masa depan.
Faktanya, pemberian kopi pada anak yang sedang mengalami penurunan kesadaran sangat berbahaya.
Cairan yang dipaksakan masuk ke dalam mulut dapat mengalir ke saluran pernapasan dan menyebabkan aspirasi atau tersedak.
Dilansir dari KlikDokter, secara medis pemberian kopi hitam sama sekali tidak terbukti dapat mencegah atau mengobati kejang pada anak. Kandungan kafeina dalam kopi justru merupakan stimulan yang dapat meningkatkan kerja jantung dan berpotensi memperburuk kondisi anak yang sedang mengalami tekanan akibat demam tinggi.
Mitos lain yang tidak kalah berbahaya adalah memasukkan sendok, kayu, atau jari tangan ke dalam mulut anak saat kejang berlangsung. Tindakan ini sering kali didasari ketakutan bahwa anak akan menggigit lidahnya sendiri hingga putus. Secara anatomis, risiko lidah tertelan itu tidak ada, dan memaksa memasukkan benda keras ke mulut justru berisiko mematahkan gigi anak, melukai rongga mulut, atau menyumbat jalan napas.
Pertolongan Pertama yang Benar Saat Anak Kejang
Ketika anak mengalami anak demam tinggi terus kejang, kunci utamanya adalah tetap tenang dan jangan panik. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memindahkan anak ke tempat yang aman, jauh dari benda-benda tajam, keras, atau sumber bahaya seperti listrik dan air. Longgarkan pakaian ketat anak, terutama di bagian leher, untuk memastikan jalan napasnya tetap terbuka.
Posisikan tubuh anak miring ke salah satu sisi, baik ke kanan maupun ke kiri.
Posisi miring ini sangat krusial agar cairan seperti air liur atau muntahan dapat keluar dengan lancar dari mulut.
Langkah ini efektif mencegah cairan masuk ke paru-paru yang bisa berakibat fatal.
Jangan pernah mencoba menahan atau melawan gerakan kejang anak secara paksa. Menahan tubuh anak dengan kuat tidak akan menghentikan kejang, melainkan berisiko menyebabkan cedera otot atau bahkan patah tulang pada balita. Biarkan kejang berlangsung sambil Anda mengawasi dan menghitung durasinya menggunakan jam atau ponsel.
Selama kejang berlangsung, hindari memberikan obat-obatan penurun panas oral melalui mulut. Obat cair atau tablet hanya boleh diberikan ketika anak sudah benar-benar sadar penuh dan reflex menelannya telah kembali normal. Sebagai gantinya, Anda bisa memberikan kompres hangat di area lipatan ketiak atau selangkangan untuk membantu menurunkan suhu tubuh secara bertahap.
Kapan Harus Segera Membawa Anak ke Rumah Sakit?
Sebagian besar kasus kejang demam bersifat sederhana dan akan berhenti dengan sendirinya dalam waktu kurang dari 5 menit. Setelah kejang berhenti, anak biasanya akan tampak lemas, mengantuk, atau tertidur selama beberapa waktu. Meskipun kejang telah berhenti, pemeriksaan oleh tenaga medis profesional tetap direkomendasikan untuk mencari penyebab utama demamnya.
Namun, ada beberapa tanda bahaya yang mengharuskan orang tua segera membawa anak ke instalasi gawat darurat terdekat.
Pemantauan durasi dan karakteristik kejang menjadi modal informasi penting bagi dokter.
Orang tua wajib mengenali perbedaan klasifikasi kejang untuk menentukan tingkat urgensi tindakan.
| Kondisi Kejang | Durasi Kejadian | Tindakan yang Harus Diambil |
|---|---|---|
| Kejang Demam Sederhana | Kurang dari 15 menit | Kompres hangat dan bawa ke dokter terdekat |
| Kejang Demam Kompleks | Lebih dari 15 menit | Segera bawa ke Instalasi Gawat Darurat |
| Kejang Berulang | Dua kali dalam 24 jam | Evakuasi medis darurat tanpa menunda |
| Kejang Disertai Muntah | Tidak menentu | Pemeriksaan klinis segera di rumah sakit |
Jika kejang berlangsung terus-menerus selama lebih dari 5 menit tanpa ada tanda-tanda mereda, ini adalah kondisi darurat medis. Begitu pula jika kejang terjadi berulang dalam satu hari, di mana anak belum sadar di antara dua episode kejang tersebut. Perhatikan juga bagian tubuh yang kejang; jika kejang hanya terjadi pada satu sisi tubuh saja, hal itu menandakan kondisi yang memerlukan perhatian khusus.
Waspadai juga gejala penyerta lain seperti kaku kuduk, muntah menyembur, atau anak yang tetap rewel dan enggan sadar meski suhu tubuhnya sudah turun. Konsultasikan dengan profesional medis sebelum mengambil tindakan medis lebih lanjut atau memberikan obat-obatan berbasis resep di rumah.
Langkah Pencegahan untuk Meminimalkan Risiko Kejang Demam
Tindakan terbaik untuk mencegah terjadinya anak kejang demam saat tidur adalah dengan mengontrol suhu tubuhnya sejak awal demam muncul. Sediakan selalu termometer fungsional di rumah agar Anda dapat mengukur suhu tubuh anak secara akurat, bukan hanya menggunakan rabaan tangan. Ketika suhu tubuh anak mulai meningkat, segera berikan hidrasi yang cukup berupa air putih, ASI, atau susu formula.
Gunakan pakaian yang tipis dan longgar pada anak agar panas tubuhnya dapat menguap dengan mudah.
Hindari menyelimuti anak dengan kain tebal atau pakaian berlapis-lapis karena justru akan memerangkap panas di dalam tubuh.
Pemberian obat penurun panas generik seperti parasetamol dapat diberikan sesuai dengan instruksi dosis yang tertera pada kemasan atau anjuran dokter.
Pahami bahwa obat penurun panas berfungsi untuk membuat anak merasa lebih nyaman, bukan jaminan mutlak bahwa kejang tidak akan terjadi. Jika anak Anda memiliki riwayat kejang demam yang sering berulang, dokter spesifik biasanya akan memberikan obat antikejang khusus yang harus disimpan di rumah dan disuntikkan melalui dubur saat kejang terjadi kembali. Pastikan Anda telah mendapatkan demonstrasi cara penggunaan obat tersebut secara langsung dari petugas medis yang berwenang.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow