Tragedi Pelayaran Hongi dan Ambisi Monopoli Rempah VOC di Maluku

Smallest Font
Largest Font

Pelayaran hongi voc menyisakan luka mendalam dalam catatan sejarah kolonialisme Nusantara yang tidak akan pernah bisa dilupakan begitu saja. Sebagai seorang pemerhati sejarah, saya melihat tindakan ini sebagai salah satu bentuk monopoli dagang paling kejam yang pernah terjadi di dunia. Praktik ini bukan sekadar patroli laut biasa untuk menjaga keamanan wilayah perairan Maluku.

Di balik barisan perahu tradisional yang bergerak membelah ombak, ada ambisi besar Vereenigde Oostindische Compagnie untuk menguasai setiap butir komoditas berharga saat itu. Pertanyaan besar yang sering muncul di benak masyarakat adalah "apa itu hak ekstirpasi cengkeh" dan mengapa dampaknya begitu merusak tatanan hidup masyarakat kepulauan. Kebijakan destruktif inilah yang menjadi motor penggerak utama di balik kejamnya armada patroli milik kompeni Belanda.

Secara harfiah, istilah ini merujuk pada ekspedisi pelayaran dinas bersenjata yang diluncurkan oleh kompeni Belanda untuk mengawasi jalannya monopoli perdagangan. Fokus utamanya adalah memastikan tidak ada petani lokal yang menjual rempah-rempah kepada pedagang dari bangsa lain.

Untuk memuluskan langkah tersebut, kompeni menerapkan hak ekstirpasi secara agresif dan tanpa kompromi. Hak ini memberikan wewenang penuh kepada pemerintah kolonial untuk menebang atau memusnahkan tanaman rempah-rempah milik rakyat demi menjaga stabilitas harga di pasar Eropa.

Ekstirpasi adalah pemusnahan massal pohon cengkih dan pala agar jumlah produksinya tetap langka di pasar dunia, sehingga harga jualnya tetap melonjak tinggi.

Langkah ekstrem ini terpaksa diambil karena pasokan yang melimpah justru akan menurunkan nilai keuntungan dagang mereka secara drastis. Saya menilai tindakan ini sangat ironis karena kekayaan alam yang melimpah justru menjadi kutukan bagi penduduk asli yang merawatnya.

Asal Usul Armada dan Pemaksaan Tenaga Kerja

Dalam menjalankan ekspedisi mengerikan ini, pihak kolonial tidak menggunakan kapal perang modern mereka sebagai kekuatan utama di garis depan. Mereka justru memanfaatkan perahu tradisional setempat yang dimodifikasi menjadi sarana penindasan yang sangat efektif.

Jika menelusuri asal usul perahu kora kora maluku, kendaraan air ini awalnya merupakan perahu perang tradisional yang melambangkan kebanggaan maritim. Namun, di bawah kendali kompeni, fungsi luhur tersebut bergeser menjadi armada pemburu yang menakutkan bagi sesama warga kepulauan.

Penduduk lokal dipaksa mendayung berhari-hari tanpa upah yang layak untuk memeriksa pulau-pulau terpencil dari ujung ke ujung. Kelelahan, kelaparan, dan ancaman badai laut menjadi makanan sehari-hari bagi para pendayung paksa yang terjebak dalam sistem kejam ini.

Jejak Kuasa VOC di Tanah Rempah Nusantara | LaboratoriumVorstenlandenUNS.

Kronologi Konflik dan Perang Ambon Besar

Penerapan aturan yang mencekik leher ini tentu saja tidak berjalan mulus tanpa adanya perlawanan dari para penguasa lokal. Ketegangan demi ketegangan terus menumpuk hingga akhirnya meletus menjadi sebuah konflik terbuka yang berskala besar di wilayah kepulauan.

Pada periode 1650-an, wilayah Maluku diguncang oleh perang ambon besar ternate yang melibatkan berbagai faksi lokal melawan hegemoni kompeni. Perang ini dipicu oleh kemarahan rakyat yang sudah tidak tahan lagi melihat ruang hidup dan mata pencaharian mereka dihancurkan.

Pada Agustus 1650, situasi politik semakin memanas ketika terjadi pemberontakan besar di wilayah Ternate. Kaicili Manilha dipilih oleh dewan Fala Raha dan Bobatos menjadi Sultan tandingan untuk melawan dominasi penguasa yang tunduk pada kemauan kompeni.

Intervensi Militer dan Taktik Bumi Hangus

Melihat ancaman yang bisa meruntuhkan struktur kekuasaan mereka, pihak kolonial langsung mengambil tindakan militer yang sangat agresif. Mereka mengirimkan armada tambahan untuk menumpas segala bentuk pembangkangan yang dilakukan oleh para sultan dan rakyatnya. Pada tahun 1651, tibalah Arnold de Vlamingh van Oudshoorn, mantan gubernur Ambon, di Maluku untuk memulihkan ketertiban dengan tangan besi. Ia tidak segan-segan menggunakan kekuatan militer penuh untuk menghancurkan benteng-benteng pertahanan milik para pejuang lokal.

Situasi semakin rumit ketika pada tahun 1652, Kaicili Kalamata bergabung dengan Manilha di Jailolo dan memproklamasikan dirinya sendiri sebagai sultan. Aliansi ini sempat menyulitkan posisi kompeni sebelum akhirnya kekuatan logistik dan persenjataan modern membalikkan keadaan. Melalui tekanan militer yang bertubi-tubi, pada Januari 1653, dua sultan tandingan tersebut dipaksa menyerah kepada Sultan Mandar Syah oleh pasukan VOC. Penyerahan diri ini menandai berakhirnya fase krusial dari perlawanan terbuka rakyat terhadap kebijakan monopoli.

Siasat Politik di Balik Sejarah Monopoli Cengkih di Maluku

Keberhasilan kompeni dalam mempertahankan cengkeramannya tidak lepas dari taktik adu domba yang mereka terapkan di lingkungan istana. Mereka memanfaatkan ambisi pribadi para bangsawan untuk memecah belah kekuatan internal kesultanan yang ada di Maluku.

Salah satu figur sentral dalam narasi ini adalah Sultan Mandar Syah, yang memimpin Kesultanan Ternate sebagai Sultan ke-11. Berdasarkan catatan sejarah sultan mandar syah ternate, ia diperkirakan lahir pada sekitar tahun 1625 dalam situasi politik yang mulai bergejolak. Ayahnya, Sultan Mudafar Syah I, meninggal dunia pada tahun 1627 ketika anak-anaknya masih terlalu kecil untuk memegang takhta.

Kondisi kekosongan kekuasaan langsung ini memicu ketidakstabilan politik internal yang berkepanjangan di dalam tubuh kesultanan. Selama periode rentang tahun 1627–1648, masa pemerintahan dijalankan oleh Sultan Hamza, seorang kerabat dekat yang memimpin karena anak-anak Mudafar Syah I belum dewasa. Setelah situasi dirasa aman, barulah suksesi kepemimpinan beralih ke generasi berikutnya.

Masa Pemerintahan Sultan Mandar Syah

Sultan Mandar Syah akhirnya resmi memegang tampuk kekuasaan tertinggi selama masa pemerintahan 1648–1675 sebagai Sultan Ternate. Gaya kepemimpinannya sering kali memicu kontroversi karena dinilai terlalu dekat dan kompromistis terhadap kepentingan perdagangan kompeni Belanda.

Hubungan kerja sama yang erat ini memberikan keuntungan politik bagi posisinya, namun harus dibayar mahal dengan penderitaan rakyatnya sendiri. Puncaknya terjadi pada tahun 1667, saat meletus perang dengan Makassar yang mengubah konstelasi politik regional. Dalam konflik besar tersebut, aliansi taktis antara Ternate dan VOC berhasil memperluas wilayah Ternate secara signifikan di beberapa titik strategis. Namun, perluasan wilayah ini dibarengi dengan kewajiban untuk memperketat pengawasan jalur perdagangan rempah-rempah.

Pemerintahan penuh dinamika ini akhirnya berakhir seiring dengan dinamika zaman yang terus berjalan di bumi Maluku. Sang penguasa Ternate tersebut tercatat memimpin hingga tanggal kematian Sultan Mandar Syah pada 3 Januari 1675.

Catatan Ekspedisi dan Dampak Sosial Ekonomi

Dampak nyata dari patroli laut ini tercatat dengan sangat baik dalam berbagai jurnal perjalanan para pegawai kompeni yang ikut serta. Salah satu kesaksian yang paling otentik berasal dari catatan perjalanan seorang penjelajah legendaris Eropa. Pada tahun 1659, terjadi sebuah ekspedisi Hongi besar yang mengelilingi Pulau Seram untuk membersihkan sisa-sisa tanaman cengkih ilegal.

Ekspedisi yang sangat masif ini diikuti secara langsung oleh Wouter Schouten bersama dengan Gubernur Jacob Hustaert. Kekuatan armada yang dikerahkan dalam perjalanan pemusnahan ini benar-benar mengerikan dan menunjukkan dominasi total kolonial. Armada tersebut terdiri dari kombinasi 5 kapal besar Belanda dan didukung oleh 44 kora-kora yang mendayung di sekitarnya.

Untuk memberikan gambaran yang lebih terstruktur mengenai lini masa konflik dan peristiwa penting ini, berikut adalah tabel rangkuman sejarah yang terjadi di Maluku:

Garis Waktu Peristiwa Penting Monopoli dan Konflik Rempah di Maluku
Tahun PeristiwaKejadian dan Dampak SejarahAktor Utama yang Terlibat
1627Wafatnya Sultan Mudafar Syah I yang memicu krisis suksesiSultan Mudafar Syah I
1648Awal masa pemerintahan resmi Sultan Mandar Syah di TernateSultan Mandar Syah
1650Meletusnya pemberontakan besar dan kemunculan sultan tandinganKaicili Manilha, Fala Raha
1651Kedatangan pasukan penertib untuk menumpas perlawanan rakyatArnold de Vlamingh van Oudshoorn
1652Deklarasi sultan tandingan baru di wilayah JailoloKaicili Kalamata
1653Penyerahan diri total para pemimpin pemberontak MalukuKaicili Manilha, Kaicili Kalamata
1659Ekspedisi pemusnahan massal pohon cengkih di Pulau SeramWouter Schouten, Jacob Hustaert
1667Perang Makassar yang memperluas wilayah kekuasaan TernateAliansi Ternate dan VOC

Setelah keberhasilan armada kembali dari misi-misi yang melelahkan tersebut, pihak kolonial biasanya menggelar sebuah perayaan yang sangat megah. Ini dilakukan sebagai bentuk apresiasi sekaligus pamer kekuatan kepada masyarakat lokal yang menyaksikannya.

Tercatat pada rentang tahun 1662–1769, pelaksanaan pesta besar selama 4 hari dilakukan di Taman Kompeni (Compagniestuin) di Ambon setelah kepulangan armada Hongi. Namun, tradisi pesta pora ini akhirnya dihapuskan demi kebijakan penghematan anggaran kas kolonial yang mulai menipis.

Kekurangan Sistem Keamanan Laut Kolonial

Meskipun sistem ini terlihat sangat perkasa di atas kertas, dari analisis kritis saya, strategi pertahanan laut ini memiliki kelemahan fatal yang sangat mendasar. Biaya operasional untuk memobilisasi puluhan kora-kora dan ratusan pendayung paksa sebenarnya sangat menguras kas mereka. Ketergantungan yang terlalu tinggi pada loyalitas penguasa lokal membuat sistem pertahanan ini menjadi sangat rapuh dan mudah goyah.

Begitu terjadi pergolakan politik di dalam istana, seluruh rantai pasokan dan keamanan logistik kompeni langsung mengalami kelumpuhan total. Selain itu, tindakan kejam berupa pemusnahan tanaman justru memicu dendam kesumat yang mendalam di hati masyarakat bawah. Ini menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak kembali dalam bentuk sabotase atau perlawanan gerilya yang sulit dideteksi oleh kapal patroli.

Bagi Anda yang ingin melihat bagaimana memori kelam ini direfleksikan dalam seni kontemporer masa kini, pameran ipeh nur hotel maria kapel menjadi salah satu ruang yang sangat menarik untuk diapresiasi. Melalui karya seni, luka sejarah akibat keserakahan masa lalu divisualisasikan kembali agar generasi muda tidak melupakan akar perjuangan bangsa.

Eksploitasi tanpa batas yang dibungkus dengan dalih keteraturan hukum kolonial pada akhirnya hanya menyisakan trauma mendalam dan kemiskinan sistemik bagi rakyat Maluku. Pelayaran Hongi adalah bukti nyata bahwa keserakahan ekonomi yang tidak terkendali akan selalu mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan yang paling mendasar.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed