Benarkah Wajah Gubernur Jenderal Pertama VOC Ini Misterius? Menelisik Fakta di Balik Gambar Pieter Both
Mencari gambar Pieter Both yang benar-benar autentik di era modern ini ternyata memicu rasa penasaran yang besar bagi saya. Sebagai gubernur jenderal pertama VOC, visualisasi wajahnya sering kali kita temukan di buku pelajaran sekolah hingga arsip digital nasional.
Namun, dari sudut pandang seorang reviewer sejarah yang kritis, apakah deretan gambar Pieter Both yang beredar saat ini benar-benar merekam wajah aslinya semasa hidup? Ataukah tiruan visual itu sekadar rekaan seniman berabad-abad setelah ia tiada?
Mari kita bedah secara mendalam komparasi fakta visual, biografi singkat pieter both voc, hingga misteri kematian sang laksamana yang tragis di samudra luar sana.
Bagi saya, melihat gambar Pieter Both yang marak beredar di internet maupun buku teks memunculkan sebuah catatan kritis mengenai E-E-A-T (Experience, Expertise, Authoritativeness, Trustworthiness) dari sumber arsip itu sendiri. Sering kali kita hanya disajikan lukisan setengah badan dengan kerah melingkar khas Eropa abad ke-17.
Kekurangan utama dari dokumentasi era tersebut adalah keterbatasan teknologi pencatatan visual. Akibatnya, keaslian potret sang gubernur jenderal sering kali bergantung pada interpretasi ulang para seniman kompeni di masa Batavia berikutnya.
Dokumentasi resmi mengenai wajah dan sepak terjangnya justru lebih banyak tersimpan dalam bentuk literatur tekstual, bukan visual murni. Salah satu referensi kuat yang merekam jejak administrasinya dapat kita temukan pada buku Arsip-arsip Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan lembaga-lembaga pemerintahan kota Batavia (Jakarta) (2007) yang diterbitkan oleh ANRI dan Brill.
Biografi Singkat Pieter Both dan Awal Perjalanan Ekspedisinya
Lahir pada tahun 1568 di Amersfoort, wilayah yang saat itu dikenal sebagai Belanda Spanyol atau Dutch Republic, Pieter Both tumbuh di era pergolakan maritim yang sengit. Ia lahir dari pasangan Hendrick Both dan Elisabeth van der Schuer.
Karier maritimnya melesat ketika ia mulai menjabat sebagai perwira atau laksamana pada tahun 1599. Jabatan penting ini ia pegang teguh hingga berakhir pada tahun 1601.
Ekspedisi Pertama ke Banten Tahun 1599
Pada ekspedisi perdana tahun 1599, Pieter Both memimpin armada yang terdiri dari 4 kapal milik perusahaan Brabant Company (Brabantsche Compagnie). Perjalanan mengarungi samudra menuju belahan dunia lain ini penuh dengan ketidakpastian.
Dari total 4 kapal tersebut, dua kapal bernama Nederland dan Verenigde Landen berhasil mencapai pelabuhan Banten pada tanggal 6 Agustus 1600. Sayangnya, dua kapal lainnya yang bernama Nassau dan Hof van Holland kehilangan jejak di tengah laut pada 26 April 1600.
Penunjukan sebagai Gubernur Jenderal Pertama VOC
Keberhasilan menembus jalur perdagangan rempah Nusantara membuat namanya kian disegani di Belanda. Puncaknya, ia resmi ditunjuk untuk memegang kekuasaan tertinggi di wilayah koloni.
Pieter Both memegang masa jabatan Gubernur Jenderal VOC dari tanggal 19 Desember 1610 hingga 6 November 1614. Di bawah komandonya, fondasi monopoli perdagangan mulai ditancapkan dengan kuat di bumi Nusantara.
Apa Saja Tugas Pieter Both di Indonesia?
Pertanyaan mengenai "apa saja tugas pieter both di indonesia?" sering kali menjadi topik diskusi hangat di kalangan pencinta sejarah kolonial. Tugas utamanya tidaklah mudah karena ia harus membangun sistem dari nol.
Sebagai pionir, ia dibebani tanggung jawab besar oleh para petinggi VOC di Belanda untuk mengamankan jalur perdagangan dari pengaruh bangsa Eropa lainnya seperti Inggris, Spanyol, dan Portugis.
Berdasarkan buku sejarah Indonesia: Dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme (2014) terbitan Pujangga Press, terdapat beberapa tugas pokok yang diemban oleh sang gubernur jenderal selama berada di Hindia Timur, antara lain:
- Mendirikan pos perdagangan resmi VOC di wilayah strategis Nusantara.
- Mengadakan perjanjian dagang yang mengikat secara sepihak dengan penguasa lokal untuk memonopoli komoditas rempah-rempah.
- Membangun kekuatan militer dan benteng pertahanan guna menghalau armada dagang asing saingan.
- Menata sistem administrasi hukum awal bagi para pegawai kompeni yang bertugas di pos-pos terpencil.
Tugas pembentukan hukum ini juga tercatat dalam buku Buku Ajar Hukum Pidana (2021) oleh Lembaga Studi Hukum Pidana, yang memaparkan fondasi awal pemberlakuan aturan hukum barat di wilayah jajahan.
Komparasi Data Pelayaran Pieter Both Selama Bertugas
Untuk melihat rekam jejak pelayaran sang laksamana secara objektif, saya merangkum data perjalanan laut yang pernah dipimpin oleh Pieter Both berdasarkan catatan sejarah resmi berikut ini:
| Nama Ekspedisi / Peristiwa | Tahun Peristiwa | Jumlah Armada Kapal | Hasil Akhir Pelayaran |
|---|---|---|---|
| Ekspedisi Pertama (Brabant Company) | 1599 | 4 | 2 kapal tiba di Banten, 2 kapal hilang jejak |
| Ekspedisi Kedua (Gubernur Jenderal) | 1610 | 8 | Tiba di Banten setelah perjalanan 10 bulan |
| Pelayaran Pulang ke Belanda | 1615 | 4 | 2 kapal karam akibat badai di Mauritius |
Tabel di atas memperlihatkan risiko pelayaran laut abad ke-17 yang teramat tinggi. Kehilangan kapal akibat cuaca ekstrem merupakan pemandangan lazim yang harus dihadapi oleh para penjelajah samudra di masa itu.
Kematian Pieter Both di Mauritius yang Tragis
Masa tugasnya di Nusantara resmi berakhir pada medio November 1614, di mana posisinya kemudian digantikan oleh gubernur jenderal berikutnya. Setelah menyerahkan tampuk kekuasaan, Pieter Both bersiap kembali ke kampung halamannya membawa hasil bumi yang melimpah.
Rombongan pelayaran pulang ini terdiri dari 4 kapal bermuatan kaya yang bertolak meninggalkan pelabuhan Banten pada tanggal 2 Januri 1615. Pelayaran ini awalnya berjalan normal menelusuri Samudra Hindia.
Kematian Pieter Both di Mauritius menjadi salah satu tragedi maritim terbesar bagi VOC di awal masa berdirinya perkumpulan dagang tersebut.
Tepat pada tanggal 6 Maret 1615, badai besar menghantam armada mereka di sekitar perairan Mauritius. Dua kapal milik rombongan tersebut karam dan tenggelam ke dasar laut seketika.
Pieter Both ikut tenggelam dan tewas dalam bencana laut tersebut pada umur 46–47 tahun. Catatan kematian tragis ini diakui secara global dan terdaftar dalam sistem identifikasi otoritas internasional dengan nomor VIAF: 48298788 serta ISNI: 0000 0000 8226 8051.
Tragedi di Mauritius ini sekaligus mengakhiri hidup sang perwira yang telah meletakkan batu pertama dari kekuasaan kolonial yang kelak mencengkeram Nusantara selama berabad-abad. Dari seluruh fakta ini, gambar Pieter Both yang kita lihat sekarang adalah pengingat berharga akan sosok ambisius yang hidupnya harus berakhir di kedalaman samudra.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow