Siasat Licik di Balik Isi Perjanjian Bongaya 1667 yang Meruntuhkan Gowa

Smallest Font
Largest Font

Isi Perjanjian Bongaya 1667 merupakan lembaran hitam yang menandai runtuhnya dominasi maritim Kesultanan Gowa di Nusantara bagian timur. Kesepakatan yang dalam bahasa lokal disebut sebagai cappaya ri bungaya ini mengakhiri konfrontasi fisik yang melelahkan antara pasukan Makassar melawan kongsi dagang Hindia Belanda atau VOC. Melalui pemahaman yang mendalam terhadap dokumen ini, kita dapat memetakan bagaimana taktik pecah belah kolonial berhasil melumpuhkan kekuatan lokal yang tangguh.

Dari pengalaman saya membedah teks-teks sejarah kolonial, banyak orang keliru menganggap perjanjian ini sebagai kesepakatan damai yang setara. Faktanya, dokumen yang ditandatangani pada November 1667 ini merupakan bentuk kapitulasi paksa yang melucuti kedaulatan ekonomi dan politik Kerajaan Gowa secara sistematis. Memahami setiap klausul di dalamnya akan membuka mata kita mengenai betapa agresifnya monopoli perdagangan pada abad ke-17.

Sebelum sampai pada pembacaan klausul, penting untuk memahami rangkaian peristiwa militer yang memaksa terjadinya kesepakatan ini. Sejarah perang makassar tidak terjadi dalam semalam, melainkan akumulasi dari ketegangan perdagangan selama puluhan tahun di perairan Sulawesi. VOC yang berbasis di Batavia merasa hak monopoli rempah-rempah mereka terganggu oleh kebijakan perdagangan bebas yang diterapkan oleh Kesultanan Gowa.

Agresi Militer VOC Tahun 1660

Ketegangan memuncak ketika VOC melancarkan serangan besar-besaran ke Kerajaan Gowa pada tahun 1660. Serangan ini sangat memukul kekuatan armada Makassar dan memaksa Sultan Hasanuddin untuk menandatangani sebuah perjanjian damai pertama yang awal mulanya diharapkan bisa meredakan konflik. Namun, kedamaian ini nyatanya hanya menjadi jeda sesaat sebelum pertempuran yang lebih masif pecah kembali.

Pemberontakan Bone dan Aliansi Arung Palakka

Pada tahun yang sama, terjadi golombang perlawanan internal di wilayah kekuasaan Gowa. Terjadi pemberontakan 10.000 orang Bugis dari Bone yang dipimpin oleh Arung Palakka. Meski pemberontakan besar ini awalnya gagal, Arung Palakka berhasil meloloskan diri dan kemudian menjalin aliansi strategis yang mematikan dengan VOC untuk membalas dendam terhadap Gowa.

Serangan Pamungkas Desember 1666

Puncak dari konfrontasi militer ini terjadi ketika VOC mengerahkan armada tempur utama mereka ke jantung pertahanan Makassar. Tepat pada 15 Desember 1666, VOC menyerang Makassar dengan kekuatan 21 kapal perang yang mengangkut sekitar 600 pasukan terlatih. Kombinasi taktik meriam laut VOC dan pasukan darat sekutu Bugis perlahan-lahan meremukkan benteng-benteng pertahanan Gowa.

Cerita Singkat Sejarah Berakhirnya Perang Makassar Tahun 1667 dan Apa Isi Perjanjian Bongaya | Ono Mohw

Membedah Isi Perjanjian Bongaya 1667

Kekalahan militer yang bertubi-tubi serta kepungan ketat dari segala penjuru akhirnya melahirkan pertanyaan besar di benak publik saat ini mengenai "mengapa sultan hasanuddin menandatangani perjanjian bongaya?" Jawaban praktisnya adalah demi menyelamatkan rakyat Makassar dari pertumpahan darah yang jauh lebih masif setelah benteng pertahanan utama mereka mulai runtuh.

Dalam dokumen resmi cappaya ri bungaya tersebut, terdapat puluhan poin yang intinya memangkas habis seluruh kekuatan Kerajaan Gowa. Berikut adalah poin-poin inti yang paling krusial untuk dipelajari:

  1. Makassar harus mengakui monopoli perdagangan VOC di seluruh wilayah kekuasaannya.
  2. Semua orang Eropa selain Belanda harus diusir dari wilayah Kesultanan Gowa tanpa terkecuali.
  3. Kerajaan Gowa wajib membayar ganti rugi perang kepada VOC akibat konflik yang terjadi.
  4. Benteng-benteng pertahanan Makassar harus dihancurkan, kecuali Benteng Rotterdam yang diserahkan kepada VOC.
  5. Gowa harus melepaskan pengaruh dan kedaulatannya atas wilayah Bone serta wilayah luar lainnya.
Sultan Hasanuddin berada pada posisi dilematis yang sangat berat, di mana penandatanganan dokumen ini adalah satu-satunya opsi logis untuk mencegah pemusnahan total peradaban Makassar dari peta sejarah saat itu.

Dampak Perjanjian Bongaya Bagi Kerajaan Gowa

Penerapan klausul klausul tersebut membawa konsekuensi yang luar biasa destruktif bagi struktur internal kerajaan. Dampak perjanjian bongaya bagi kerajaan gowa secara langsung mengubah konstelasi politik di kawasan Indonesia bagian timur secara permanen. Pengaruh buruk ini langsung terasa dalam berbagai lini kehidupan masyarakat.

Kesalahan umum yang saya lihat dalam buku-buku pelajaran sekolah adalah hanya berfokus pada aspek ekonominya saja. Padahal, kehancuran yang dibawa oleh kesepakatan ini jauh merasuk ke dalam sendi-sendi sosial dan kedaulatan negara. Konsekuensi tersebut meliputi:

  • Runtuhnya Monopoli Perdagangan Lokal: Pelabuhan Somba Opu yang awalnya merupakan bandar perdagangan internasional yang bebas langsung sepi karena pedagang asing dilarang masuk.
  • Kehilangan Wilayah Bawahan: Daerah-daerah strategis penghasil komoditas dipaksa lepas dari administrasi Gowa.
  • Pemicu Migrasi Massal: Ribuan pelaut dan prajurit Makassar yang menolak tunduk pada Belanda memilih keluar dari Sulawesi dan menyebar ke Jawa, Sumatra, hingga Semenanjung Malaya untuk melanjutkan perlawanan.

Analisis Data Sejarah Perang Makassar

Untuk memudahkan pemahaman kronologis, mari kita lihat komparasi data penting yang terjadi selama kurun waktu pergolakan di Sulawesi Selatan berikut ini. Data ini memberikan gambaran konkret mengenai garis waktu konflik.

Garis Waktu dan Parameter Penting Perang Makassar
Tahun KejadianPeristiwa Militer / PolitikAktor Utama yang Terlibat
1653–1669Masa pemerintahan Sultan Hasanuddin di Kesultanan GowaSultan Hasanuddin
1660Serangan pertama VOC dan pemberontakan massal BoneVOC, Arung Palakka
1666Serangan pamungkas 21 kapal perang ke MakassarLaksamana Cornelis Speelman
1667Penandatanganan Perjanjian BongayaGowa dan VOC Belanda

Melihat angka-angka tahun tersebut, jelas sekali bahwa masa pemerintahan Sultan Hasanuddin yang berlangsung antara tahun 1653–1669 Masehi hampir seluruhnya dihabiskan untuk mempertahankan kedaulatan tanah airnya dari cengkeraman kolonial. Perjanjian Bongaya pada akhirnya bukan sekadar akhir dari sebuah perang besar, melainkan titik awal dari dominasi total kompeni Belanda di Nusantara sebelum memasuki era kolonialisme modern yang penuh penindasan.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed