Membongkar Sejarah Nefo dan Oldefo Gagasan Soekarno yang Mengubah Arah Politik Dunia
Memahami konseptualisasi geopolitik masa lalu sering kali membingungkan, terutama saat mengkaji materi sejarah gerakan non blok kelas 12 yang membahas dinamika perang dingin. Banyak di antara kita yang kesulitan memetakan bagaimana posisi Indonesia di tengah gesekan kekuatan global pada era Demokrasi Terpimpin yang berlangsung antara tahun 1959–1965.
Presiden Soekarno memecah kebuntuan polarisasi dunia tersebut dengan memperkenalkan klasifikasi politik luar negeri yang sangat radikal pada zamannya. Melalui artikel edukasi ini, kita akan membedah secara runut taktik, definisi, serta implementasi nyata dari konsep yang digagas oleh sang Proklamator.
Langkah awal yang wajib dipahami oleh setiap praktisi sejarah atau pelajar adalah mendefinisikan kedua kekuatan geopolitik ini secara tepat agar tidak tertukar. Berdasarkan buku Sejarah: SMA kelas XII yang ditulis oleh M. Habib Mustopo, dunia pada masa itu mengalami pembagian manifesto yang sangat kentara akibat pandangan revolusioner Indonesia.
Presiden Soekarno secara tegas membagi konstelasi dunia menjadi dua kubu utama yang saling bertolak belakang. Konsep ini pertama kali dicetuskan secara internasional dalam Sidang Umum PBB pada 30 September 1960 dan dimatangkan pada Konferensi GNB September 1961.
Apa yang Dimaksud dengan Oldefo?
Kubu pertama dinamakan OLDEFO, singkatan dari Old Established Forces. Kelompok ini melambangkan negara-negara barat yang mapan dan cenderung mempertahankan tatanan dunia lama yang eksploitatif.
Dalam pandangan politik Indonesia saat itu, negara-negara yang masuk dalam kategori ini adalah kekuatan kapitalis dan imperialis. Mereka dianggap sebagai ancaman besar bagi perdamaian dunia karena terus berusaha menancapkan pengaruhnya secara ekonomi maupun politik terhadap negara-negara yang baru merdeka.
Mengenal Kekuatan Baru Melalui NEFO
Kubu kedua adalah NEFO, yang merupakan singkatan dari New Emerging Forces. Kelompok ini melambangkan kekuatan baru yang sedang muncul dan berkembang di kancah internasional.
Negara-negara yang tergabung di dalam kelompok ini meliputi negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin yang baru saja melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Selain itu, negara-negara dengan haluan sosialis yang mendukung kemerdekaan penuh serta menentang imperialisme barat juga dimasukkan ke dalam blok progresif ini.
Langkah Nyata Soekarno dalam Memetakan Perbedaan Politik Global
Dari pengalaman saya menganalisis dokumen sejarah, kesalahan umum yang sering terjadi adalah menganggap pembagian ini sama persis dengan blok barat dan blok timur. Konsep perbedaan nefo dan oldefo seokarno sebenarnya jauh lebih kompleks daripada sekadar pembagian berbasis ideologi perang dingin konvensional.
- Identifikasi Karakteristik Ekonomi: OLDEFO didominasi oleh sistem kapitalisme industri, sedangkan NEFO digerakkan oleh semangat pembangunan ekonomi mandiri yang lepas dari neokolonialisme.
- Analisis Orientasi Politik Luar Negeri: Negara-negara OLDEFO cenderung ingin mempertahankan status quo global, sementara kelompok NEFO menuntut restrukturisasi total terhadap lembaga-lembaga internasional termasuk PBB.
- Pemetaan Geografis dan Historis: Anggota kelompok tua didominasi eks-penjajah dari Eropa Barat dan Amerika Utara, sedangkan kubu baru diisi oleh negara dunia ketiga yang memiliki memori kolektif sebagai korban kolonialisme.
"Dunia saat ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu NEFO yang progresif dan OLDEFO yang merupakan ancaman nyata bagi keamanan dunia karena ingin menguasai melalui politik internasional."
Pandangan Soekarno ini sempat mendapat komparasi menarik dari pemikir global. Filsuf terkemuka Bertrand Russell juga memiliki pandangan tersendiri mengenai pembagian dunia, di mana ia memisahkan dunia hanya dalam dua blok, yaitu penganut manifesto komunis atau yang dikenal dengan declaration of independent.
Implementasi Strategis Geopolitik Indonesia Era Demokrasi Terpimpin
Dalam kasus yang sering saya temui di berbagai literatur, gagasan besar ini tidak hanya berhenti di atas kertas atau podium pidato saja. Pemerintah Indonesia melakukan langkah-langkah konkret dan radikal demi menyukseskan manifesto politik luar negeri ini di panggung internasional.
Salah satu momen krusial pembentukan poros ini terjadi pada September 1961 dalam Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non-Blok yang dilaksanakan di Belgrad, Serbia. Pertemuan penting di kota Beograd, Yugoslavia tersebut menjadi panggung utama bagi diplomasi Indonesia.
- Partisipasi Multinasional: Konferensi GNB 1961 di Belgrad tersebut dihadiri oleh 25 negara secara keseluruhan.
- Keterwakilan Asia: Sebanyak 11 negara dari kawasan Asia turut hadir membawa aspirasi regional mereka.
- Keterwakilan Afrika: Korps diplomatik dari 11 negara Afrika ikut serta memperkuat barisan penentang imperialisme.
- Keterwakilan Kawasan Lain: Blok ini semakin solid dengan kehadiran utusan dari Yugoslavia, Kuba, dan Siprus.
Melalui forum di Beograd ini, kerja sama antar-negara yang masuk dalam kategori kekuatan baru semakin diperkuat demi membendung dominasi kekuatan lama.
Dampak Nyata Rivalitas Geopolitik terhadap Kebijakan Domestik dan Global
Konfrontasi ideologis antara kekuatan lama dan kekuatan baru ini pada akhirnya memicu berbagai keputusan besar yang mengubah jalannya sejarah nasional Indonesia. Polarisasi ini berimbas pada kebijakan luar negeri yang sangat agresif serta proyek-proyek domestik skala raksasa.
Sebagai contoh, pemikiran radikal ini melahirkan latar belakang konfrontasi indonesia malaysia serta memicu momentum sejarah kenapa indonesia keluar dari pbb zaman soekarno akibat diterimanya Malaysia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Ketidakpuasan terhadap tatanan PBB yang dianggap pro-OLDEFO membuat Indonesia mengambil langkah berani keluar dari organisasi dunia tersebut.
Tidak hanya itu, penolakan kompromi terhadap komite olahraga internasional yang dianggap dikuasai barat melahirkan tujuan soekarno membuat ganefo pada tahun 1963. Pesta olahraga tandingan ini melambangkan kekuatan mandiri negara-negara berkembang.
Retno Mustikawati, seorang peneliti dari College of Liberal Arts, Shanghai University, mengupas tuntas fenomena ini dalam paper ilmiahnya. Karya ilmiah yang bertajuk "The Games of the New Emerging Forces (GANEFO) 1963: The Olympics of the Left" mengulas secara mendalam alasan serta dampak besar di balik keputusan Presiden Soekarno menyelenggarakan ajang olahraga tandingan tersebut.
| Parameter Sejarah | Detail Faktual |
|---|---|
| Waktu Pidato PBB | 30 September 1960 |
| Pelaksanaan KTT GNB Belgrad | September 1961 |
| Tahun Penyelenggaraan GANEFO | 1963 |
| Periode Demokrasi Terpimpin | 1959–1965 |
| Lokasi Rencana Ibu Kota RI | Palangkaraya |
Bila kita melihat sisa-sisa peninggalan infrastruktur dari ambisi politik mercusuar era itu, jejaknya masih berdiri kokoh hingga hari ini. Kompleks bangunan megah yang awalnya dibangun untuk menjadi Kantor Pusat NEFO di Jakarta, saat ini secara resmi digunakan sebagai Gedung DPR/DPD/MPR RI. Menariknya lagi, pada masa yang penuh gejolak geopolitik tersebut, wilayah Palangkaraya di Kalimantan Tengah sudah ditempatkan sebagai calon Ibu Kota Negara Republik Indonesia yang baru oleh Presiden Soekarno.
Penerapan konsep pembagian dunia ini menunjukkan betapa beraninya diplomasi Indonesia kala itu dalam menantang dominasi global. Melalui pemahaman sejarah nefo dan oldefo singkat ini, kita bisa melihat bahwa langkah penataan politik masa lalu selalu meninggalkan warisan fisik maupun ideologis yang memengaruhi arah bangsa hingga generasi berikutnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow