Mahasiswa Disabilitas Universitas Mercu Buana Raih IPK 4 dan Tembus Jurnal SINTA

Smallest Font
Largest Font

Seorang mahasiswa disabilitas Universitas Mercu Buana (UMB), Muhammad Irzam Fharhany, berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,00 dan menembus jurnal SINTA 3 di tengah perjuangannya menghadapi gangguan mental. Kisah inspiratif ini dibagikan Irzam dalam acara Ngopi Bareng Kemdiktisaintek di Senayan, Jakarta, pada Sabtu (20/6/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Irzam didiagnosis mengalami gangguan kecemasan dan depresi mayor saat menempuh perkuliahan di semester lima. Kondisi tersebut sempat membuatnya memilih untuk menghilang dan tidak masuk kampus, sebelum akhirnya mendapatkan bantuan profesional.

"Di semester lima itu benar-benar kayak hilang aja gitu," cerita Irzam.

Pengalaman merasa kehilangan dirinya tersebut diakui Irzam bukan pertama kali terjadi. Kejadian serupa pernah ia rasakan ketika berada di kelas terakhir jenjang SMA, namun saat itu ia belum memeriksakan kondisinya ke profesional.

"Dan akhirnya karena mungkin ini udah kayak susah banget gitu, udah kayak bener-bener butuh bantuan gitu kan, akhirnya di semester lima saya sempat menghilang," sambung Irzam.

Pihak UMB tetap berupaya membangun komunikasi dengan keluarga Irzam untuk mencari solusi terbaik selama masa sulit tersebut. Dukungan penuh dari pihak kampus dan fakultas menjadi salah satu faktor utama yang membuatnya bertahan untuk menyelesaikan studi.

"Jadi kayak sangat mendengar tentang keadaan saya gitu, jadi kayak menunggu, 'oh yaudah si Irzam masih belum ini ya, kita tunggu dulu ya'," kisah Irzam.

Setelah mengambil cuti di semester enam untuk menjalani pengobatan ke psikolog dan psikiater, Irzam kembali ke kampus pada semester tujuh. UMB menerapkan masa percobaan dengan membatasi jumlah beban kuliah bagi mahasiswa yang sempat gagal guna memastikan kesiapan mereka.

"Jadi kayak kita dikasih kesempatan untuk mengambil tiga mata kuliah dulu, untuk memastikan kalau misalnya mahasiswanya ini tuh udah bener-bener bersungguh-sungguh untuk berkuliah. Cuman nyatanya pada semester tujuh itu, saya masih tetap gagal," kenang Irzam.

Meski sempat gagal kembali pada semester tujuh karena belum sanggup hadir di kelas, Irzam bangkit pada semester delapan dengan dukungan dokter serta komunikasi yang terbuka bersama para dosen. Hasilnya, ia berhasil melompati tantangan akademis dengan capaian nilai yang sempurna.

"Karena saya lagi-lagi dicoba untuk mengambil tiga mata kuliah, dan kebetulan dari tiga mata kuliah itu saya sempat mendapatkan, dari tiga mata kuliah tersebut mendapatnya A dan IPK-nya sempat dapat 4," bangga Irzam.

Langkah akademis Irzam berlanjut ke mata kuliah seminar penelitian dengan bimbingan langsung dari Rachmita Maun Harahap, seorang dosen Desain Interior UMB yang juga merupakan disabilitas tuli. Penelitian bertema Desain Interior dilakukan Irzam di rumah sakit jiwa tempatnya biasa berobat.

Kolaborasi tersebut menghasilkan jurnal ilmiah berjudul "Interior rumah sakit jiwa dan produksi stigma spasial: Studi kasus RSJMM Bogor berbasis healing environment dan psikologi lingkungan" yang sukses menembus jurnal terakreditasi SINTA 3. Saat ini, Irzam sedang menempuh semester sebelas untuk menyelesaikan tugas akhir dengan dukungan penuh dari lingkungan jurusannya.

"Karena dosen-dosen jurusan saya tuh sangat benar-benar mendukung saya untuk, 'ayo gak apa-apa kamu kalau misalnya emang gak bisa, lanjut aja, kita kasih waktu gitu. Gak apa-apa kamu jalannya pelan daripada yang lain, tapi kamu tetap terus bertahan', gitu," jelas Irzam.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow