Sering Salah di Ujian Sejarah, Ini Jawaban Tepat Poin yang Bukan Isi Perjanjian Bongaya

Smallest Font
Largest Font

Menjawab pertanyaan tentang "berikut ini yang tidak termasuk isi perjanjian bongaya adalah" sering kali menjebak dalam ujian sejarah maupun diskusi akademis jika kita tidak memahami detail pasalnya secara mendalam. Perjanjian Bongaya merupakan salah satu dokumen kesepakatan paling krusial yang mengubah total peta politik dan jalur perdagangan maritim di Nusantara, khususnya di wilayah Sulawesi Selatan.

Dari pengalaman saya mengamati materi ujian sejarah, kesalahan umum yang sering saya temui adalah siswa atau pembaca tertukar antara hak-hak yang didapatkan oleh VOC dengan hak milik Kesultanan Gowa. Banyak yang mengira Makassar tetap bebas berdagang dengan bangsa Eropa lain, padahal regulasi kolonial setelah perang justru menutup pintu tersebut rapat-rapat.

Untuk menguasai materi ini dengan matang, kita perlu membedakan secara tegas mana poin asli yang disepakati dan mana opsi pengecoh yang sering muncul di lembar soal. Memahami perbedaan ini tidak hanya membantu menjawab soal dengan benar, tetapi juga memberikan perspektif logis mengenai peta kolonialisme abad ke-17.

Memahami isi kesepakatan tidak akan lengkap tanpa membedah akar konfliknya terlebih dahulu. Pada abad ke-17, Kerajaan Gowa-Tallo telah tumbuh menjadi salah satu kekuatan maritim terbesar di Nusantara yang menguasai jalur perdagangan penting.

Situs Resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan bahwa Kerajaan Gowa menjadi sentral kegiatan ekonomi bagi pedagang maritim dalam negeri maupun luar negeri karena letaknya yang strategis dan kekayaan sumber daya alamnya. Kondisi inilah yang memicu kecemburuan dan ambisi monopoli dari pihak kompeni Belanda.

Menurut Bagenda Ali, penulis buku "Awal Mula Muslim di Bali", latar belakang terjadinya Perjanjian Bongaya adalah adanya perang besar-besaran antara Kerajaan Gowa dan VOC. Konflik bersenjata yang dikenal sebagai Perang Makassar ini berlangsung sengit selama bertahun-tahun.

Pada tahun 1666, VOC mengirimkan pasukan besar di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman untuk menyerang Gowa. Ketegangan memuncak sepanjang periode tahun 1666–1669, yang menandai berlangsungnya Perang Makassar antara VOC beserta para sekutunya melawan armada tangguh Kerajaan Gowa.

Karena tekanan militer yang sangat besar dan strategi pengepungan yang agresif, Kesultanan Gowa akhirnya terdesak. Kondisi kritis inilah yang menjadi alasan utama kenapa sultan hasanuddin menandatangani perjanjian bongaya pada tanggal 18 November 1667 di Desa Bongaya, Sulawesi Selatan.

Poin Asli yang Menjadi Isi Perjanjian Bongaya

Dalam naskah aslinya, kesepakatan ini sebenarnya memuat klausul yang sangat banyak dan mendetail demi memangkas kekuatan maritim Makassar. Berdasarkan catatan sejarah, terdapat 24 Pasal yang mengatur hubungan baru antara Gowa dan kompeni menurut salah satu dokumen riset ilmiah, sementara sumber lain merangkumnya menjadi 29 Poin isi Perjanjian Bongaya yang krusial.

Secara umum, klausul-klausul tersebut dibuat untuk mematikan urat nadi perekonomian Makassar sekaligus memperkuat dominasi politik VOC. Berikut adalah beberapa poin utama yang secara sah tercantum dalam perjanjian tersebut:

  • VOC mendapatkan hak monopoli perdagangan kain dan rempah-rempah di wilayah Makassar.
  • Seluruh pedagang asing selain VOC, seperti orang Portugis, Inggris, dan Prancis, harus diusir dari wilayah Gowa.
  • Kerajaan Gowa wajib menghancurkan benteng-benteng pertahanan mereka, kecuali Benteng Somba Opu yang boleh dipertahankan.
  • Makassar harus mengakui kedaulatan dan kemerdekaan Kesultanan Bone dari kekuasaan Gowa.
  • Sultan Hasanuddin dan rakyatnya wajib membayar ganti rugi perang kepada pihak kompeni.
Cerita Singkat Sejarah Berakhirnya Perang Makassar Tahun 1667 dan Apa Isi Perjanjian Bongaya | Mappangara Berbagi

Berikut Ini yang Tidak Termasuk Isi Perjanjian Bongaya

Setelah memahami poin-poin yang sah di atas, sekarang kita bisa melihat apa saja hal yang sering dijadikan pengecoh dalam soal karena sebenarnya sama sekali tidak termasuk dalam isi kesepakatan tersebut. Poin pengecoh ini biasanya menggambarkan situasi yang menguntungkan Makassar atau situasi yang tidak logis secara garis waktu sejarah.

1. Kebebasan Makassar Melakukan Perdagangan Internasional

Ini adalah opsi pengecoh yang paling sering muncul di lembar ujian. Mengapa perjanjian bongaya merugikan kerajaan gowa? Jawabannya karena hak dagang internasional mereka dicabut total melalui monopoli kompeni.

Jika ada pernyataan yang menyebutkan bahwa Makassar diberikan kebebasan penuh untuk berdagang dengan pedagang Inggris atau Portugis setelah tahun 1667, maka pernyataan tersebut dipastikan salah dan merupakan jawaban untuk kategori yang tidak termasuk isi perjanjian.

Faktanya, VOC justru memaksa pengusiran seluruh bangsa Eropa lain dari tanah Makassar agar tidak ada kompetitor perdagangan di wilayah tersebut.

2. Penyerahan Seluruh Wilayah Kekuasaan Gowa Kepada Belanda

Meskipun Gowa kalah dalam Perang Makassar, isi kesepakatan tidak menyatakan bahwa seluruh wilayah administrasi Kerajaan Gowa dilebur atau dianeksasi menjadi tanah jajahan langsung VOC saat itu juga. Kerajaan Gowa tetap berdiri sebagai entitas politik yang mandiri, namun ruang gerak pertahanan dan ekonominya dipangkas habis-habisan.

Belanda membebaskan wilayah-wilayah bawahan Gowa, seperti Bone, untuk berdiri sendiri di bawah kepemimpinan Aru Palakka, yang menjadi sekutu kompeni. Jadi, klausul yang menyebut Gowa dibubarkan total adalah keliru.

3. Pembebasan Pajak untuk Pedagang Lokal Makassar

Pengecoh berikutnya adalah narasi mengenai insentif atau pembebasan pajak bagi masyarakat setempat. Klausul asli justru sangat menindas rakyat Gowa melalui beban denda yang sangat tinggi.

Dalam dokumen perjanjian, Gowa justru dibebani kewajiban finansial yang luar biasa berat sebagai kompensasi atas kerugian yang dialami kompeni selama pertempuran abadi tersebut.

Rincian Angka dan Parameter Historis Perjanjian Bongaya

Untuk mempermudah proses belajar dan memberikan gambaran data terstruktur yang valid mengenai peristiwa bersejarah ini, kita bisa melihat rangkuman parameter pentingnya melalui data resmi berikut.

Parameter Historis dan Ketentuan Perjanjian Bongaya 1667
Parameter SejarahDetail Ketentuan Resmi
Tanggal Penandatanganan18 November 1667
Lokasi KesepakatanDesa Bongaya, Sulawesi Selatan
Masa Jabatan Sultan HasanuddinTahun 1653 hingga 1669 Masehi
Komandan Pasukan VOCLaksamana Cornelis Speelman
Denda Ganti Rugi Perang250 Ribu Ringgit
Jumlah Pasal (Versi Riset)24 Pasal

Data di atas memperlihatkan betapa spesifiknya aturan keuangan yang dijatuhkan. Jumlah uang ganti rugi perang senilai 250 Ribu Ringgit merupakan angka yang sangat fantastis pada abad ke-17, yang sengaja dirancang untuk menguras kas kerajaan agar tidak mampu membangun armada militer baru.

Dampak Nyata yang Menghancurkan Kedaulatan Gowa

Mengetahui apa dampak perjanjian bongaya bagi kerajaan gowa secara jangka panjang akan membantu kita mengunci pemahaman materi ini tanpa perlu menghafal secara buta. Dampak yang paling terasa adalah runtuhnya supremasi maritim yang sudah dibangun selama ratusan tahun.

Kesultanan Gowa yang semula merdeka dan berdaulat penuh atas jalur laut perdagangan timur Nusantara, terpaksa tunduk pada sistem pengawasan ketat VOC. Kehilangan sekutu dan wilayah kekuasaan seperti Bone membuat posisi politik Sultan Hasanuddin semakin terisolasi di tanah mereka sendiri.

Selain itu, pembongkaran sebagian besar benteng pertahanan utama membuat kota Makassar menjadi sangat rentan terhadap intervensi militer asing di kemudian hari. Inilah alasan mengapa kesepakatan di Desa Bongaya ini kerap disebut sebagai instrumen politik pemecah belah dan pelumpuh kekuatan lokal paling efektif yang pernah diterapkan oleh kompeni di wilayah timur Indonesia.

Dengan mengenali tokoh yang terlibat dalam perjanjian bongaya serta memahami isi pasal aslinya secara logis, Anda tidak akan lagi terkecoh saat menghadapi pertanyaan mengenai poin apa saja yang tidak termaktub dalam dokumen bersejarah tersebut. Kunci utamanya adalah mengingat bahwa segala poin yang memberikan keuntungan, kebebasan dagang internasional, atau pelonggaran militer bagi Gowa pastilah bukan bagian dari isi Perjanjian Bongaya.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed