Kemendikdasmen Luncurkan Sekolah Nasional Terintegrasi SMP dan SMA

Smallest Font
Largest Font

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi meluncurkan program Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) untuk menyatukan jenjang SMP dan SMA dalam satu ekosistem pendidikan, dilansir dari Detikcom pada Senin (20/7/2027). Kebijakan ini diterapkan sebagai salah satu upaya strategis pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.

Mendikdasmen Abdul Mu'ti menegaskan bahwa SNT dipersiapkan untuk berjalan beriringan dengan berbagai program pendidikan lainnya demi melengkapi kebutuhan ekosistem pendidikan nasional. Program tersebut diselaraskan dengan inisiatif kementerian lain untuk memperluas akses sekolah berkualitas.

"SNT berjalan beriringan dengan revitalisasi satuan pendidikan, digitalisasi pembelajaran, peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru, Sekolah Rakyat, SMA Unggul Garuda, serta berbagai kebijakan pendidikan yang lainnya," tutur Abdul Mu'ti, Mendikdasmen.

Abdul Mu'ti menambahkan bahwa SNT berfokus pada penjaringan murid berprestasi akademik maupun nonakademik di tingkat lokal tempat sekolah itu berdiri tanpa fasilitas asrama. Hal ini membedakannya dengan SMA Unggul Garuda yang berskala nasional dan Sekolah Rakyat yang menyasar keluarga miskin ekstrem.

"Jika SMA Unggul Garuda hanya untuk tingkat SMA dan berasrama, SNT meliputi tingkat SMP dan SMA dan tidak berasrama. Selain itu, calon murid baru SNT diperuntukkan bagi calon murid yang berasal dari lokasi tempat SNT berdiri. Misal, SNT di Kabupaten Kupang akan menerima calon murid dari Kabupaten Kupang," jelas Abdul Mu'ti, Mendikdasmen.

Pemerintah menargetkan pembangunan 500 SNT di setiap kabupaten atau kota serta 500 Sekolah Rakyat di kantong kemiskinan hingga 2029. Sementara itu, SMA Unggul Garuda ditargetkan membangun 20 sekolah baru dan 80 sekolah transformasi.

"Masing-masing program menjawab kebutuhan dan kelompok sasaran yang berbeda, tetapi semuanya bergerak menuju tujuan yang sama, yaitu pendidikan bermutu untuk semua," imbuh Abdul Mu'ti, Mendikdasmen.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, Non Formal dan Informal (Dirjen PAUD Dikdas PNFI) Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto menjelaskan bahwa SNT akan dipimpin oleh seorang direktur dalam sistem terpusat. Struktur manajemen ini berbeda dengan sekolah reguler yang dipimpin oleh kepala sekolah berbeda dan dimonitor oleh pemerintah daerah masing-masing.

Gogot Suharwoto juga memaparkan bahwa kurikulum SNT menggunakan kurikulum nasional yang diperkaya dengan kompetensi global, kesenian, olahraga, serta metode STEM (science, technology, engineering, dan mathematics). Sekolah reguler biasa di sisi lain hanya menerapkan kurikulum nasional tanpa tambahan kompetensi tersebut.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow