Lulusan Humaniora Dinilai Lebih Adaptif Hadapi Persaingan Kerja
Lulusan ilmu humaniora dinilai memiliki fleksibilitas dan daya adaptasi yang lebih tinggi dalam menghadapi persaingan dunia kerja yang semakin ketat. Hal tersebut disampaikan oleh Guru Besar Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Manneke Budiman, Selasa (11/8/2026), dilansir dari Detikcom.
Manneke menjelaskan bahwa keahlian dari disiplin ilmu seperti akuntansi atau hukum cenderung sangat spesifik pada bidang kerja tertentu. Sebaliknya, alumni dari jurusan sastra, sejarah, maupun filsafat memiliki ruang gerak karier yang jauh lebih luas.
"Kalau kita lihat misalnya akuntansi itu, hukum itu, sangat spesifik. Jadi keahliannya itu spesifik, bidang kerjanya spesifik. Kalau humaniora, orang seperti orang lulusan sastra, sejarah, filsafat itu mau masuk ke bidang apa saja punya fleksibilitas yang sangat tinggi," tutur Manneke Budiman, Guru Besar FIB UI.
Menurutnya, masyarakat sering kali menganggap jurusan tertentu seperti manajemen dan hukum memberikan jaminan kepastian finansial, padahal kenyataan di lapangan tidak selalu demikian.
"Orang masyarakat itu masih mengira kalau orang belajar manajemen, ilmu hukum, itu udah jaminan kaya. Kalau belajar hukum jaminan kaya, karena bayangin jadi lawyer yang perjamnya berapa ratus dolar. Nyatanya tidak," ungkap Manneke.
Ia menambahkan bahwa mahasiswa filsafat, misalnya, dilatih untuk membedah berbagai persoalan sosial yang rumit sejak masa perkuliahan. Pembekalan tersebut mencakup topik lingkungan hidup, hak asasi manusia, hingga isu ketidakadilan gender.
"Jadi kalau orang ini kemudian dilepas ke masyarakat sebagai lulusan, dia sudah terlatih untuk mikir di dalam suatu situasi yang kompleks, situasi sosial ekonomi budaya yang kompleks," ujar Manneke.
Kondisi ini berbeda dengan lulusan dari bidang keilmuan yang kaku. Perusahaan umumnya menghadapi keterbatasan saat hendak memindahkan pekerja berpikiran spesifik ke divisi lain secara mendadak.
"Tapi kalau dibandingkan dengan orang misalnya akuntansi, ya cuma itu saja. Perusahaan itu tidak punya fleksibilitas untuk bisa mindah orang ini ke divisi apapun dengan seenaknya. Tapi kalau dia orang humaniora, dia mungkin nggak ngerti hal yang di divisi baru, tapi dia bisa dengan cepat itu beradaptasi," imbuh Manneke.
Ketua Departemen Ilmu Susastra FIB UI tersebut menegaskan bahwa penguasaan kemampuan berpikir kritis dan kreatif menjadi modal utama lulusan humaniora dalam menembus berbagai sektor industri.
"Dia diajari kreatif, dia diajari untuk bertanya kenapa kok gini, kenapa kok gitu. Jadi itu kemampuan berpikir kritis. Dan itu tidak melihat jurusan. Semua basisnya ilmu humaniora itu seperti itu," ujar Manneke.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow