Asap Karhutla Kalimantan Mengganggu Sekolah dan Mengancam Kesehatan Anak

Smallest Font
Largest Font
Table of Contents
[ Show ]

Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan berdampak langsung pada aktivitas harian serta kesehatan anak-anak. Seperti dilansir dari Detikcom, paparan kabut asap memicu penyesuaian jam belajar hingga ancaman racun bagi kesehatan fisik anak.

Pemerintah daerah mengambil langkah penyelamatan dengan mengundur jam masuk sekolah per Kamis, 20 Agustus 2026. Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru menetapkan kegiatan belajar dimulai pukul 09.00 Wita, sementara daerah dengan asap pekat menyesuaikan secara situasional.

Kondisi serupa dialami wilayah Palangka Raya akibat kabut asap menutupi akses jalanan. Di Kotawaringin Barat, status tanggap darurat karhutla telah diberlakukan setelah luas area kebakaran menembus angka 859,49 hektare.

Lembaga UNICEF mencatat bahaya utama dari karhutla berupa pelepasan campuran polutan beracun. Asap membawa partikel halus PM2.5, karbon monoksida, nitrogen oksida, logam berat, dan senyawa organik volatil hingga ratusan kilometer.

Paparan partikel racun tersebut dapat memicu peradangan hebat pada organ paru-paru anak yang sedang tumbuh. UNICEF menyebutkan bahwa paparan asap kebakaran lahan secara global telah menyebabkan kematian pada hampir 270.000 anak balita.

"Setiap peningkatan 1 μg/m³ PM2.5 yang terkait dengan kebakaran meningkatkan risiko kematian anak sebesar 2,3%," tulis UNICEF.

Ancaman kabut asap juga mengganggu perkembangan organ otak dan tingkat kecerdasan anak. Dokter Spesialis Pulmonologi Universitas Gadjah Mada (UGM), dr Sumardi, Sp PD-KP, menegaskan dampak buruk tersebut bisa terjadi sejak masa kandungan.

Ibu hamil yang terpapar kabut asap rentan mengalami kondisi hipoksia atau penurunan pasokan oksigen. "Perkembangan otak maupun organnya terganggu dan kebanyakan terlahir dengan berat badan lahir rendah," kata dr Sumardi, dikutip dari laman UGM.

Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA US) menambahkan bahwa gangguan kesehatan sistem pernapasan menjadi ancaman nyata ketika anak-anak menghirup udara yang tercemar asap kebakaran.

Langkah Proteksi Anak dari Paparan Asap

Membatasi aktivitas di luar rumah menjadi langkah paling krusial saat asap memburuk. Penggunaan masker biasa tidak sepenuhnya efektif karena mayoritas ukurannya tidak dirancang sesuai anatomi wajah anak-anak.

Kondisi udara di dalam rumah perlu dijaga dengan menutup rapat seluruh jendela. Orang tua bisa memanfaatkan alat pendingin udara (AC), pompa panas, atau kipas angin untuk meminimalkan sirkulasi polutan.

Anak-anak dianjurkan untuk terus mengonsumsi air putih guna menjaga hidrasi tubuh. Selain itu, jauhkan area bermain dari paparan debu serta ruangan dapur yang aktif menghasilkan asap kompor.

Apabila anak menunjukkan gejala gangguan pernapasan, penanganan medis dari dokter atau fasilitas kesehatan harus segera dilakukan. Edukasi terkait pelestarian lingkungan seperti menanam pohon dan memilah sampah juga penting diajarkan sejak dini.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow