Mahasiswa Baru Unpad Tolak Bantuan Kos dari Dedi Mulyadi

Smallest Font
Largest Font

Seorang mahasiswa baru Universitas Padjadjaran bernama Dinara Alivi Kinesya menolak tawaran bantuan pembayaran uang kos dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat acara PKKMB di Stadion Jati Padjadjaran, Jatinangor, pada Senin (10/8/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Livi, lulusan SMA Yaspen Tugu Ibu 1 Depok yang masuk melalui jalur mandiri SMUP, menilai bantuan tersebut lebih layak diberikan kepada mahasiswa lain yang mengalami kesulitan finansial. Dalam interaksi tersebut, ia mengonfirmasi bahwa biaya kosnya sebesar Rp13 juta per tahun sudah dibayar penuh.

"(Kalau) mau dibantu juga, ini saya anak SMUP, Pak. Saya anak dari (jalur) mandiri. Maksudnya ya kalau Bapak emang mau bantuin, bantulah anak-anak yang memang perlu dibantu, Pak," ujar Livi kepada KDM, seperti dikutip dari YouTube Unpad, Kamis (13/8/2026).

Sikap tegas tersebut mendapat apresiasi dari peserta PKKMB serta puji-pujian langsung dari Dedi Mulyadi di atas panggung.

"Oh iya keren. Tapi kamu hebat. Tadinya aku mau bayarin kos kamu selama 1 tahun ke depan.

Kamu tidak bersedia, kan? Ini orang kaya yang kaya. Karena banyak orang kaya yang miskin.

Sudah banyak, tapi masih mengambil hak orang lain," puji KDM.

Atas arahan Livi, sejumlah mahasiswa baru yang membutuhkan bantuan finansial dipanggil untuk maju ke depan panggung.

"Teman-teman, di sini ada enggak yang memang anak KIP atau perlu bantuan?" ujar Livi seraya disambut oleh beberapa maba yang mengangkat tangan.

Salah satu mahasiswa yang maju adalah Keisa, mahasiswi jurusan Administrasi Pemerintahan asal Leles, Garut. Keisa menceritakan kondisi keluarganya setelah orang tuanya bercerai dan sang ibu harus bekerja sebagai pelayan restoran di luar kota.

"Aku tuh pengin ngebuktiin aja gitu ke saudara-saudaraku yang sudah zalim ke aku," kata mahasiswa jurusan administrasi pemerintah itu kepada KDM.

Keisa mengungkapkan keterbatasan finansialnya yang membuat ia hanya mampu makan sekali sehari dan membagi uang saku bulanan sebesar Rp550.000 untuk kebutuhan perkuliahan.

"Sebulan Rp 550.000, dikali 12, jadi Rp 6 juta. Aku bayar bulanan. Soalnya mamaku enggak punya uang segitu untuk setahun.

Makan sekali (sehari). Jarang makan," kata Keisa.

Ia menambahkan bahwa sisa dana yang dimilikinya saat itu sangat terbatas untuk menyambung hidup di bulan berikutnya.

"Sekarang sisa uangku Rp 81 ribu. Masih ada buat makan. (Buat bulan depan) belum tahu," imbuhnya.

Mendengar kondisi tersebut, Dedi Mulyadi memberikan bantuan berupa penanggungan biaya kos selama dua tahun serta biaya kuliah selama lima semester dengan syarat Keisa fokus belajar dan tidak berpacaran selama menerima bantuan.

"Aku bantu. Dengan satu catatan begitu kamu punya pacar langsung berhenti bantuan. Aku bantu 5 semester.

Tapi begitu kamu punya pacar, bantuan aku berhenti. Sanggup gak?" tanya KDM.

Keisa pun menyetujui persyaratan yang diajukan tersebut secara langsung di tempat.

"Iya. iya, sanggup. Sanggup," jawab Keisa.

Selain Keisa, bantuan pembayaran biaya kos dan kuliah lima semester juga diberikan kepada sejumlah mahasiswa baru lain yang mengalami kendala ekonomi, termasuk penerima dari Sukabumi, Lampung, dan Kuningan.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow