Benarkah Dinasti Sanjaya Beragama Hindu Selalu Berseteru dengan Syailendra
Perdebatan mengenai Dinasti Sanjaya beragama apa kerap menjadi fokus utama bagi para penikmat sejarah kerajaan Mataram Kuno di Indonesia. Banyak asumsi klasik menyebutkan bahwa wangsa ini murni menganut Hindu Siwa dan selalu terlibat perang agama melawan Wangsa Syailendra yang menganut Buddha. Namun, jika kita membedah silsilah wangsa sanjaya secara mendalam, dinamika religi di era tersebut jauh lebih kompleks, toleran, dan dinamis daripada sekadar narasi konflik hitam-putih.
Melalui artikel edukasi sejarah ini, saya akan mengajak Anda membedah lapis demi lapis bukti arkeologis, mulai dari masa pendirian, era pergeseran kekuasaan, hingga keruntuhan dan migrasi politik mereka.
Mari kita telusuri langkah demi langkah bagaimana karakter keagamaan Dinasti Sanjaya terbentuk dan memengaruhi lanskap peninggalan kerajaan hindu budha di indonesia. Langkah pertama untuk memahami karakter Dinasti Sanjaya beragama Hindu adalah dengan melacak titik mula pendiriannya oleh Raja Sanjaya.
Berdasarkan catatan yang tertulis pada Prasasti Canggal, Raja Sanjaya mendirikan Wangsa Sanjaya atau Kerajaan Mataram Kuno pada tahun 732 Masehi. Prasasti ini tidak hanya menjadi akta kelahiran politik wangsa, tetapi juga dokumen religius yang sangat kuat mengukuhkan identitas Hindu Siwa sang raja.
Dalam pengamatan saya terhadap teks-teks epigrafi Jawa Kuno, Prasasti Canggal secara eksplisit memuat pemujaan terhadap Dewa Siwa, Brahma, dan Wisnu. Tahun 732 menjadi momentum penting karena pada saat itu Sanjaya juga mendirikan sebuah lingga (lambang kesuburan Dewa Siwa) di bukit Sthirangga. Pendirian lingga ini menjadi instruksi visual yang jelas bagi rakyatnya bahwa legitimasi kekuasaan politik berakar kuat pada kosmologi Hindu Siwa.
Sebelum memegang takhta Mataram Kuno, Sanjaya memiliki hubungan erat dengan wilayah barat Jawa melalui silsilah keluarganya.
Pada tahun 702-709 M, tercatat masa pemerintahan Mandiminyak sebagai raja Galuh kedua, yang merupakan bagian dari akar kekerabatan Sanjaya. Ketika Raja Tarusbawa meninggal dunia pada tahun 723, Sanjaya menyatukan wilayah tersebut sebelum akhirnya memindahkan kekuasaan Sunda-Galuh kepada Rakryan Panaraban atau Tamperan. Setelah urusan di barat selesai, Sanjaya memegang kekuasaan di Kalingga selama 22 tahun, tepatnya pada kurun waktu tahun 732-754.
Dari basis kekuasaan di Kalingga inilah, corak keagamaan Hindu Siwa yang dianut Dinasti Sanjaya mulai mengakar kuat di bumi Jawa bagian tengah.
Langkah 2 Menganalisis Era Dualisme dan Toleransi dengan Wangsa Syailendra
Langkah kedua adalah melihat bagaimana Dinasti Sanjaya beragama Hindu berinteraksi dengan Dinasti Syailendra yang menganut Buddha Mahayana. Banyak kesalahan umum yang saya lihat di kalangan masyarakat yang menganggap bahwa perbedaan agama ini memicu perang saudara yang tiada henti.
Fakta sejarah justru menunjukkan adanya pola toleransi yang tinggi dan aliansi politik yang sangat erat di antara kedua wangsa tersebut. Pada abad ke-9, terjadi sebuah persilangan dinasti yang sangat penting ketika Raja Pikatan dari Wangsa Sanjaya menikah dengan Pramodhawardhani dari Wangsa Syailendra.
Pramodhawardhani memerintah pada kurun waktu tahun 833-856, sebuah era yang mencerminkan puncak sinkretisme Hindu-Buddha di Jawa Tengah. Pernikahan lintas agama ini membuktikan bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang bagi keberlangsungan administrasi pemerintahan Mataram Kuno. Di bawah payung pemerintahan yang sama, rakyat bebas mendirikan bangunan suci sesuai dengan keyakinan masing-masing tanpa ada diskriminasi sistematis.
Sebagai bukti nyata dari toleransi ini, berikut adalah pembagian corak peninggalan kerajaan hindu budha di indonesia berdasarkan pembagian wilayah kekuasaan dinasti di Jawa:
| Aspek Analisis | Wangsa Sanjaya | Wangsa Syailendra |
|---|---|---|
| Corak Keagamaan | Hindu Siwa | Buddha Mahayana |
| Wilayah Dominasi | Jawa Tengah Bagian Selatan | Jawa Tengah Bagian Utara |
| Fokus Arsitektur | Candi Prambanan dan Kimpulan | Candi Borobudur dan Kalasan |
| Simbol Utama | Lingga dan Yoni | Stupa dan Arca Buddha |
Melihat data di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa pembagian wilayah kekuasaan tidak bersifat kaku, melainkan lebih pada konsentrasi pembangunan pusat ibadah.
Raja-raja Sanjaya bahkan kerap memberikan kado berupa tanah perdikan (bebas pajak) untuk pemeliharaan bangunan suci agama Buddha milik dinasti tetangga.
Hal ini mematahkan stereotipe lama bahwa Dinasti Sanjaya beragama Hindu secara radikal menolak kehadiran umat Buddha di sekitar mereka.
Langkah 3 Membedah Struktur Arsitektur Candi Kimpulan UII
Langkah ketiga dalam memahami kedalaman religiusitas wangsa ini adalah dengan membedah situs arkeologis riil, salah satunya candi kimpulan uii. Candi ini memberikan gambaran langsung mengenai bagaimana ritual harian umat Hindu Dinasti Sanjaya dilakukan pada tingkat komunitas lokal. Pada tanggal 11 Desember 2009, terjadi penemuan candi kimpulan yogyakarta secara tidak sengaja melalui penggalian fondasi proyek perpustakaan kampus Universitas Islam Indonesia.
Situs purbakala ini terkubur di bawah tanah pada kedalaman posisi 2,7 meter hingga 5 meter akibat letusan dahsyat Gunung Merapi di masa lalu.
Berdasarkan analisis gaya ukiran dan bentuk arca, para ahli memperkirakan angka tahun pendirian candi kimpulan berada pada abad ke-9. Kurun waktu ini berada pada abad ke-9 sampai ke-10, sebuah era di mana raja yang bertahta di Jawa tengah berasal dari Dinasti Sanjaya.
Secara arsitektural, candi kimpulan uii memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan candi-candi besar seperti Prambanan. Candi ini tidak memiliki atap batu yang megah, melainkan berupa struktur batur terbuka dengan tiang-tiang yang diperkirakan dulunya terbuat dari kayu.
Di dalam bilik candi, penemu candi kimpulan yogyakarta mendapati arca Ganesha, arca Nandi, serta lingga dan yoni yang berukuran mini namun sangat halus buatannya. Keberadaan arca-arca tersebut menegaskan bahwa situs ini diposisikan sebagai tempat pemujaan harian bagi masyarakat agraris penganut Hindu Siwa. Penemuan candi kimpulan uii memperkaya khazanah silsilah wangsa sanjaya dalam konteks penyebaran tempat ibadah di luar pusat ibu kota kerajaan.
Langkah 4 Menelusuri Puncak Kejayaan dan Pembangunan Candi Roro Jonggrang
Langkah keempat adalah menganalisis fase konsolidasi politik ketika Wangsa Sanjaya kembali memegang kendali penuh atas seluruh wilayah Mataram Kuno.
Pertanyaan yang sering muncul di benak masyarakat adalah "candi roro jonggrang dibangun oleh siapa dan apa tujuan politis di baliknya?" Pada tahun 850, Raja Pikatan bersama Balitung mendirikan Candi Prambanan, yang dalam legenda lokal sering disebut sebagai Candi Roro Jonggrang. Pembangunan megaproyek ini dilakukan tepat setelah Wangsa Sanjaya kembali menjadi satu-satunya pemerintah Mataram pasca digulingkannya Balaputradewa dari Jawa.
Balaputradewa yang kalah dalam perebutan takhta kemudian menyingkir ke Sumatra dan melanjutkan kepemimpinannya di tanah seberang.
Di sanalah ia memperkuat asal usul kerajaan sriwijaya yang sudah muncul dan berkembang di wilayah Sumatra sejak abad ke-7. Kerajaan Sriwijaya sendiri pada abad ke-7 M telah berhasil menguasai jalur perdagangan maritim strategis di Selat Sunda, Selat Malaka, Selat Bangka, dan Laut Jawa.
Kembali ke Jawa, pembangunan Candi Prambanan pada abad ke-9 (Era Pramodhawardhani: 833-856) mengusung misi teologis yang sangat masif. Prambanan dirancang sebagai tandingan visual terhadap kemegahan Candi Borobudur yang dibangun oleh Wangsa Syailendra sebelumnya.
Melalui kemegahan arsitektur tiga candi utama yang didedikasikan untuk Trimurti, Dinasti Sanjaya ingin mempertegas kembali identitas Hindu Siwa sebagai agama resmi negara. Candi Roro Jonggrang menjadi monumen politik yang menyatakan bahwa Dinasti Sanjaya beragama Hindu telah memulihkan otoritas penuh mereka atas tanah Jawa.
Langkah 5 Menemukan Alasan Migrasi Politik dan Agama ke Jawa Timur
Langkah kelima sekaligus langkah terakhir dalam rekonstruksi sejarah ini adalah melacak akhir dari fase Jawa Tengah dan perpindahan pusat kekuasaan.
Banyak peneliti pemula yang bingung dan bertanya "kenapa mataram kuno pindah ke jawa timur setelah mencapai puncak kejayaan arsitekturalnya?" Jawabannya terletak pada dinamika alam dan stabilitas politik yang terjadi pada awal abad ke-10 di bawah kepemimpinan dinasti baru. Pada tahun 928, Mpu Sindok mengambil keputusan besar untuk memindahkan istana Kerajaan Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur (Medang).
Faktor utama kepindahan ini adalah letusan dahsyat Gunung Merapi yang merusak sebagian besar infrastruktur kerajaan dan menimbun candi-candi seperti Kimpulan.
Selain faktor alam, ancaman serangan militer dari Kerajaan Sriwijaya yang berbasis di Sumatra juga menjadi pertimbangan keamanan yang sangat krusial. Di tempat baru inilah, Wangsa Sanjaya mengalami pergeseran genetik politik menjadi Wangsa Isyana di bawah kendali penuh Mpu Sindok.
Perpindahan ke Jawa Timur ini juga membawa dampak signifikan terhadap perkembangan corak Dinasti Sanjaya beragama di masa-masa berikutnya. Di Jawa Timur, toleransi antara Hindu Siwa dan Buddha tumbuh semakin erat hingga melahirkan konsep sinkretisme Siwa-Buddha yang sangat khas.
Konsep religi terpadu inilah yang nantinya diadopsi oleh kerajaan-kerajaan besar penerus Mataram Kuno, seperti Singasari dan Majapahit. Evolusi religius dari zaman Sanjaya hingga Mpu Sindok membuktikan bahwa karakter keagamaan leluhur nusantara tidak pernah bersifat statis. Karakter Dinasti Sanjaya beragama Hindu Siwa yang toleran menjadi fondasi kokoh bagi keberagaman budaya yang kita warisi di Indonesia saat ini.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow