Kementerian PPPA Ingatkan Bahaya Perundungan Saat Hari Pertama MPLS

Smallest Font
Largest Font

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengingatkan bahaya perundungan dan kekerasan pada hari pertama masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) di berbagai daerah pada Senin (13/7/2026).

Peringatan tersebut disampaikan seiring tingginya angka kekerasan terhadap anak di Indonesia, sebagaimana dilansir dari Detikcom melalui data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA).

Berdasarkan data resmi sepanjang tahun 2025, tercatat ada 21.352 kasus kekerasan yang menimpa anak-anak, baik yang terjadi di lingkungan rumah tangga maupun di satuan pendidikan.

"Disebutkan juga dari hasil Simfoni, 71 persen kekerasan itu terjadi di lingkungan yang seharusnya paling aman untuk anak-anak kita," ucap Menteri PPPA Arifah Fauzi pada Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (Gernas RANA) di Malang, Jawa Timur.

Arifah menegaskan bahwa perilaku perundungan berdampak buruk, baik terhadap masa depan anak yang menjadi korban maupun bagi keberlangsungan negara.

"Dan kalau kita boleh sampaikan dampak kekerasan baik dalam bentuk fisik kemudian perundungan maupun ancaman di dunia digital ini sangat berdampak terhadap masa depan anak-anak kita," sambung Arifah Fauzi.

Dampak buruk ini juga berkaitan langsung dengan kondisi kesehatan mental anak, di mana 62,19 persen anak yang mengalami masalah kesehatan jiwa tercatat pernah mengalami tindak kekerasan dalam 12 bulan terakhir.

"Jadi anak-anakku, kalau pernah mengalami atau melakukan bullying, Bunda berharap mulai saat ini saling jaga teman, saling menghormati, tidak ada lagi bullying dan lain sebagainya di manapun anak-anakku berada," ucap Arifah Fauzi kepada para siswa.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti turut menyoroti perundungan di ranah digital yang dinilai masih memprihatinkan berdasarkan survei Digital Civility Index (DCI) Microsoft 2020.

"Digital Civility Index kita masih rendah. Karena itu melalui MPLS ramah dan juga melalui gerakan RANA ini kami ingin tidak hanya mengajak anak-anak kita, mendidik anak-anak, kita supaya menguasai teknologi digital tetapi juga memiliki keadaban digital atau kesalahan digital. Selain mereka memiliki digital competence penting kita tanamkan kepada anak-anak kita untuk memiliki digital civility," ucap Mendikdasmen Abdul Mu'ti.

Laporan bertajuk Civility, Safety, and Interactions Online - 2020 dari laman Microsoft menunjukkan Indonesia menempati peringkat ke-29 dari 32 wilayah dengan skor 76.

Skor tersebut menempatkan warganet Indonesia sebagai pengguna internet dengan tingkat kesopanan digital terendah di Asia Tenggara akibat tingginya paparan risiko negatif seperti hoaks, penipuan, ujaran kebencian, diskriminasi, dan perundungan siber.

Survei global Microsoft ini melibatkan 16.000 responden dewasa serta remaja di 32 negara, termasuk sembilan wilayah Asia Pasifik seperti Australia, India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Taiwan, Thailand, dan Vietnam pada April hingga Mei 2020.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed