Kenapa Kerajaan Singasari Bisa Hancur dalam Semalam pada Tahun 1292
Banyak peminat sejarah penasaran mengenai "kenapa kerajaan singasari bisa hancur" secara mendadak saat berada di puncak kejayaannya. Kerajaan yang perkasa ini runtuh akibat kombinasi fatal antara kelalaian strategi internal dan tekanan militer dari luar.
Memahami penyebab runtuhnya Kerajaan Singasari menuntut kita untuk melihat bagaimana keputusan politik domestik berinteraksi dengan dinamika geopolitik global pada akhir abad ke-13.
Dari pengalaman saya menganalisis narasi sejarah nusantara, keruntuhan sebuah dinasti besar jarang sekali disebabkan oleh satu faktor tunggal melainkan runtutan blunder yang dimanfaatkan oleh musuh dalam selimut.
Sejarah Kerajaan Singasari dimulai pada tahun 1222 ketika didirikan oleh Ken Arok di daerah Singosari, Malang, Jawa Timur. Kerajaan ini tumbuh menjadi kekuatan yang diperhitungkan di jawadwipa selama beberapa dekade berikutnya.
Singasari mencapai masa puncak kejayaan antara tahun 1272–1292 Masehi di bawah pemerintahan Raja Kertanegara. Ia merupakan sosok penguasa yang visioner, ambisius, sekaligus menjadi siapa raja terakhir kerajaan singasari.
Kertanegara memimpikan penyatuan nusantara melalui ekspedisi cakrawala mandala, sebuah ambisi yang sayangnya justru menguras pertahanan dalam negeri dan membuka celah kehancuran bagi dinastinya sendiri.
Faktor Eksternal: Ancaman Global dari Kekaisaran Mongol
Faktor luar yang mengguncang stabilitas Singasari adalah tekanan dari dinasti Yuan di China yang dipimpin oleh Kubilai Khan. Ketegangan ini memuncak ketika utusan Mongol diperlakukan dengan buruk di istana Singasari.
Alasan Kubilai Khan Mengirim Pasukan Ke Jawa
Terdapat alasan kubilai khan menyerang singasari yang sangat spesifik, yaitu penolakan Kertanegara untuk tunduk dan membayar upeti kepada kekaisaran Mongol. Kubilai Khan tercatat mengirimkan utusan atau pasukannya ke Singasari pada tahun 1280 dan 1281 Masehi untuk menuntut kepatuhan.
Kertanegara merespons tuntutan tersebut dengan tindakan ekstrem, yaitu melukai wajah utusan Mongol yang bernama Meng Qi sebagai simbol penolakan keras terhadap dominasi asing.
Tindakan provokatif ini memicu kemarahan besar Kubilai Khan, yang segera mempersiapkan armada militer besar-besaran untuk menghukum penguasa Singasari tersebut.
Dampak Pengiriman Pasukan Ekspedisi Pamalayu
Menghadapi ancaman Mongol, Kertanegara mengambil kebijakan militer dengan mengirimkan sebagian besar pasukan terbaik Singasari ke luar Jawa dalam ekspedisi Pamalayu. Strategi ini bertujuan untuk menggalang aliansi di Sumatra dan membendung pengaruh Mongol sebelum mencapai Jawa.
Namun, keputusan mengirimkan pasukan dalam jumlah besar ke luar pulau ini menyisakan pertahanan istana di Malang dalam kondisi yang sangat rapuh dan kosong.
Dalam analisis taktik militer, pengosongan basis pertahanan utama demi operasi luar negeri tanpa deteksi intelijen domestik yang kuat adalah kesalahan fatal yang sering berujung pada kudeta.
Faktor Internal: Kudeta dan Pemberontakan Jayakatwang
Ketika pertahanan ibu kota melemah, ancaman paling mematikan justru datang dari dalam negeri sendiri. Pemberontakan Jayakatwang, penguasa Kediri yang merupakan wilayah taklukan Singasari, menjadi hantaman terakhir yang meruntuhkan dinasti ini.
Konspirasi Arya Wiraraja dan Strategi Dua Arah
Jayakatwang tidak bergerak sendirian melainkan mendapat dorongan dan saran taktis dari Arya Wiraraja, seorang penasihat yang sakit hati karena dimutasi menjadi Adipati Sumenep. Arya Wiraraja mengetahui dengan pasti bahwa pertahanan istana Singasari sedang kosong karena pasukan dikirim ke Sumatra.
Berdasarkan catatan sejarah, Arya Wiraraja menyarankan waktu serangan pada pertengahan Mei dan Juni 1292. Ia juga merancang taktik jebakan dua arah (supit urang) untuk mengelabui pasukan pertahanan Singasari yang tersisa.
Pasukan pemberontak dibagi menjadi dua: pasukan kecil melakukan pengepohan dari arah utara untuk memancing keluar sisa tentara Singasari, sementara pasukan utama yang berkekuatan penuh menyerbu dari arah selatan menuju jantung ibu kota.
Gugurnya Kertanegara di Tengah Upacara
Taktik pengalihan tersebut berhasil sepenuhnya karena Kertanegara mengirim sisa pasukan yang dipimpin oleh menantunya, Raden Wijaya, untuk menghadang musuh di bagian utara. Istana yang tanpa penjagaan ketat langsung diserbu oleh pasukan utama Jayakatwang dari selatan.
Kertanegara tewas terbunuh di dalam istananya sendiri saat sedang melaksanakan upacara keagamaan bersama para pendeta. Peristiwa tragis pada tahun 1292 Masehi ini menandai runtuhnya Kerajaan Singasari secara de facto dan de jure.
Seringkali keruntuhan sebuah kekuasaan besar tidak terjadi karena kuatnya gempuran musuh dari luar, melainkan karena penguasa terlalu sibuk melihat ke cakrawala jauh hingga mengabaikan belati yang sedang diasah oleh kerabat di dalam rumah sendiri.
Kronologi dan Data Runtuhnya Singasari
Untuk memudahkan pemahaman mengenai linimasa dan referensi sejarah terkait runtuhnya kerajaan ini, berikut adalah rangkuman data historis berdasarkan catatan para ahli sejarah terkemuka.
| Tahun Peristiwa | Tokoh Utama | Kejadian Penting | Sumber Referensi Buku |
|---|---|---|---|
| 1222 | Ken Arok | Pendirian Kerajaan Singasari | Danik Isnaini (2019) |
| 1272–1292 Masehi | Raja Kertanegara | Masa Puncak Kejayaan Singasari | Sutarto Saputro (2019) |
| 1280 dan 1281 Masehi | Kubilai Khan | Pengiriman Utusan Mongol ke Jawa | Amir Hendarsah |
| Mei–Juni 1292 | Arya Wiraraja & Jayakatwang | Serangan Kudeta Istana Singasari | M.D. Poesponegoro (2008) |
| 1292 Masehi | Jayakatwang | Runtuhnya Kerajaan Singasari | Danik Isnaini (2019) |
| 1293 Masehi | Raden Wijaya | Deklarasi Berdirinya Kerajaan Majapahit | M.D. Poesponegoro (2008) |
Lahirnya Kemaharajaan Majapahit dari Puing Singasari
Kehancuran Singasari pada tahun 1292 tidak serta-merta menghapus trah wangsa Rajasa. Raden Wijaya, menantu Kertanegara yang selamat dari pembantaian, berhasil melarikan diri ke Madura untuk meminta perlindungan kepada Arya Wiraraja.
Melalui taktik diplomasi yang cerdik, Raden Wijaya berpura-pura menyerah kepada Jayakatwang dan meminta sebidang tanah di hutan Tarik, Mojokerto, sebagai daerah hunian yang nantinya dinamakan Majapahit.
Hubungan Raden Wijaya dan Kertanegara yang erat sebagai menantu memicu komitmen kuat untuk membalaskan dendam mertuanya sekaligus merebut kembali takhta yang sah dari tangan pemberontak Kediri.
Kesempatan itu datang pada tahun 1293 Masehi ketika pasukan Mongol kiriman Kubilai Khan tiba di Jawa untuk menghukum Kertanegara. Raden Wijaya memanfaatkan situasi ini dengan cerdas dengan cara bersekutu dengan pasukan Mongol untuk menghancurkan Jayakatwang terlebih dahulu.
Setelah Jayakatwang berhasil ditumpas, Raden Wijaya berbalik menyerang pasukan Mongol secara mendadak hingga mereka terpaksa mundur dan angkat kaki dari tanah Jawa. Pada tahun 1293 Masehi itu juga, Raden Wijaya mendeklarasikan berdirinya Kerajaan Majapahit di Mojokerto dan menobatkan diri menjadi raja pertama.
Kejatuhan Singasari menjadi pelajaran berharga dalam ilmu tata negara bahwa stabilitas domestik harus selalu berjalan selaras dengan ambisi ekspansi geopolitik luar negeri agar tidak menciptakan ruang kosong bagi pengkhianatan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow